Kisah TNI

Doa Bersama Istri Prajurit TNI AD di Lebanon: Puasa dan Qiyamul Lail Demi Keselamatan Suami di Misi Perdamaian PBB

06 Juli 2026 Tangerang, Banten 6 views

Di Markas Yonif Mekanis 203/Arya Kemuning, Tangerang, istri prajurit TNI AD yang bertugas di misi perdamaian PBB di Lebanon rutin menggelar doa bersama dan qiyamul lail setiap malam Jumat untuk memohon keselamatan suami. Kegiatan ini menjadi sumber kekuatan spiritual di tengah kecemasan, didukung layanan konseling daring dua kali seminggu. Salah satu istri, Rini, yang sedang hamil, terus mendoakan sang suami agar bisa menyaksikan kelahiran anak pertama mereka.

Doa Bersama Istri Prajurit TNI AD di Lebanon: Puasa dan Qiyamul Lail Demi Keselamatan Suami di Misi Perdamaian PBB

Di sudut Markas Batalyon Infanteri Mekanis 203/Arya Kemuning, Tangerang, Banten, setiap malam Jumat tidak lagi sekadar pergantian hari. Ruangan itu menjelma menjadi ruang sunyi yang sarat akan harapan. Puluhan istri prajurit TNI AD yang suaminya tergabung dalam Satuan Tugas Konga XXVI-L UNIFIL berkumpul, meneguhkan hati dalam lantunan doa bersama dan qiyamul lail. Mereka bukan sekadar menunggu kabar dari tanah operasi, melainkan menitipkan seluruh cemas, rindu, dan cinta untuk para suami yang tengah menjalankan misi perdamaian PBB di Lebanon Selatan. Sudah empat bulan lamanya, rutinitas sakral ini berjalan tanpa putus, dipimpin langsung oleh Ny. Dewi Anggraini, seorang perempuan berusia 35 tahun yang menjadi koordinator Persit Kartika Chandra Kirana KCK Cabang XXVI.

Mengetuk Langit di Tengah Kecemasan

Setiap kali berita tentang konflik di Timur Tengah menyeruak, hati para istri prajurit ini seketika ciut. Gejolak di Lebanon Selatan bukanlah sekadar berita di layar kaca, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan suami tercinta. Namun, alih-alih tenggelam dalam ketakutan yang dapat mengikis mental, mereka memilih untuk bangkit secara spiritual. Ny. Dewi Anggraini menuturkan dengan suara yang teguh, “Kami di sini hanya bisa mendoakan. Setiap berita tentang konflik di Timur Tengah membuat hati kami ciut. Tapi kami percaya, doa ibu-ibu dan istri mampu menembus batas langit.” Doa bersama yang mereka ikuti menjadi bukti nyata, bahwa ketika jarak ribuan kilometer membentang, ikatan batin justru semakin terajut erat. Program pendampingan spiritual yang akrab disebut ‘Srikandi Penjaga Hati’ ini, tak hanya berfokus memohon keselamatan sang suami, tetapi juga meminta ketabahan agar mereka tetap tegak berdiri menjadi pilar keluarga di rumah.

Di antara para perempuan tangguh itu, kisah Ny. Rini Kurniasih begitu menyentuh dan sulit dilupakan. Di usia 28 tahun, ia tengah mengandung anak pertama mereka ketika sang suami harus berpamitan untuk berangkat ke Lebanon. Dalam setiap sujud panjang yang diiringi qiyamul lail, air matanya kerap menetes tanpa terbendung. Rasa rindu yang bercampur cemas ia peluk dalam diam. “Saya ingin suami saya melihat langsung kelahiran anaknya, tapi tugas negara adalah prioritas. Semoga Allah melindunginya,” ucap Rini lirih, seolah merangkai permohonan yang amat dalam, menyadari bahwa jawaban atas doanya tak selalu hadir dalam wujud kepastian. Bagi Rini dan puluhan istri lainnya, doa telah menjadi kompas spiritual yang menuntun emosi. Doa menjembatani kerentanan dengan kekuatan, serta mengubah kerinduan yang menganga menjadi keikhlasan yang lapang. Mereka paham, pengabdian suami adalah panggilan mulia untuk menjaga misi perdamaian, namun sebagai manusia biasa, hati mereka tetap butuh tempat untuk bersandar.

Kekuatan yang Dirajut dari Tanah Air

Tidak hanya bersandar pada doa, dukungan psikologis dari keluarga besar TNI AD turut menjadi fondasi penting dalam menjaga ketahanan mental. Layanan konseling daring yang diadakan dua kali seminggu menjadi ruang aman bagi para istri untuk berbagi cerita, melepas lelah batin, dan saling menguatkan. Dalam sesi-sesi itu, mereka belajar bahwa menjadi istri prajurit bukan berarti harus membendung semua rasa sendirian. Ada jejaring kasih yang siap merangkul. Kombinasi antara ikhtiar spiritual dan dukungan psikologis ini membentuk tameng emosional yang kokoh. Para istri tidak hanya bertahan, namun juga bertumbuh menjadi pribadi yang lebih tabah. Mereka menyadari bahwa di balik seragam loreng yang dikenakan suami, ada keluarga yang menyokong dari kejauhan. Doa menjadi napas penghubung, sementara layanan konseling menjadi jangkar di tengah gelombang kerinduan.

Malam-malam doa di Tangerang itu adalah potret ketulusan yang jarang tersorot. Di sana, para perempuan tangguh ini merajut kekuatan dari tanah air, melewati hari-hari dengan keyakinan bahwa cinta dan doa tidak mengenal batas geografis. Bagi mereka, pengabdian suami dalam misi perdamaian PBB adalah kebanggaan yang harus dijalani dengan hati yang penuh, sekalipun air mata kerap menemani. Dan di setiap sujud panjang, mereka menitipkan pesan kepada Sang Kuasa: lindungi suami kami, pulangkan dengan selamat, dan kuatkanlah kami yang menanti.

Entitas yang disebut

Orang: Dewi Anggraini, Rini Kurniasih

Organisasi: TNI AD, Satgas Konga XXVI-L UNIFIL, PBB, Persit Kartika Chandra Kirana KCK Cabang XXVI, Batalyon Infanteri Mekanis 203/Arya Kemuning

Lokasi: Tangerang, Banten, Lebanon Selatan, Timur Tengah, Markas Batalyon Infanteri Mekanis 203/Arya Kemuning

Bacaan terkait

Artikel serupa