Kisah TNI

Ibu 82 Tahun dari Sersan TNI AD Akhirnya Bisa Naik Pesawat, Terobosan Program Bakti TNI 'Pelukan untuk Ibu'

20 Mei 2026 Purwokerto, Jawa Tengah 4 views

Impian sederhana Mbah Surti (82), ibu seorang prajurit TNI AD, untuk naik pesawat akhirnya terwujud melalui program 'Pelukan untuk Ibu'. Inisiatif bakti sosial ini tidak hanya mewujudkan impian orang tua prajurit, tetapi juga meringankan beban batin anak-anak mereka yang kerap berjauhan karena tugas, memperkuat ikatan emosional dalam keluarga prajurit.

Ibu 82 Tahun dari Sersan TNI AD Akhirnya Bisa Naik Pesawat, Terobosan Program Bakti TNI 'Pelukan untuk Ibu'

Di sebuah rumah sederhana di Jawa Tengah, seorang orang tua berusia 82 tahun menyimpan sebuah impian yang sangat sederhana, namun terasa begitu besar untuknya. Ia adalah Mbah Surti, ibu dari Sersan Dua TNI AD Suparno. Selama ini, impiannya hanya satu: merasakan bagaimana rasanya naik pesawat terbang. Impian ini baru ia ceritakan kepada sang anak, dengan nada sedikit menyesal, seolah itu adalah suatu hal yang tak mungkin lagi ia raih di usianya. Dari cerita sederhana itulah, sebuah keajaiban kecil dimulai.

Sebuah Cerita dan Inisiatif Hati

Saat mendengar pengakuan ibunya, Sersan Suparno tentu merasa terenyuh. Sebagai seorang prajurit TNI AD yang bertugas di Purwokerto, tuntutan dinas seringkali membuatnya harus jauh dari keluarga. Ada rasa bersalah yang kerap mengendap di hati seorang anak prajurit seperti dirinya; perasaan bahwa ia tak bisa selalu hadir untuk membalas semua jasa dan kasih sayang ibu yang telah membesarkannya. Impian Mbah Surti yang terdengar sederhana itu, ternyata menyimpan beban emosional yang dalam bagi sang anak. Untungnya, ia tidak sendirian. Institusi tempatnya mengabdi memiliki telinga dan hati untuk mendengarkan cerita-cerita seperti ini.

Melalui program inisiatif bernama ‘Pelukan untuk Ibu’, TNI AD setempat mengambil langkah nyata. Program bakti sosial yang unik ini tidak sekadar memberi bantuan materi, tetapi lebih kepada memenuhi kerinduan dan impian emosional para orang tua prajurit. Tujuannya jelas: memberikan dukungan moral tidak hanya kepada prajurit di lapangan, tetapi juga kepada pilar terkuat di belakang mereka, yaitu keluarga. Inilah bentuk perhatian yang jarang tersorot, namun dampaknya begitu mendalam bagi ketahanan mental prajurit dan keluarganya.

Momen Takjub di Ketinggian Langit

Hari yang dinanti pun tiba. Dengan didampingi oleh Sersan Suparno dan petugas yang ramah, Mbah Surti melangkah penuh keyakinan menuju Bandara Jenderal Soedirman. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya di usia 82 tahun, ia akan menaiki pesawat dalam penerbangan singkat pulang-pergi ke Jakarta. Ekspresi takjub, senyum lebar, dan mungkin sedikit deg-degan, menghiasi raut wajahnya saat pertama kali memasuki kabin pesawat. Momen itu adalah gambaran nyata dari sebuah impian yang akhirnya kesampaian. Bagi Sersan Suparno yang mendampingi, ini lebih dari sekadar perjalanan; ini adalah pelipur rasa rindu dan bentuk kecil balas budi yang bisa ia berikan.

Di balik kegembiraan Mbah Surti, terselip sebuah pesan yang kuat. Program ‘Pelukan untuk Ibu’ ini sesungguhnya adalah sebuah terobosan dalam melihat sisi humanis dari kehidupan prajurit. Seorang prajurit tidak hanya kuat karena fisik dan pelatihan, tetapi juga karena ketenangan batin, karena tahu keluarganya bahagia dan diperhatikan. Dengan memfasilitasi impian seorang ibu di Jawa Tengah, institusi TNI secara tidak langsung juga meringankan beban batin anaknya yang sedang bertugas. Ikatan yang terbangun bukan hanya antara ibu dan anak, tetapi juga antara prajurit dengan institusi, dan antara TNI dengan keluarga inti prajuritnya di masyarakat.

Kisah Mbah Surti dan Sersan Suparno adalah potret kecil dari ribuan kisah serupa di seluruh Indonesia. Di balik seragam dan tugas negara, ada anak-anak yang merindukan orang tuanya, ada orang tua yang membanggakan namun juga cemas menunggu kabar anaknya. Program seperti ini mengingatkan kita bahwa pengabdian seorang prajurit adalah pengabdian seluruh keluarganya. Pengorbanan mereka tidak hanya di medan tugas, tetapi juga dalam momen-momen kebersamaan yang terlewatkan. Oleh karena itu, setiap ‘pelukan’ yang diberikan, dalam bentuk apapun, adalah penguat semangat yang tak ternilai harganya.

Bacaan terkait

Artikel serupa