Keluarga
Istri Prajurit TNI AD di perbatasan Papua ini berhasil bangun usaha kue kering, dukung ekonomi keluarga
Di perbatasan Papua, Yuliana, istri seorang prajurit TNI AD, mengubah rindu dan kecemasan menjadi berkah lewat usaha kue kering rumahan. Berbekal pelatihan Persit dan resep keluarga, ia kini meraup omzet jutaan rupiah sambil menularkan kekuatan kepada anak-anaknya. Kisahnya menggambarkan kemandirian dan ketangguhan perempuan di balik tugas mulia para penjaga negeri.
Di perbatasan Indonesia-Papua Nugini, di Kabupaten Keerom, Papua, deretan rumah dinas sederhana menjadi saksi bisu perjuangan keluarga prajurit. Di salah satu rumah itu, Yuliana (34) menjalani hari-harinya dengan anak-anak sembari merajut asa. Suaminya adalah prajurit TNI AD yang bertugas di pos perbatasan, menjaga kedaulatan negeri. Jarak dan sunyi kerap menyapa, namun bagi Yuliana, itu bukan alasan untuk menyerah. Justru dari situlah lahir sebuah usaha kue kering yang kini menghidupi ekonomi keluarga kecilnya.
Dari Pelatihan Persit Menjadi Berkah Dapur
Berawal dari pelatihan keterampilan yang diselenggarakan Persit Kartika Chandra Kirana, Yuliana memberanikan diri menekuni resep kue warisan keluarga. Dengan oven sederhana, ia mencoba membuat nastar, kastengel, dan kue kering lainnya. Awalnya hanya untuk mengisi waktu, lalu menawarkan ke tetangga sekitar. “Awalnya coba-coba, tapi ternyata banyak yang suka,” kenangnya. Respons hangat itu memacu semangatnya. Pesanan mulai berdatangan, dari kantin-kantin satuan hingga acara resmi di wilayah Keerom. Bahkan, kue buatannya pernah dikirim sebagai oleh-oleh khas perbatasan dalam peringatan HUT TNI. Dukungan dari Komandan Satgas dan rekan suami membuat nama Yuliana semakin dikenal. Kini, omzet bersihnya sekitar Rp3 juta per bulan—cukup untuk membiayai sekolah kedua anaknya. Lebih dari itu, dapur mungilnya menjadi saksi bagaimana istri prajurit bisa berdaya di tengah keterbatasan.
Loyang Kue, Terapi Rindu, dan Kekuatan Seorang Ibu
Menjadi istri prajurit di Papua bukan perkara ringan. Ketika suami harus bertugas dalam waktu lama dan komunikasi sering terputus, kecemasan dan rindu bercampur aduk. Namun, Yuliana memilih tidak larut dalam kesepian. Baginya, kesibukan membuat kue menjadi terapi jiwa. Di balik loyang dan aroma mentega, ia menuangkan seluruh cinta dan rindunya. Saat anak-anak bertanya kapan ayah pulang, ia mengajak mereka membantu di dapur. “Biar mereka paham bahwa kami tetap kuat, meski ayah jauh,” tuturnya terbata. Momen-momen itu mengajarkan anak-anak tentang ketabahan dan kemandirian. Usaha kue ini bukan sekadar penopang ekonomi—ia adalah cara seorang ibu merawat asa, memastikan keluarga tetap hangat meski terpisah jarak. Setiap butir kue seolah menjadi pengingat bahwa cinta tak pernah luntur oleh letak geografis.
Kisah Yuliana adalah satu dari ribuan potret ketangguhan istri prajurit di pelosok negeri. Di balik seragam loreng dan sepatu lars, ada para perempuan yang berjuang tanpa tanda jasa: mengasuh anak, menjaga rindu, dan menciptakan kemandirian di tengah segala keterbatasan. Dari dapur kecilnya di Keerom, Yuliana membuktikan bahwa jarak dan tugas negara bukan penghalang untuk berkarya. Justru dari sanalah lahir kekuatan baru yang menghangatkan banyak orang—seperti kue kering yang ia hasilkan dengan sepenuh hati.
Entitas yang disebut
Orang: Yuliana
Organisasi: TNI AD, Persit Kartika Chandra Kirana, TNI
Lokasi: Papua, Kabupaten Keerom, perbatasan RI-PNG