Keluarga

HUT TNI, Kisah Orang Tua Bangga Putrinya Jadi Prajurit Wanita di Kapal Perang

12 Juli 2026 Malang 5 views

Hadi dan Sukmawati awalnya cemas saat putri mereka, Serda Marwah, memilih menjadi prajurit Kowal dan bertugas di kapal perang. Namun pada HUT ke-80 TNI, air mata haru dan bangga menetes melihat sang putri berdiri gagah. Kisah ini menggambarkan pergulatan batin orang tua antara doa, rindu, dan kebanggaan yang mendalam atas pengabdian sang anak menjaga laut Indonesia.

HUT TNI, Kisah Orang Tua Bangga Putrinya Jadi Prajurit Wanita di Kapal Perang

Masih lekat dalam ingatan Hadi dan Sukmawati, pasangan suami istri di Malang, rasa cemas yang bercampur aduk saat putri ketiga mereka, Serda Marwah, memilih jalan hidup yang tak biasa. Di usianya yang belia, gadis yang tumbuh dengan kelembutan itu justru memilih seragam loreng dan lautan lepas sebagai rumah keduanya. Namun, ketika mata mereka menatap putrinya berdiri gagah di jajaran Kowal (Korps Wanita Angkatan Laut) pada peringatan HUT ke-80 TNI, kekhawatiran itu luruh menjadi air mata haru. “Dulu kami khawatir, bagaimana anak perempuan bisa hidup di kapal perang yang keras. Tapi sekarang kami sangat bangga,” ujar Hadi, suaranya bergetar, seolah setiap kata adalah doa yang terjawab.

Dari Kamar ke Anjungan: Sebuah Perjalanan Hati

Perjalanan Serda Marwah bukanlah cerita biasa. Ia adalah potret nyata bahwa dinding baja kapal perang tidak pernah memandang gender. Melewati pendidikan pelayaran yang ketat—tempaan fisik dan mental yang sering dianggap hanya milik laki-laki—Marwah membuktikan bahwa perempuan bisa berdiri setara. Kini, tangannya yang dulu akrab dengan buku dan alat tulis, memegang tanggung jawab besar di bagian navigasi KRI Bung Tomo. Di sanalah ia menjadi ‘mata’ kapal, memastikan setiap haluan aman menjaga kedaulatan laut Indonesia. Bagi Hadi dan Sukmawati, setiap cerita tentang posisi putrinya adalah sumber bangga yang tak terkira, mengalahkan letihnya doa di sepertiga malam. Mereka kini adalah orang tua yang bukan hanya merestui, tapi juga mengimani bahwa putri mereka di lautan adalah bagian dari takdir terindah.

Doa Ibu, Jangkar di Tengah Samudra

Di balik gagahnya sosok Serda Marwah di geladak, ada sisi manusiawi yang begitu mengharu biru: kecemasan seorang ibu yang tak pernah padam. Sukmawati, sang ibu, selalu menyimpan foto putrinya di dekat tempat tidur. Foto itu seolah menjadi penawar rindu yang tak bertepi. “Setiap kali kapal berlayar, hati saya ikut berlayar. Tapi saya titipkan dia pada Yang Maha Kuasa,” bisiknya lirih. Kalimat sederhana itu adalah cerminan jiwa para orang tua prajurit yang setiap hari bergulat antara bangga dan pasrah. Doa adalah jangkar kekuatan bagi Sukmawati, saat bayang-bayang putrinya menghadapi kerasnya ombak dan dinginnya angin laut, jauh dari pelukan hangat keluarga. Mereka tidak hanya merestui, tetapi juga ikut berjuang dalam batin, mendukung penuh pengorbanan yang dipilih anaknya demi menjaga tanah air.

Momen HUT ke-80 TNI kali ini terasa begitu personal dan emosional bagi pasangan asal Malang itu. Melihat putri mereka di jajaran Kowal bukan sekadar seremoni, melainkan validasi bahwa dukungan tanpa syarat orang tua adalah fondasi terkuat bagi seorang prajurit. Kini, Hadi dan Sukmawati memiliki misi baru: menularkan keyakinan ini kepada lebih banyak keluarga di Indonesia. “Perempuan juga mampu menjaga kedaulatan laut Indonesia,” harap mereka, menyuarakan pesan penuh makna. Kisah ini mengajarkan bahwa di balik setiap langkah tegap seorang prajurit, ada hati orang tua yang ikut menapaki ombak. Bukan hanya bangga yang tumbuh, tetapi juga keikhlasan yang menjadi napas panjang dalam pengabdian. Bagi setiap ibu dan ayah, cerita ini mengingatkan bahwa membesarkan anak dengan cinta adalah menyiapkan mereka untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri—entah di darat, di laut, atau di hati seluruh keluarga.

Entitas yang disebut

Orang: Hadi, Sukmawati, Serda Marwah

Organisasi: TNI, Kowal, KRI Bung Tomo

Lokasi: Malang, Indonesia

Bacaan terkait

Artikel serupa