Inspirasi
Istri Sersan Penerbang TNI AD di Semarang Bangun Panti Asuhan dari Limbah Helikopter, Diresmikan oleh Aster Kasdam IV/Diponegoro
Dari tumpukan limbah helikopter di Semarang, istri seorang sersan penerbang TNI AD membangun panti asuhan yang kini menaungi 38 anak yatim piatu. Didukung puluhan istri prajurit, bangunan itu menjadi simbol hangat pengabdian keluarga prajurit. Cerita ini mengajarkan bahwa rumah bukan hanya tentang dinding, melainkan tentang hati yang rela memeluk.
Di hanggar Skadron 31/Serbu Lanumad Ahmad Yani, Semarang, tumpukan besi tua dan rangka helikopter bekas biasanya hanya menunggu dilelang. Namun, di mata Nyonya Arini Kusuma, istri dari Sertu Penerbang Muda Yohanis Riwu, pemandangan itu justru membangkitkan naluri seorang ibu: keinginan membangun rumah bagi anak-anak yang kehilangan pelukan orang tua. Terinspirasi pengabdian suaminya sebagai sersan penerbang TNI AD, Arini melihat potensi kemanusiaan di balik dinginnya besi. Selama dua tahun, ia menggerakkan puluhan istri prajurit mengubah limbah helikopter menjadi tempat berteduh—sebuah panti asuhan yang kini berdiri hangat di pinggiran Semarang.
Dua Tahun Mengubah Besi Tua Menjadi Rumah Harapan
Perjalanan Arini tidak sederhana. Mantan arsitek ini merancang sendiri bangunan Panti Asuhan Cakra Dirgantara yang menyerupai miniatur hanggar—pengingat bahwa tempat ini lahir dari dunia penerbangan yang akrab dengan keluarganya. Bersama puluhan istri prajurit Skadron 31/Serbu, mereka menggalang donasi, menyisihkan uang belanja, bahkan membeli kembali besi-besi bekas serta komponen helikopter dari pelelangan internal TNI AD. Lebih dari sekadar membangun fisik, para pendamping prajurit ini bergotong royong mencangkul, mengecat, hingga menyusun bata. “Setiap akhir pekan kami berkumpul, bekerja sambil bercerita tentang anak-anak yang akan tinggal di sini. Rasanya seperti menyiapkan kamar untuk keluarga sendiri,” kenang Arini. Panti yang diresmikan pada Maret 2025 itu kini menjadi rumah bagi 38 anak yatim piatu dari keluarga tidak mampu di sekitar pangkalan. Bagi Arini, angka itu bukan sekadar data, melainkan 38 nyawa kecil yang kembali memiliki alamat untuk pulang.
Mengasuh dengan Hati, Menjadi Bunda bagi yang Kehilangan
Kehangatan panti ini tidak hanya terpancar dari dindingnya, tetapi dari rutinitas para ibu asuh yang setiap hari hadir. Para istri prajurit secara bergiliran mengajar keterampilan, memasak bersama, dan mendongeng sebelum tidur. Mereka menyebut diri “bunda asuh”, sebutan yang dengan cepat melekat di hati anak-anak panti. Arini sendiri kerap menghabiskan sore di sana, menepati janji yang ia buat saat pertama kali melihat tumpukan limbah. “Suami saya mengajari saya arti pengabdian. Saya tidak bisa terbang, tapi saya bisa membangun sarang untuk anak-anak yang kehilangan rumahnya,” ujarnya dengan mata berbinar. Kalimat itu menggema di antara deru mesin helikopter yang sesekali terdengar dari kejauhan, seolah mengingatkan bahwa di balik latihan tempur dan misi penerbangan, ada hati yang tetap lembut dan memeluk.
Inisiatif ini mendapat dukungan penuh dari TNI AD. Aster Kasdam IV/Diponegoro, yang meresmikan langsung panti tersebut, memberikan hibah tahunan untuk operasional. Momen peresmian menjadi haru ketika anak-anak menyambut tamu dengan lagu “Tanah Airku”. Nyanyian itu seakan menjadi doa syukur dari 38 hati kecil yang kini memiliki tempat untuk tumbuh dan bermimpi. Bagi keluarga besar Skadron 31, panti asuhan ini bukan sekadar bangunan dari limbah—ia adalah bukti bahwa cinta dan pengabdian prajurit juga mewujud dalam tindakan nyata, bahkan oleh tangan-tangan lembut para istri yang setia mendukung dari belakang. Di setiap denting logam yang dulu menjadi alat perang, kini bergema tawa anak-anak, dan itu adalah bahasa kasih yang paling jujur.
Entitas yang disebut
Orang: Arini Kusuma, Yohanis Riwu
Organisasi: Panti Asuhan Cakra Dirgantara, TNI AD, Skadron 31/Serbu, Lanumad Ahmad Yani, Kasdam IV/Diponegoro
Lokasi: Semarang