Inspirasi

Ibu Prajurit TNI AL Jualan Kue untuk Biaya Pendidikan Anak, Dukungan Komunitas Persit

08 Juni 2026 Surabaya, Jawa Timur 7 views

Seorang istri prajurit TNI AL di Surabaya merintis usaha kue kering rumahan untuk membiayai pendidikan kedua anaknya di tengah tugas suami yang sering ke luar kota. Didukung pelatihan dan komunitas Persit, usahanya berkembang sekaligus menginspirasi istri prajurit lain tentang kemandirian. Kisahnya menjadi cermin ketangguhan ekonomi dan emosional keluarga prajurit.

Ibu Prajurit TNI AL Jualan Kue untuk Biaya Pendidikan Anak, Dukungan Komunitas Persit

Di sudut rumah dinas yang sederhana di kompleks TNI AL Surabaya, aroma kue kering baru matang memenuhi udara pagi. Seorang ibu dengan cekatan memasukkan nastar ke dalam toples-toples mungil, sementara di meja belajar tak jauh dari sana, kedua anak remajanya tengah menyelesaikan tugas sekolah. Tangannya terus bergerak, tapi pikirannya melayang sejenak pada sang suami yang sedang berlayar di perairan timur, menjalankan tugas negara yang kerap membuatnya rindu. Di sinilah, di antara mixer dan oven, sebuah perjuangan ekonomi keluarga militer dirajut dengan kesabaran dan cinta.

Awalnya, usaha rumahan menjual kue kering ini hanyalah jawaban atas kegelisahan seorang ibu melihat biaya pendidikan anak-anaknya yang terus merangkak naik. Dengan gaji prajurit yang terbatas dan suami yang sering dinas di luar kota, ia harus memutar otak agar kedua anaknya tetap bisa mengenyam pendidikan terbaik. "Saya tidak ingin anak-anak merasa kekurangan, terutama soal sekolah. Mereka punya mimpi, dan tugas kami sebagai orang tua adalah menjaganya tetap menyala," tuturnya lirih. Dari dapur mungil itu, ia belajar mandiri, memulai usaha kecil yang kini menjadi tulang punggung tambahan bagi perekonomian keluarga.

Dukungan Persit: Lebih dari Sekadar Komunitas

Kehadiran komunitas Persit Kartika Chandra Kirana di lingkungan kesatrian menjadi titik terang yang tak disangka. Apa yang semula hanya kue pesanan tetangga, perlahan meluas karena dukungan sesama istri prajurit. Persit bukan hanya menjadi pasar pertama yang menghargai setiap stoples kue keringnya, tetapi juga memberi bekal keterampilan yang sangat berharga. Pelatihan kewirausahaan dan pemasaran digital yang diadakan secara rutin oleh komunitas itu mengajarinya cara mengemas produk lebih menarik, memotret dengan apik untuk katalog daring, hingga memanfaatkan media sosial sebagai etalase usaha. "Dulu saya hanya bisa bikin kue, sekarang saya tahu bagaimana menjualnya agar lebih luas. Teman-teman di Persit selalu mendukung, bahkan sering ikut mempromosikan," kenangnya.

Semangat berbagi dalam Persit bukan sekadar transaksi jual beli. Di sana, ia menemukan teman-teman yang paham betul rasa lelah mengurus rumah tangga sendirian, rasa cemas menanti kepulangan suami, dan bangga yang bercampur khawatir saat tugas memanggil. Dukungan emosional itu menjadi ganjalan kuat ketika tubuhnya nyaris letih membagi waktu antara oven, rapor anak, dan telepon singkat penuh rindu. "Di sini kami saling menguatkan. Kalau saya sedang capek, ada yang bilang, 'Ayo semangat, Bu. Kue Ibu enak, anak-anak pasti bangga.' Kalimat sederhana seperti itu sangat berarti," ujarnya.

Anak-Anak, Motivasi Terbesar di Balik Loyang Kue

Yang paling mengharukan dari kisah ini adalah bagaimana kedua anak remajanya turut menjadi bagian dari perjalanan usaha keluarga. Sepulang sekolah, mereka membantu mengemas kue, menulis label, atau sekadar menemani sang ibu di dapur sambil bercerita tentang pelajaran. Tanpa disadari, proses itu menanamkan nilai kemandirian dan gotong royong yang tak akan mereka dapat dari buku teks. Sang ibu tak pernah memaksa, tapi anak-anak melihat sendiri betapa kerasnya perjuangan seorang ibu yang tak ingin pendidikan anak-anaknya berhenti karena alasan ekonomi. "Mereka bilang, 'Mama hebat, bisa sendiri.' Mendengar itu rasanya semua lelah hilang. Saya ingin mereka mengerti bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk maju," katanya dengan mata berkaca.

Kini, usaha kue keringnya sudah menjadi penopang kokoh biaya sekolah, buku, hingga les tambahan. Lebih dari itu, ia telah menjadi teladan bagi istri-istri prajurit lain bahwa menjadi mandiri bukan berarti meninggalkan keluarga, melainkan membangun ketahanan dari dalam rumah. Di tengah keterbatasan waktu karena harus mengurus semuanya sendiri, ia membuktikan bahwa potensi diri bisa tumbuh subur asal ada niat dan lingkungan yang mendukung. Setiap gigitan kue buatannya bukan hanya soal rasa manis, tetapi juga kisah tentang pengorbanan, cinta, dan keyakinan bahwa masa depan anak-anak layak diperjuangkan, meski dari dapur paling sederhana di rumah dinas TNI AL Surabaya.

Entitas yang disebut

Organisasi: TNI AL, Persit

Lokasi: Surabaya

Bacaan terkait

Artikel serupa