Keluarga

Istri Pelaut TNI AL Bikin Usaha Batik Ekologis, Bantu Ekonomi Keluarga Prajurit di Pesisir

15 Juli 2026 Surabaya, Jawa Timur 4 views

Ditinggal suami melaut berbulan-bulan, Maya—istri seorang Serma Bahari di Surabaya—berhasil mengubah kesepian menjadi pemberdayaan ekonomi melalui usaha batik ekologis berbahan mangrove. Bersama puluhan istri prajurit TNI AL lainnya, ia mengikuti pelatihan gratis dari Puspenerbal untuk mengolah tanaman pesisir menjadi pewarna alami yang ramah lingkungan dan bernilai jual tinggi.

Dari sekadar mengisi waktu, usaha ini kini sukses menembus pasar global dengan pendapatan bulanan rata-rata mencapai Rp5 juta per keluarga. Keberhasilan mereka tak lepas dari dukungan Koperasi TNI AL yang menyediakan pinjaman modal tanpa bunga, serta semangat saling menguatkan di antara para istri yang sama-sama menahan rindu. Di balik canting dan goresan batik bercorak tanah, mereka menemukan kemandirian finansial, harga diri, dan jejaring solidaritas yang mengobati rasa sepi selama suami bertugas.

Istri Pelaut TNI AL Bikin Usaha Batik Ekologis, Bantu Ekonomi Keluarga Prajurit di Pesisir
{ "konten_html": "

Di pesisir Surabaya, waktu sering terasa berjalan lambat bagi para istri prajurit TNI AL. Mereka harus menjalani hari-hari panjang tanpa suami yang bertugas di laut selama berbulan-bulan—terkadang hingga delapan bulan. Begitulah yang dirasakan Maya, istri dari seorang Serma Bahari yang mengabdi di salah satu KRI. Ia sendiri mengurus rumah, mengasuh anak, dan menahan rindu di tengah deburan ombak yang justru mengingatkannya pada keheningan. Rasa sepi itu awalnya seperti tak berujung, tetapi Maya memilih untuk tidak tenggelam. Bersama puluhan istri lainnya, ia mengubah kerinduan itu menjadi warna-warna yang menghidupkan kembali semangat mereka: batik ekologis dari mangrove.

Dari Pelatihan Gratis, Lahir Kemandirian yang Menyentuh Hati

Awalnya hanyalah pelatihan gratis yang difasilitasi oleh Puspenerbal. Di sana, Maya dan kawan-kawan belajar mengolah tanaman mangrove—yang tumbuh subur di kawasan pesisir—menjadi pewarna alami yang cantik dan ramah lingkungan. Tanpa disangka, ketekunan itu berbuah manis. \"Awalnya hanya untuk mengisi waktu sembari mengasuh anak, eh sekarang bisa beli susu dan bayar les tanpa minta kiriman suami,\" kenang Maya sambil tersenyum. Kini, kelompok usaha di Koarmada II Surabaya itu berhasil menjual produk batik buatan mereka hingga ke luar negeri. Dari tangan-tangan yang dulu hanya akrab dengan dapur, lahir kain-kain indah yang membawa nama Indonesia ke pasar global. Penghasilan rata-rata Rp5 juta per bulan per keluarga bukan sekadar angka; ia adalah bukti bahwa perempuan-perempuan tangguh di balik seragam suami mereka bisa berdiri di atas kaki sendiri, menjaga ekonomi rumah, dan merawat harga diri di tengah penantian yang tak pasti.

Koperasi Tanpa Bunga, Ruang Pulih dari Sepi dan Cemas

Bagi para istri TNI AL, usaha ini lebih dari sekadar mencari nafkah. Lewat koperasi TNI AL yang memberikan pinjaman modal tanpa bunga, mereka bisa mengembangkan produksi tanpa dibebani riba. Namun, kehangatan yang tumbuh di sela-sela canting dan warna-warna tanah justru menjadi obat paling ampuh. Di ruang kerja bersama, mereka tak hanya membatik; mereka saling mendengarkan. Cerita tentang kerinduan pada suami yang tengah berlayar menjaga kedaulatan, tentang anak-anak yang kini bisa membeli buku sendiri tanpa harus menunggu kiriman, hingga tentang rasa bangga menjadi mitra sejajar dalam rumah tangga prajurit—semuanya tumpah ruah. Tekanan psikologis seperti kesepian, kecemasan, dan lelah mengasuh sendiri perlahan berubah menjadi semangat berkarya. Di pesisir yang semula hanya dihiasi deburan ombak dan penantian, kini tumbuh komunitas saling menguatkan; tempat di mana air mata rindu diubah menjadi tawa dan harapan.

Pengabdian tak pernah berhenti pada sosok yang berlayar. Di daratan, para istri juga berjuang: mengasuh, mencipta, dan merawat. Dari sepotong batik mangrove yang lahir dari tangan penuh cinta, mereka membuktikan bahwa pengorbanan selalu bisa tumbuh menjadi sesuatu yang menghidupi—tak hanya bagi keluarga kecil, tetapi juga bagi jiwa-jiwa yang merindukan arti hadir dan berdaya. Bagi keluarga besar TNI AL, cerita dari pesisir ini adalah tentang cinta yang tak pernah pudar. Seperti warna alami yang meresap ke dalam serat kain, ketabahan dan kebersamaan menciptakan keindahan yang tahan lama. Dari pesisir, untuk dunia—dan terutama, untuk keluarga tercinta.

", "ringkasan_html": "

Di pesisir Surabaya, para istri prajurit TNI AL mengubah rasa sepi dan rindu menjadi semangat berkarya melalui usaha batik ekologis dari mangrove. Berawal dari pelatihan gratis, kelompok ini mampu menjual produk hingga ke luar negeri dan meraih pendapatan rata-rata Rp5 juta per bulan, sekaligus menciptakan ruang saling menguatkan bagi keluarga yang ditinggal bertugas.

" }

Entitas yang disebut

Orang: Maya, Serma Bahari

Organisasi: TNI AL, Koarmada II, Puspenerbal, Koperasi AL

Lokasi: Surabaya

Bacaan terkait

Artikel serupa