Inspirasi
Hari Ibu: Istri Prajurit TNI AL yang Berjualan Kue Kering Sukses Bantu Ekonomi Keluarga dan Dapat Penghargaan
Nurul Hidayah, istri prajurit TNI AL, menerima penghargaan pada Hari Ibu 2024 berkat usahanya merintis UMKM kue kering dari dapur rumah dinas. Bisnisnya kini menampung 15 istri prajurit dan janda, bahkan menembus pasar ekspor. Kisahnya menjadi inspirasi tentang kemandirian dan ketahanan emosional keluarga prajurit di tengah jarak dan rindu.
Hari Ibu selalu menjadi pengingat yang mengetuk hati—bukan hanya tentang kasih seorang ibu, tetapi juga tentang kekuatan perempuan yang menjaga nyala harapan di tengah kesenyapan. Bagi seorang istri prajurit, panggilan itu terasa berlipat. Di saat suami bertugas di lautan lepas, mereka menakhodai rumah tangga sendirian: menjadi ibu, ayah, sekaligus penjaga tungku agar tetap hangat. Nurul Hidayah (35) adalah wajah dari ketangguhan itu. Pada peringatan Hari Ibu 2024, namanya bersinar ketika Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) VII Surabaya menganugerahinya penghargaan. Bukan karena lencana di seragam, melainkan karena dari dapur mungil rumah dinasnya, ia berhasil membuktikan bahwa cinta dan rindu kepada suami yang berlayar bisa menjelma menjadi gerakan ekonomi yang memberdayakan. Ia adalah istri dari Kopral Dua Hendra Gunawan, prajurit pengawak KRI Usman Harun-359, yang lebih sering menatap cakrawala laut daripada memeluk anak dan istrinya.
Dapur Mungil yang Menyeberangi Lautan
Ketika Kopda Hendra bertolak meninggalkan dermaga untuk misi berbulan-bulan, Nurul memilih untuk tidak tenggelam dalam sepi. Tahun 2022 menjadi titik balik yang awalnya tak ia rencanakan. Bermodalkan resep kue kering warisan ibu, ia mulai mengaduk adonan di dapur rumah dinas yang sempit. Semula hanya untuk mengisi waktu dan mengusir rindu, namun siapa sangka pesanan demi pesanan mulai berdatangan dari rekan-rekan sesama istri prajurit. “Justru saat suami enggak di rumah, saya merasa harus punya sesuatu yang bikin hati tetap berdetak kuat. Bikin kue ini jadi semacam terapi sekaligus jalan ninja saya,” kenang Nurul, lirih namun mantap menyimpan getir. Dari terapi, usahanya tumbuh menjadi unit UMKM yang kini menampung 15 karyawan—seluruhnya adalah istri prajurit dan para janda yang juga merasakan kosongnya hari-hari tanpa pasangan. Tidak hanya membantu ekonomi keluarga sendiri, kue-kue kering buatan Nurul telah menembus pasar ekspor ke Malaysia dan Singapura. Sebuah bukti bahwa mimpi yang dimulai dari dapur rumah dinas bisa berlayar jauh, membawa harum nama keluarga besar TNI AL.
Menjahit Inspirasi di Antara Gelombang Rindu
Kisah Nurul tak bisa dilepaskan dari dukungan suami yang terpisah ribuan mil. Lewat sambungan telepon satelit dari atas geladak kapal, Kopda Hendra selalu menyisipkan kalimat penyemangat, “Pokoknya jangan berhenti berkarya, di sini saya ikut bangga kalau kamu sibuk bikin kue.” Kata-kata sederhana itu menjadi bahan bakar di saat lelah dan kerinduan menderanya, mengingatkan bahwa pengorbanan mereka saling mengisi. Bekal pelatihan kewirausahaan dari Persit Kartika Chandra Kirana turut mengasah kemampuannya mengelola usaha dan memasarkan produk. Namun, yang lebih istimewa, Nurul tidak menyimpan sendiri ilmu yang ia dapat. Ia kemudian dipercaya menjadi mentor bagi para istri prajurit muda yang masih gamang merintis langkah kemandirian. “Saya ingin mereka tahu, menjadi bagian dari keluarga besar TNI bukan berarti kita harus bergantung sepenuhnya. Kita juga bisa mandiri dan saling menguatkan,” ujarnya penuh empati. Di setiap sesi pelatihan, ia selalu menyelipkan cerita nyata tentang suka duka menaungi rumah dan hati ketika suami berada di garis depan. Di balik setiap butir kue kering yang dipanggang, ada doa dan rindu yang dikirimkan untuk para suami yang berlayar, menjadikan UMKM ini bukan sekadar mesin ekonomi, melainkan simpul kekuatan emosional para perempuan hebat.
Pada Hari Ibu ini, Nurul bukan sekadar menerima piagam penghargaan. Ia adalah cerminan bahwa ketangguhan seorang istri prajurit dapat menjelma menjadi inspirasi yang memberdayakan banyak orang. Dari dapur kecilnya, ia telah merajut kembali makna pengabdian: bahwa mendampingi prajurit bukan hanya tentang menunggu, tetapi juga tentang bertumbuh dan mencipta. Bagi keluarga prajurit Indonesia, kisah Nurul adalah bukti bahwa di tengah jarak dan rindu, selalu ada ruang bagi harapan, kemandirian, dan kebanggaan yang tak terhingga.
Entitas yang disebut
Orang: Nurul Hidayah, Hendra Gunawan
Organisasi: TNI AL, Pangkalan Utama TNI AL VII Surabaya, KRI Usman Harun-359, Persit Kartika Chandra Kirana
Lokasi: Surabaya, Malaysia, Singapura