Inspirasi
Kakek Mantan Prajurit TNI Jadi Pengayom Anak-anak di Kompleks Perumahan TNI
Di kompleks perumahan TNI, M. Thohir (72), pensiunan prajurit yang disapa Mbah Tentara, menghabiskan masa lansianya dengan menjadi pengayom bagi puluhan anak yang ayahnya kerap bertugas jauh. Dengan tulus ia membuka ruang belajar dan mendongeng gratis, menyediakan buku serta camilan dari uang pensiunnya, sekaligus menjadi oase bagi para ibu yang berjuang sendiri. Kisahnya menjadi potret pengabdian tanpa batas usia yang menguatkan ketahanan keluarga prajurit dari lingkungan terdekat.
Di ujung gang sebuah kompleks perumahan TNI, senja selalu tiba bersama derap kaki kecil yang berlarian riang. Tujuan mereka satu: rumah beratap seng biru dengan kursi rotan usang di terasnya. Di sana, seorang kakek berambut putih duduk dikelilingi buku cerita bergambar dan piring kecil berisi camilan. Dialah M. Thohir, 72 tahun, pensiunan prajurit TNI AD yang akrab disapa Mbah Tentara. Di usianya yang senja, ia tak memilih sunyi. Justru setiap sore, rumahnya berubah menjadi ruang bimbingan belajar dan mendongeng yang hangat—tempat puluhan anak menemukan sosok pengayom, ketika ayah mereka sedang bertugas jauh dari rumah.
Sosok Ayah di Tengah Sunyi yang Menghantui
Di lingkungan TNI ini, banyak keluarga muda yang harus rela melepas suami dan ayah selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, untuk tugas operasi atau pendidikan militer. Rasa rindu dan cemas bukan hanya milik para ibu, tetapi juga anak-anak yang tiba-tiba kehilangan pelukan hangat di malam hari. Pak Thohir paham betul luka kecil itu. Dulu, ia pun pernah menjalani masa-masa jauh dari keluarga saat masih aktif berdinas. Kini, ia hadir sebagai pengabdian tak resmi, mengisi kekosongan dengan dongeng keberanian, persahabatan, dan mimpi-mimpi kecil yang ia yakini bisa tumbuh besar. “Dulu saya menjaga bangsa, sekarang saya ingin menjaga generasi penerus, dimulai dari lingkungan sendiri,” ujarnya dengan mata berbinar.
Bagi anak-anak, Mbah Tentara bukan sekadar kakek tua. Ia adalah pendengar setia yang sabar mendengarkan cerita tentang mainan baru, nilai ulangan, atau kerinduan pada ayah yang tak kunjung pulang. Setiap coretan pensil dan tawa lepas di teras itu menjadi saksi bagaimana lansia ini mengubah masa tuanya menjadi ladang kasih yang terus berbuah. Uang pensiunannya ia sisihkan untuk membeli buku bacaan, susu kotak, dan kue-kue kering—semua habis diserbu tangan mungil tanpa biaya sepeser pun. Di sudut ruang tamu, papan tulis kecil berdiri, tempat ia mengajari membaca, berhitung, atau sekadar menggambar bersama. Kegiatan peduli anak ini bukan sekadar hobi, melainkan panggilan hati yang tak pernah padam, membuat hari-hari sepinya penuh makna.
Oase bagi Ibu yang Menanti
Tak hanya anak-anak, kehadiran Pak Thohir juga menjadi oase bagi para ibu muda. Ketika suami bertugas di perbatasan atau ikut latihan berhari-hari, mereka harus mengelola rumah dan membesarkan anak sendirian. Kelelahan, sepi, dan kekhawatiran adalah teman sehari-hari. Namun, sore hari di rumah Mbah Tentara memberi jeda yang sangat dinanti. Anak-anak mendapat ruang bermain dan belajar yang aman, sementara para ibu bisa sejenak menghela napas, bertukar cerita di teras sambil menunggui. Pak Thohir kerap berbagi kisah masa dinasnya yang penuh perjuangan, menanamkan kebanggaan pada anak-anak akan profesi ayah mereka. Ia bukan hanya mengajar, tetapi juga mengasuh hati-hati kecil yang kerap kehilangan hangat pelukan, sekaligus menguatkan para ibu bahwa pengorbanan mereka dilihat dan dihargai oleh lingkungan TNI yang mengelilingi.
Kisah Pak Thohir mengajarkan bahwa pengabdian tak mengenal pensiun. Di tengah kompleks yang kadang sunyi ditinggal para prajurit bertugas, seorang lansia memilih untuk tetap menyala. Dari teras rumah sederhana, ia merawat ketahanan keluarga-keluarga kecil yang menjadi tulang punggung negeri—bukan dengan senjata, melainkan dengan cerita, camilan, dan senyum yang selalu tersedia. Bagi para ibu, ia adalah pengingat bahwa mereka tak sendiri. Dan bagi anak-anak, rumah Mbah Tentara adalah bukti bahwa ada sosok penjaga yang akan selalu ada, bahkan ketika ayah harus pergi.
Entitas yang disebut
Orang: M. Thohir
Organisasi: TNI AD