Keluarga

Anak pelaut TNI AL gugur diterjang gelombang, sang istri: 'Dia pergi saat lindungi kami'

18 Juli 2026 Yogyakarta 4 views

Sertu Bahari, seorang pelaut TNI AL, gugur saat menyelamatkan anaknya dari terjangan gelombang di Pantai Parangtritis. Istrinya, Dwi, mengenang suaminya sebagai pahlawan keluarga yang hingga akhir hayat mengutamakan keselamatan orang-orang tercinta. Meski duka menyelimuti, dukungan dan cerita keberanian sang ayah menjadi kekuatan untuk melangkah ke depan.

Anak pelaut TNI AL gugur diterjang gelombang, sang istri: 'Dia pergi saat lindungi kami'

Liburan awal tahun yang seharusnya membawa riuh tawa bagi keluarga kecil Sertu Bahari tiba-tiba berubah menjadi duka paling kelam di Pantai Parangtritis, Yogyakarta. Prajurit TNI AL berusia 32 tahun itu tengah menikmati hangatnya kebersamaan bersama istri, Dwi (30), dan kedua anak mereka yang masih belia. Siapa yang menyangka, gelombang tinggi yang datang tiba-tiba akan merenggut kebahagiaan sederhana itu sekaligus mengukir kisah heroik yang menyayat hati. Seorang pelaut yang kesehariannya akrab dengan lautan, justru gugur di tengah deburan ombak yang sama—bukan di medan tugas, melainkan saat melindungi keluarganya sendiri.

Naluri Pelaut, Hati Seorang Ayah

Menurut saksi mata, saat gelombang besar menghantam, anak bungsu keluarga itu terseret arus. Tanpa berpikir panjang, Sertu Bahari terjun ke dalam pusaran air. Ia berenang sekuat tenaga, mencengkeram tubuh kecil buah hatinya, dan mendorongnya ke tepi pantai. Sang anak selamat. Namun, gelombang susulan yang lebih ganas tak memberi ampun. Tenaga sang ayah terkuras, dan ombak menelannya. “Suami saya benar-benar pahlawan bagi keluarga. Sampai akhir hayatnya ia memikirkan keselamatan kami,” kenang Dwi dengan suara tercekat. Sebagai seorang pelaut, Sertu Bahari pasti tahu risiko berhadapan dengan gelombang laut, tetapi sebagai seorang ayah, ia memilih untuk menaklukkan rasa takut demi nyawa anaknya. Ia gugur dengan cara paling mulia: menjadi tameng bagi keluarga yang dicintainya.

Kehilangan itu meninggalkan luka yang begitu dalam, terutama bagi Dwi dan kedua anak mereka—si sulung berusia tujuh tahun dan adiknya yang baru lima tahun. Di rumah yang mendadak sepi, pelukan Dwi menjadi benteng terakhir bagi anak-anak yang mungkin belum sepenuhnya mengerti mengapa ayah mereka tak lagi pulang. Meski air mata masih sering mengalir, Dwi tak ingin anak-anaknya tumbuh dalam bayang-bayang kesedihan semata. “Saya akan ceritakan pada anak-anak bahwa ayah mereka gugur dengan gagah berani. Mereka harus tahu bahwa ayah adalah pelindung sejati,” ujarnya. Bagi Dwi, cerita tentang kepahlawanan suaminya akan menjadi warisan yang jauh lebih berharga daripada duka yang berkepanjangan.

Transformasi Duka Menjadi Kekuatan

Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Yogyakarta merespons cepat peristiwa itu. Pemakaman militer yang khidmat digelar sebagai penghormatan terakhir bagi prajurit yang gugur di “medan perang” paling pribadinya. Santunan dan pendampingan rutin pun disalurkan untuk Dwi serta kedua buah hati mereka. Dukungan dari rekan-rekan almarhum di TNI AL dan para tetangga mengalir, menjadi pengingat bahwa keluarga kecil ini tidak sendiri. Di balik seragam pelaut, ada seorang suami dan ayah yang kehilangannya terasa begitu besar, namun solidaritas yang hadir perlahan mengubah duka menjadi bahan bakar untuk bangkit. Dwi mulai menata hari-hari baru, mencoba tegar demi anak-anak yang masih membutuhkan pelukan dan cerita tentang ayah yang pemberani.

Setiap kali menatap laut dari kejauhan, mungkin Dwi teringat kembali amukan ombak yang merenggut sang pujaan hati. Namun ia pun sadar, di sana pula suaminya menempa diri sebagai pelaut yang tangguh—sebuah profesi yang penuh pengorbanan, sama halnya dengan ikatan keluarga prajurit. Kini, Dwi menjadi nahkoda di rumah sendiri: memastikan anak-anaknya memahami bahwa ayah mereka pergi bukan karena kalah, melainkan karena memilih untuk menang demi keselamatan orang-orang yang dicintainya. Kisah Sertu Bahari bukan semata tentang prajurit yang gugur, tetapi tentang seorang ayah yang menjadikan keluarga sebagai alasan paling kuat untuk berjuang hingga titik terakhir. Sebuah refleksi bahwa di balik setiap seragam, ada hati yang siap berkurban untuk dua arah pengabdian: pada negara dan pada keluarga tercinta.

Entitas yang disebut

Orang: Bahari, Dwi

Organisasi: TNI AL, Lanal Yogyakarta

Lokasi: Pantai Parangtritis, Yogyakarta

Bacaan terkait

Artikel serupa