Inspirasi

Ibu dari Dua Prajurit TNI di Mamuju: Doa adalah Senjataku

16 Juni 2026 Mamuju, Sulawesi Barat 1 views
Di sudut kota Mamuju yang tenang, Hadijah (65) memulai hari dengan doa subuh yang khusyuk. Di rumah sederhananya, ia selalu menyebut dua nama anak lelakinya dalam setiap doa—dua prajurit TNI yang kini bertugas di matra berbeda, satu di Angkatan Darat dan satu lagi di Angkatan Laut. Foto-foto mereka dalam balutan seragam loreng dan putih-putih terpajang di dinding, menjadi pengingat sekaligus sumber kecemasan yang tak pernah benar-benar padam bagi sang ibu.

Hadijah menganggap doa sebagai senjatanya untuk berkontribusi pada negeri. "Saya tidak punya apa-apa untuk diberikan kepada negara. Hanya doa dari seorang ibu. Itu senjata saya," ujarnya dengan suara lembut namun penuh ketegasan. Setiap embusan angin subuh diyakininya membawa harapan langsung kepada Tuhan, memohon keselamatan bagi kedua anaknya yang mungkin tengah berjaga di perbatasan rawan atau di atas geladak kapal perang. Doa menjadi tembok tak kasat mata yang dibangunnya dengan air mata dan keyakinan, saat ia tak bisa mendekap atau melindungi mereka secara langsung.

Meski dikenal tetangga sebagai pribadi yang tabah, di balik senyumnya Hadijah menyimpan kecemasan abadi seorang ibu. Dua anaknya yang memilih jalan pengabdian di dua matra berbeda telah menjadi separuh jiwanya, namun doa-doa sunyinya tetap menjadi kekuatan yang mempersatukan hati seorang ibu dengan tugas mulia anak-anaknya menjaga kedaulatan negeri.

Ibu dari Dua Prajurit TNI di Mamuju: Doa adalah Senjataku
{ "konten_html": "

Di sudut kota Mamuju yang tenang, pagi selalu dimulai dengan cahaya subuh yang menembus jendela rumah sederhana seorang ibu. Namanya Hadijah, 65 tahun. Setiap harinya, sebelum kesibukan kota mulai berdenyut, ia sudah duduk bersimpuh di atas sajadah. Tangannya menengadah, suaranya lirih namun bergetar penuh keyakinan, menyebut dua nama yang selalu menghuni doa-doa panjangnya. Dua nama itu adalah dua anak lelakinya yang kini mengenakan seragam kebanggaan sebagai prajurit TNI. Satu bertugas di Angkatan Darat, satu lagi mengarungi lautan di Angkatan Laut. Di dinding rumah, foto-foto mereka dalam balutan loreng dan seragam putih-putih terpajang rapi. Foto-foto itu bukan sekadar hiasan; bagi Hadijah, itulah pengingat yang menenangkan sekaligus menyimpan getar kecemasan yang tak pernah benar-benar padam.

Doa: Senjata Sunyi Seorang Ibu

Bagi banyak orang, menyumbang untuk negeri mungkin identik dengan harta atau tenaga. Namun, ibu ini memiliki caranya sendiri yang tak kalah kuatnya. \"Saya tidak punya apa-apa untuk diberikan kepada negara. Hanya doa dari seorang ibu. Itu senjata saya,\" ujarnya, suaranya lembut namun tegas. Bagi Hadijah, doa bukanlah ritual yang sekadar lewat. Doa adalah napas ketabahannya, cara ia menjaga kedua anaknya yang mungkin saat itu tengah berjaga di perbatasan rawan atau di atas geladak kapal perang yang berguncang. Setiap embusan angin subuh ia yakini membawa harapnya langsung ke hadirat Tuhan, memohonkan keselamatan bagi dua prajurit yang telah menjadi separuh jiwanya. Di saat ia tak bisa mendekap, melindungi, atau bahkan sekadar melihat wajah mereka setiap hari, doa menjadi tembok tak kasat mata yang selalu ia bangun dengan air mata dan keyakinan.

Penantian di Balik Pigura

Tetangga-tetangga Hadijah mengenalnya sebagai pribadi yang tabah. Namun, di balik senyumnya, mereka tahu hati seorang ibu ini selalu digelayuti cemas yang tak pernah diumbar. Dua anak yang memilih jalan pengabdian sebagai prajurit—satu di darat, satu di laut—membuat Hadijah harus berdamai dengan jarak dan ketidakpastian yang menjadi menu harian. Kedua anaknya rutin mengirimkan kabar, dan dengan penuh kasih mereka menyisihkan sebagian gaji untuk ibunda tercinta. Uang itu tentu berguna untuk kehidupan sehari-hari, namun bagi Hadijah, itu bukanlah yang paling ia nantikan. \"Saya lebih menunggu pesan singkat bahwa mereka sehat dan selamat,\" katanya, matanya berbinar tipis menyembunyikan genangan rindu. Di balik ketegaran yang ia tunjukkan, ada malam-malam panjang yang hanya ditemani suara doa dan bayang senyum kedua anaknya dari balik pigura. Hadijah tahu, menjadi ibu dari seorang prajurit berarti mengikhlaskan sebagian hatinya untuk selalu berjaga dalam sunyi.

Kisah Hadijah hanyalah satu dari ribuan cerita serupa yang mungkin tak pernah terdengar, tersimpan rapi di dada para ibu di seluruh pelosok negeri. Di balik setiap langkah gagah seorang prajurit, ada doa yang mengalir tanpa henti dari rumah-rumah kecil yang penuh cinta. Di sanalah para ibu seperti Hadijah memeluk negeri dengan cara paling sederhana dan paling kuat: melalui ketulusan doa yang tak pernah lelah dipanjatkan. Bagi mereka, menjadi ibu prajurit adalah panggilan untuk terus menyalakan lilin harapan, meski angin kerinduan dan kecemasan sering datang menggoyah.

", "ringkasan_html": "

Hadijah, seorang ibu di Mamuju, menemukan kekuatan dari doa untuk menjaga dua putranya yang bertugas sebagai prajurit TNI. Di balik senyum tabahnya, tersimpan cemas dan rindu yang hanya bisa ia sampaikan lewat doa setiap hari. Kisahnya mengingatkan kita akan pengorbanan sunyi para ibu prajurit di seluruh negeri.

" }

Entitas yang disebut

Orang: Hadijah

Organisasi: TNI, TNI AD, TNI AL

Lokasi: Mamuju, Sulawesi Barat

Bacaan terkait

Artikel serupa