Inspirasi

Ibu 80 Tahun di NTT Rutin Jemput Air untuk Keluarga, Anaknya Prajurit TNI AL yang Bertugas di Kapal

21 Juli 2026 Nusa Tenggara Timur 7 views

Di usia 80 tahun, Mama Sina di NTT tetap setia menjemput air demi menjaga semangat rumah, sebagai wujud dukungan moral bagi anaknya yang bertugas di kapal TNI AL. Kesederhanaan dan keteguhannya menjadi kekuatan tak terlihat bagi Serka Maria di lautan. Pengabdian keduanya adalah cermin cinta keluarga yang melintasi jarak.

Ibu 80 Tahun di NTT Rutin Jemput Air untuk Keluarga, Anaknya Prajurit TNI AL yang Bertugas di Kapal

Di pedalaman Nusa Tenggara Timur, saat fajar belum sepenuhnya merekah, seorang perempuan sepuh sudah terjaga. Mama Sina, begitu warga akrab menyapanya, memulai harinya dengan ritual yang telah ia jalani puluhan tahun: menyusuri jalan berbatu menuju sumber air, menjemput kehidupan setetes demi setetes. Di usianya yang menginjak 80 tahun, ia bukanlah orang tua lanjut usia yang memilih banyak beristirahat. Punggungnya memang mulai membungkuk, namun semangatnya tak lekang oleh waktu. Setiap langkah yang ia ambil adalah doa—doa agar anaknya, Serka Maria, tetap tenang menjalankan tugas di kapal perang TNI AL, jauh di lautan lepas.

Bagi Mama Sina, kehidupan sederhana ini bukan soal ketiadaan. Ia bisa saja meminta dipasangkan sumur, atau mengandalkan belas kasih. Tapi, “Ini soal menjaga gerak tubuh tetap kuat, agar anakku di kapal tidak perlu khawatir ibunya cuma duduk diam menunggu,” ucapnya lirih pada seorang tetangga. Ia paham, menjadi ibu seorang prajurit berarti memberi dukungan moral yang tak terucap. Di tengah keterbatasan, Mama Sina memilih pengabdian lewat kegiatan yang kerap dianggap remeh: mengisi jeriken, menyapu halaman, menyalakan tungku. Baginya, rumah adalah jiwa keluarga—pesan mendiang suaminya yang terus terpatri. “Rumah harus terasa hidup, agar siapapun yang bertugas tak merasa kehilangan arah.”

Rindu yang Terbungkus Sinyal Satelit

Ribuan mil jauhnya, di geladak kapal perang yang berguncang, Serka Maria menyimpan selembar foto di balik jadwal jaganya. Foto seorang perempuan renta dengan senyum teduh di depan rumah kayu sederhana. “Ini pengingat kenapa saya di sini,” katanya pada suatu kesempatan. Menjalani tugas di kapal membuat komunikasi menjadi kemewahan. Kala sinyal satelit sesekali bersambut, panggilan pertama selalu untuk Mama Sina. Suara di ujung telepon adalah oase: “Ibu sudah makan? Jangan terlalu capek, ya, Bu.” Dari NTT, Mama Sina balas menenangkan, “Kau jaga laut Indonesia, Ibu jaga rumah kita.” Sebuah pengabdian yang setara; satu menjaga kedaulatan, satu merawat akar kehidupan.

Kekhawatiran memang tak pernah benar-benar pergi. Serka Maria kerap dicekam bayangan: bagaimana jika ibunya jatuh, sakit, atau kehabisan air saat kemarau? Namun, kepercayaan bahwa ibunya adalah seorang orang tua lanjut usia yang luar biasa kuat justru menjadi bahan bakar baginya. Dukungan moral tak kasat mata ini, yang terwujud lewat setiap langkah kaki Mama Sina, membuat sang anak mampu menghadapi tugas dengan hati yang lebih teguh. Kolega di kapal pun sering bertanya tentang foto itu, dan Serka Maria selalu menjawab singkat, “Itu ibuku. Panglima tertinggi dalam hidup saya.”

Kisah Mama Sina dan Serka Maria adalah potret dukungan moral yang melintasi jarak dan generasi. Di tengah gempuran modernitas, masih ada keluarga yang menenun cinta lewat kesederhanaan. Bahwa menjaga rumah bukan hanya tugas mereka yang ditinggal, melainkan juga pondasi batin bagi mereka yang bertugas. Dari NTT hingga lautan nusantara, dua hati ini saling menguatkan dalam diam—membuktikan bahwa pengabdian sejati tak mengenal usia, dan kehidupan sederhana bisa menjadi doa paling dalam bagi jiwa-jiwa yang berlayar menjaga negeri.

Entitas yang disebut

Orang: Mama Sina, Serka Maria

Organisasi: TNI AL

Lokasi: Nusa Tenggara Timur, Indonesia

Bacaan terkait

Artikel serupa