Keluarga

Ibu dari Prajurit TNI AD di Medan Jualan Kue untuk Biayai Anaknya Sekolah, Dapat Bantuan Modal dari Korem

31 Mei 2026 Medan, Sumatera Utara 3 views

Seorang ibu dari prajurit TNI AD di Medan berjuang menghidupi keluarga dengan berjualan kue tradisional. Hasil penjualannya digunakan sepenuhnya untuk membiayai pendidikan anak-anaknya yang masih kecil. Selama ini, ia hanya mengandalkan gaji anaknya yang masih berpangkat rendah sehingga belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah.

Melihat kondisi tersebut, Korem 022/Pantai Timur turun tangan memberikan bantuan modal usaha serta dukungan pemasaran. Bantuan ini diharapkan dapat mengembangkan usahanya agar lebih stabil. Sang ibu mengaku sangat terbantu karena kini memiliki tambahan modal untuk produksi dan akses pasar yang lebih luas. Ia pun bertekad lebih mandiri secara ekonomi sehingga bisa meringankan beban anaknya yang sedang bertugas di TNI.

Kisah ini menyoroti peran aktif orang tua prajurit dalam menopang ekonomi keluarga sekaligus menggambarkan bentuk nyata kepedulian institusi TNI terhadap kesejahteraan anggota dan keluarganya. Dukungan semacam ini diharapkan tidak hanya membantu kebutuhan mendesak, tetapi juga membangun kemandirian finansial jangka panjang bagi keluarga prajurit.

Ibu dari Prajurit TNI AD di Medan Jualan Kue untuk Biayai Anaknya Sekolah, Dapat Bantuan Modal dari Korem
{ "konten_html": "

Di sebuah sudut kota Medan, tangan-tangan terampil seorang ibu mulai sibuk sejak subuh buta. Aroma gula merah dan kelapa parut menyeruak dari dapur mungilnya, menandakan bahwa kue-kue tradisional—lapet, ombus-ombus, dan bika ambon—sudah siap menemani pagi para pelanggan. Dialah Ibu Mariani, ibu dari seorang prajurit TNI AD yang sedang mengabdi di kesatuan Korem 022/Pantai Timur. Ada dua hal yang tak pernah lepas dari benaknya setiap kali menggulung adonan: anak sulungnya yang gagah berseragam loreng, dan dua bocah kecil di rumah yang masih menanti uang sekolah. Dari sinilah usaha mandiri ini bermula: dari kegelisahan seorang ibu yang tak ingin hanya berpangku tangan, meski sang anak sudah berusaha keras mengirimkan sebagian gajinya.

Dapur yang Menghidupi Mimpi Anak-Anak

Mariani bukanlah tipe ibu yang mudah menyerah. Suaminya telah lama berpulang, dan sejak itu ia menjadi tulang punggung bagi keluarga kecilnya. Anak pertamanya, Serda Andri, memilih jalan sebagai prajurit—sebuah kebanggaan sekaligus pengorbanan. Gaji sebagai anggota TNI AD belum begitu besar, sementara kedua adik Andri, Sinta dan Bayu, masih duduk di bangku SMP dan SD. “Andri sering bilang, ‘Mak, jangan capek-capek jualan, nanti aku yang kirim lebih banyak.’ Tapi saya tahu, hidup di asrama juga butuh biaya. Saya tidak mau membebani dia,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Setiap hari, Mariani menyusuri kompleks perumahan dan kantor-kantor kecil, menjajakan kue basah buatannya sendiri. Penghasilannya memang tidak seberapa, tetapi cukup untuk menyambung biaya les, buku, dan uang jajan anak-anak. Di sinilah perjuangan ibu menempa dirinya: lelah fisik tak sebanding dengan ketenangan hati melihat anak-anaknya tetap bisa bersekolah.

Bantuan Modal, Harapan yang Datang dari Hati

Cerita tentang kue-kue Ibu Mariani sampai ke telinga jajaran Korem 022/Pantai Timur. Bukan sekadar kabar, melainkan sebuah potret tentang ekonomi keluarga prajurit yang jarang terlihat: di balik tegapnya seorang tentara, ada orang tua yang juga berpeluh demi kestabilan rumah tangga. Pihak Korem kemudian bergerak, bukan hanya dengan simpati, tapi dengan aksi nyata. Mereka memberikan bantuan modal usaha berupa peralatan masak modern, bahan baku, dan pelatihan pengemasan agar kue-kue Mariani lebih tahan lama dan menarik. Tak hanya itu, mereka juga membantu pemasaran lewat jaringan pangkalan dan koperasi satuan, sehingga jangkauan pembelinya semakin luas. “Saya seperti dapat napas baru. Dulu saya hanya bisa produksi 30 bungkus sehari, sekarang bisa sampai 70 bungkus karena ada bantuan mixer dan oven kecil. Alhamdulillah, sekolah Sinta dan Bayu jadi lebih ringan,” ungkapnya haru. Sentuhan institusi ini bukan sekadar dana, melainkan pemantik kemandirian yang membuat seorang ibu merasa dilihat dan dihargai.

Kini, pagi-pagi Mariani tak lagi sendiri. Kadang, Sinta dan Bayu ikut membantu membungkus kue sebelum berangkat sekolah, menciptakan momen kebersamaan yang hangat di dapur sempit itu. Andri yang mendengar kabar ini dari kejauhan hanya bisa mengirim pesan singkat: “Mak, bangga punya mamak seperti ini.” Pesan yang sederhana, tetapi cukup untuk membuat Mariani kembali mengaduk adonan dengan senyum yang lebih lebar. Di tengah deru tugas negara yang kerap memisahkan keluarga prajurit, ternyata ikatan batin dan saling dukung adalah jangkar yang paling kokoh. Perjuangan ini bukan hanya tentang kue dan rupiah, melainkan tentang ketahanan emosional sebuah keluarga yang memilih untuk terus berdiri bersama, meski dengan cara yang berbeda-beda. Ibu Mariani dan ribuan ibu lain di belakang seragam loreng adalah saksi bahwa cinta dan pengorbanan tak hanya terjadi di medan tugas, tapi juga di dapur-dapur sederhana yang setiap hari merebus asa.

", "ringkasan_html": "

Ibu Mariani, ibu seorang prajurit TNI AD di Medan, berjualan kue tradisional untuk membiayai sekolah kedua adik sang prajurit. Berkat bantuan modal dan pemasaran dari Korem 022/Pantai Timur, usahanya kini berkembang dan meringankan beban ekonomi keluarganya. Kisah ini menjadi cermin hangat tentang perjuangan ibu dan dukungan nyata institusi terhadap keluarga prajurit.

" }

Entitas yang disebut

Organisasi: TNI AD, Korem 022/Pantai Timur

Lokasi: Medan

Bacaan terkait

Artikel serupa