Keluarga

Dukungan Penuh Yayasan Kartika Eka Paksi untuk Anak Prajurit yang Kehilangan Ayah di Papua

13 Juni 2026 Jayapura, Papua 2 views

Pekan lalu, suasana haru mewarnai Markas Kodam XVII/Cenderawasih saat Naura, gadis 10 tahun putri almarhum Sertu Denny, menerima beasiswa penuh dari Yayasan Kartika Eka Paksi. Sertu Denny gugur dua tahun silam dalam kontak senjata di Kabupaten Nduga, Papua, meninggalkan duka mendalam bagi istri dan kedua anaknya. Beasiswa ini hadir sebagai titik terang di tengah masa sulit, menjadi jaminan pendidikan yang mengusir kecemasan keluarga yang ditinggalkan sang kepala rumah tangga.

Kehilangan suami sekaligus ayah dari anak-anaknya memaksa Widi, sang istri, untuk berjuang seorang diri sebagai tulang punggung keluarga dengan bekerja serabutan. Di balik ketegarannya, tersimpan cemas yang mendalam tentang bagaimana membiayai sekolah dan mewujudkan cita-cita Naura yang ingin menjadi dokter. Kisah Widi merupakan potret sunyi yang dialami banyak istri prajurit yang harus melanjutkan hidup tanpa pasangan, menyimpan kekhawatiran serupa tentang masa depan anak-anak mereka.

Melihat kondisi tersebut, Yayasan Kartika Eka Paksi di bawah naungan TNI Angkatan Darat tidak hanya memberikan beasiswa pendidikan hingga perguruan tinggi bagi Naura dan adiknya. Lebih dari itu, yayasan ini juga memberikan pendampingan psikososial bagi Widi dan para istri prajurit lainnya. Bantuan ini merupakan wujud tanggung jawab dan pelukan hangat dari keluarga besar TNI AD untuk memastikan bahwa keluarga prajurit yang telah menyerahkan nyawa demi kedaulatan negeri tidak berjalan sendiri dalam meraih masa depan.

Dukungan Penuh Yayasan Kartika Eka Paksi untuk Anak Prajurit yang Kehilangan Ayah di Papua
{ "konten_html": "

Di balik dinding Markas Kodam XVII/Cenderawasih yang biasanya diisi rutinitas disiplin para prajurit, suasana haru dan hangat tiba-tiba merekah. Seorang gadis kecil bernama Naura, 10 tahun, melangkah dengan senyum malu-malu. Di tangannya, selembar surat keputusan beasiswa dari Yayasan Kartika Eka Paksi menjadi jawaban atas doa-doanya selama dua tahun terakhir. Ayahnya, Sertu Denny, gugur dalam kontak senjata di Kabupaten Nduga, Papua, meninggalkan duka mendalam dan ruang kosong yang tak tergantikan. Kini, beasiswa itu hadir bagai pelukan hangat yang mengusir sebagian gelisah tentang masa depan, memberi titik terang di tengah perjuangan ibunya, Widi, yang harus menjadi tulang punggung keluarga seorang diri.

Ketegaran Seorang Ibu di Balik Duka Sunyi

Menjadi istri prajurit yang bertugas di daerah rawan bukanlah pilihan ringan. Setiap detik adalah lantunan doa, setiap kabar adalah degup cemas. Ketika kabar gugur itu datang, dunia Widi seolah runtuh. Sertu Denny bukan hanya penjaga kedaulatan di Papua, melainkan juga pendongeng ulung bagi Naura dan adiknya, lelaki yang biasa menggendong mereka bergantian sebelum tidur. Kini, dua tahun berlalu, Widi harus mengisi dua peran sekaligus. \"Kadang saya suka takut sendiri, bagaimana biaya mereka besok, bagaimana cita-cita Naura yang ingin jadi dokter,\" kisahnya dengan suara bergetar. Di balik wajah tegar yang ia pasang setiap hari, tersimpan cemas yang hanya ia adukan dalam sujud malam. Bekerja serabutan, mengatur keuangan dengan sangat ketat, semua dijalani demi memastikan anak-anaknya tetap bisa bersekolah dan bermimpi.

Beasiswa yang Menjadi Jembatan Cita-cita

Kehadiran Yayasan Kartika Eka Paksi tidak hanya membawa jaminan biaya pendidikan hingga perguruan tinggi. Lebih dari itu, mereka menggandeng para istri prajurit yang ditinggalkan dengan pendampingan psikososial, seolah berkata, \"Kamu tidak sendiri.\" Nyonya Dina Setyo, Ketua Yayasan yang juga istri Pangdam, menyampaikan dengan kehangatan, \"Ini adalah wujud tanggung jawab kami kepada keluarga prajurit yang telah menyerahkan nyawa demi NKRI. Anak-anak mereka adalah anak-anak kami juga.\" Ucapan itu bukan sekadar retorika; ia mewakili pengertian mendalam bahwa menjadi janda prajurit gugur adalah bab yang sangat menantang, penuh tanya tentang bagaimana menjaga mimpi-mimpi kecil tetap menyala. Bagi Naura, beasiswa ini membuka jalan menuju cita-citanya menjadi dokter—sebuah janji yang dulu sering ia bisikkan kepada sang ayah sebelum bertugas di Papua.

Air mata Widi tak terbendung saat menerima kabar itu. \"Saya yakin suami saya tersenyum di sana. Naura ingin jadi dokter, dan sekarang jalannya semakin terbuka. Terima kasih saya tidak ada habisnya,\" ucapnya lirih. Di balik kata-katanya, kita diingatkan bahwa pengorbanan seorang prajurit dan keluarganya tak pernah berhenti di medan tugas. Ia berlanjut di dapur yang sepi, di meja belajar yang harus terus diisi, dan di dalam hati para istri yang berjuang menjadi ayah sekaligus ibu. Keluarga besar TNI AD, melalui yayasannya, membuktikan bahwa ikatan persaudaraan melampaui batas dinas. Bahwa dalam setiap kehilangan, selalu ada tangan-tangan yang siap memeluk, memastikan anak-anak para pahlawan tetap dapat meraih bintang mereka. Kisah dari sudut Markas Kodam ini adalah pengingat yang lembut: negeri ini berdiri di atas pundak keluarga-keluarga yang tak henti mengasihi, meski luka kadang menyapa dalam sunyi.

", "ringkasan_html": "

Naura, putri Sertu Denny yang gugur di Papua, menerima beasiswa penuh dari Yayasan Kartika Eka Paksi. Dukungan ini menjadi titik terang bagi ibunya, Widi, yang berjuang seorang diri menghidupi keluarga dan menjaga cita-cita anak-anaknya. Kisah ini menggambarkan pengorbanan sunyi keluarga prajurit sekaligus kehangatan solidaritas yang memastikan masa depan anak-anak mereka tak terhenti.

" }

Entitas yang disebut

Orang: Naura, Sertu Denny, Widi, Ny. Dina Setyo

Organisasi: Yayasan Kartika Eka Paksi, TNI AD, TNI, Kodam XVII/Cenderawasih

Lokasi: Papua, Kabupaten Nduga, Markas Kodam XVII/Cenderawasih, NKRI

Bacaan terkait

Artikel serupa