Keluarga
Istri Prajurit Gugur di Lebanon Sempat Terima Kabar Simpang Siur
Handita Anjani (26) harus melewati guncangan kabar simpang siur sebelum menerima kepastian bahwa suaminya, Sertu Muhammad Nur Ichwan, gugur di Lebanon. Kisah ini menyoroti perjuangan komunikasi keluarga jarak jauh yang penuh cinta serta perjalanan kehidupan setelah duka yang dijalani Anjani bersama bayi perempuannya. Dukungan masyarakat dan kenangan akan sang suami menjadi kekuatan baru baginya.
Di sudut rumah sederhana di Dusun Deyangan, Magelang, Handita Anjani (26) tengah belajar menerima kekuatan yang tak pernah ia duga. Di dekatnya, bayi perempuan berusia tujuh bulan sesekali tertawa, lalu menangis, seakan menjadi saksi bisu sebuah duka yang mengiris hati. Semua bermula dari kabar simpang siur yang datang seperti gelombang tak tentu arah. “Sebelumnya, kabar yang diterima simpang siur dan keluarga masih mengelak bahwa itu bukan suaminya,” kenang Anjani dengan suara bergetar. Ketidakpastian itu menghantam pada Senin (30/3/2026), menyulap siang bolong menjadi mimpi buruk. Menanti kepastian di tengah isu yang belum jelas adalah siksaan psikologis tersendiri, menambah luka yang bahkan belum sempat ia sentuh. Hingga Selasa (31/3/2026) pagi, kepastian pahit itu tiba: suaminya, Sertu Muhammad Nur Ichwan, prajurit yang bertugas di Satgas Yonmek TNI Konga XXIII-S UNIFIL Lebanon, telah gugur di medan tugas.
Sambungan Hati Lintas Benua: Komunikasi Keluarga yang Tak Biasa
Bagi Anjani, komunikasi keluarga adalah oksigen yang membuat jarak ribuan kilometer terasa begitu dekat. Sejak bertugas di Lebanon pada April 2025, Sertu Ichwan tak pernah membiarkan benang penghubung itu putus. “Komunikasinya sangat lancar. Beliau sampai beli nomor asal Lebanon,” tutur Anjani, melukiskan perjuangan suaminya. Tindakan membeli nomor lokal itu bukan sekadar teknis, melainkan simbol cinta yang menolak dibatasi benua. Setiap panggilan video—meski kerap terputus oleh sinyal labil—menjadi jembatan emas yang menautkan rindu antara Magelang dan Lebanon. Inilah pendampingan komunikasi yang sunyi namun sarat makna, yang dijalani para keluarga prajurit: berjuang menatap layar, berbagi tawa kecil, dan saling meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja. Sosok Ichwan yang hangat, yang selalu ada meski hanya lewat suara, kini hidup sebagai memori yang kelak akan diceritakan Anjani kepada putrinya.
Dukungan Jiwa dan Kehidupan Setelah Duka
Kini, rumah di Deyangan yang biasanya hening berubah ramai oleh pelayat. Tenda-tenda darurat berdiri, karangan bunga duka berdatangan dari anggota DPR RI hingga lembaga kajian. Warga dan pejabat lokal bergantian menawarkan pelukan dan doa. Gotong royong ini bukan hanya untuk mengiringi pemakaman Sertu Ichwan yang rencananya digelar 2 April 2026, melainkan juga menjadi pagar hati yang menguatkan Anjani. Beban hidup sebagai ibu sekaligus ayah bagi putrinya baru dimulai. Perjalanan kehidupan setelah duka ini berat, namun tidak sendiri. Dukungan dari institusi dan tetangga menjadi pelipur, mengajarkan bahwa di balik seragam prajurit ada keluarga yang tak pernah ditinggalkan.
Anjani perlahan belajar memaknai dua peran yang kini ia pikul. Setiap kali bayinya tersenyum, ia seperti mendengar bisikan semangat dari sang suami. Ia berjanji akan menjaga komunikasi keluarga yang dulu dibangun Sertu Ichwan dengan penuh cinta, melalui cerita-cerita tentang ayahnya yang pemberani. Pendampingan komunikasi yang dulu dilakukan sang suami lewat panggilan video, kini bertransformasi menjadi monolog batin yang menguatkan. Kehilangan ini memang meninggalkan luka, namun juga menumbuhkan akar ketahanan baru—sebuah bukti bahwa cinta dan pengorbanan seorang prajurit akan terus hidup dalam jiwa keluarga yang ditinggalkan.
Entitas yang disebut
Orang: Handita Anjani, Muhammad Nur Ichwan
Organisasi: Satgas Yonmek TNI Konga XXIII-S UNIFIL, DPR RI
Lokasi: Lebanon, Dusun Deyangan, Magelang