Kisah TNI
Ditinggal Suami Tugas ke Lebanon, Istri Prajurit TNI AD Bangkit Lewat Usaha Katering
Sri Wahyuni (35), istri Serma Deni Kurniawan yang bertugas di Satgas Garuda XXVI Lebanon, harus berjuang melawan rasa sepi dan cemas setiap hari. Ditinggal suami dalam situasi Timur Tengah yang memanas, ia tinggal di Komplek TNI AD Cimahi dan kerap merasa khawatir. Untuk mengalihkan pikiran, ia mulai menekuni hobi memasak di dapur kecilnya. Apa yang awalnya hanya pelipur lara kemudian tumbuh menjadi usaha katering rumahan berkat dorongan rekan-rekan di Persit (Persatuan Istri Tentara).
Dengan bekal pelatihan wirausaha dari TNI AD, modal tabungan pribadi, serta pinjaman lunak koperasi Persit, Sri belajar mengelola usaha mulai dari perencanaan menu hingga pembukuan. Kini ia melayani puluhan pesanan katering setiap hari dengan menu rumahan yang terjangkau. Lebih dari itu, ia juga merekrut tiga tetangga sesama istri prajurit yang ditinggal tugas suami, menjadikan usahanya sebagai ruang saling menguatkan. Bagi Sri, dapur bukan sekadar tempat memasak, melainkan ruang terapi hati yang membantunya bangkit dan mandiri saat suami tengah menjalankan tugas negara.
Di balik senyumnya yang merekah, Sri Wahyuni (35) menyimpan cerita panjang tentang rindu yang dirajut setiap hari. Ia adalah seorang istri prajurit TNI AD yang harus merelakan suaminya, Serma Deni Kurniawan, bertugas sebagai bagian dari Satgas Garuda XXVI di Lebanon. Tinggal di Komplek TNI AD Cimahi, Sri kerap bergulat dengan sunyi. Jarak ribuan kilometer terasa semakin mencekik setiap kali berita tentang situasi Timur Tengah yang memanas menyapa layar ponselnya. Di tengah kekhawatiran yang menghantui, ia menemukan bahwa cemas dan rindu tak boleh membuatnya lumpuh. Justru dari sanalah, sebuah kekuatan baru perlahan tumbuh, mengubah rasa sepinya menjadi energi untuk bertumbuh.
Dari Pelipur Lara Menjadi Dapur Penghidupan
Mulanya, dapur hanyalah tempat bagi Sri untuk mengalihkan pikiran. Hobi memasaknya menjadi semacam obat bagi hati yang gelisah. Setiap kali tangan sibuk mengaduk bumbu atau menata lauk, pikirannya teralihkan sejenak dari bayang-bayang bahaya yang mungkin dihadapi suaminya. Namun, dukungan dari rekan-rekan sesama istri prajurit di kelompok Persit (Persatuan Istri Tentara) menyulut semangat baru. “Saya dapat banyak motivasi dari ibu-ibu Persit. Mereka mengingatkan saya bahwa sebagai istri prajurit, kita harus bisa mandiri, terutama saat suami sedang menjalankan tugas negara,” kenang Sri. Dengan bekal pelatihan wirausaha yang difasilitasi TNI AD, ia belajar mengelola usaha kecil—mulai dari merencanakan menu hingga pembukuan sederhana. Modal awalnya berasal dari tabungan pribadi dan pinjaman lunak koperasi Persit. Kini, dari dapur mungilnya, usaha katering itu melayani puluhan pesanan setiap hari dengan menu rumahan yang terasa begitu hommy dan terjangkau.
Ruang Terapi di Antara Aroma Masakan
Rumah Sri kini lebih dari sekadar basis produksi usaha katering. Setiap sore, aromanya bercampur dengan tawa dan obrolan ringan. Ada kekuatan besar di sana. Sri tak berjuang sendirian; ia merekrut tiga tetangga yang juga merupakan istri prajurit yang ditinggal tugas suami. Momen-momen itu menjadi ruang terapi yang tak ternilai harganya. “Di sini kami saling mengingatkan bahwa kami tidak sendirian. Suami kami mungkin jauh di Lebanon atau tempat lain, tapi kami tetap bisa saling menjaga satu sama lain,” ucap Sri dengan mata berbinar. Kelelahan fisik setelah seharian memasak dan mengemas pesanan terbayar oleh kebersamaan yang menumbuhkan ketahanan emosional. Usaha ini bukan hanya menambah penghasilan keluarga, tetapi juga membangun fondasi dukungan tak kasatmata bagi kehidupan para prajurit dan orang-orang yang mereka cintai.
Bagi Sri, dapur kini menjelma menjadi bukti bahwa kemandirian ekonomi tidak harus melunturkan peran sebagai ibu rumah tangga, melainkan justru memperkukuhnya. Setiap langkah di dapur adalah wujud cinta dan dukungan bagi suami yang sedang mengabdi di negeri orang. Perjalanan merintis usaha katering ini menjadi bukti bahwa di balik setiap perpisahan, selalu ada ruang untuk bertumbuh. Harapannya sederhana: agar cerita ini bisa menjadi inspirasi bahwa di tengah pengorbanan seorang istri prajurit, selalu ada harapan, kekuatan, dan cara untuk saling menguatkan tanpa harus kehilangan makna keluarga yang sesungguhnya.
", "ringkasan_html": "Di tengah rasa rindu dan cemas ditinggal suami bertugas sebagai prajurit di Lebanon, Sri Wahyuni bangkit dan menemukan kekuatan melalui usaha katering rumahan. Berawal dari hobi memasak untuk mengusir sepi, usaha ini kini menjadi sumber penghasilan sekaligus ruang terapi yang menguatkan ia dan sesama istri prajurit. Kisahnya membuktikan bahwa kemandirian mampu menumbuhkan ketahanan emosional di tengah pengorbanan keluarga prajurit.
" }Entitas yang disebut
Orang: Sri Wahyuni, Deni Kurniawan
Organisasi: TNI AD, Satgas Garuda XXVI, Persit
Lokasi: Lebanon, Cimahi, Timur Tengah