Keluarga

Kakek Prajurit TNI AL yang Berusia 80 Tahun Rutin Menjemput Cucu dari Sekolah Meski Jarak 15 Km

10 Juni 2026 Semarang, Jawa Tengah 2 views

Kakek Mulyono, 80 tahun, dengan setia mengayuh sepeda ontel sejauh 15 km setiap hari untuk menjemput cucunya yang berusia 10 tahun, sebagai bentuk dukungan bagi anaknya yang bertugas sebagai prajurit TNI AL. Meski sang komandan memberikan bantuan motor, ia tetap memilih bersepeda karena kebiasaan sehat dan kebahagiaan yang ia rasakan. Kisah ini menjadi cermin rantai dukungan keluarga yang kuat di balik pengabdian seorang prajurit.

Kakek Prajurit TNI AL yang Berusia 80 Tahun Rutin Menjemput Cucu dari Sekolah Meski Jarak 15 Km

Di sebuah sudut kota kecil, setiap sore ada pemandangan yang mengharukan: seorang kakek berusia 80 tahun mengayuh sepeda ontel tuanya sejauh 15 kilometer, menembus terik dan kadang hujan, demi menjemput cucu semata wayangnya dari sekolah. Dialah Mulyono, ayah dari seorang prajurit TNI AL yang tengah mengabdi di lautan luas di atas kapal perang. Bagi banyak orang, perjalanan sejauh itu mungkin terasa melelahkan, tapi tidak bagi Mulyono. Setiap kayuhan adalah wujud cinta dan pengorbanan yang tulus, menjadi jembatan antara si kecil Ardi dengan rasa aman, di tengah kepergian sang ayah yang bertugas jauh dari keluarga.

Rutinitas Sederhana yang Menopang Keluarga Prajurit

Ardi, bocah berusia 10 tahun, telah lama terbiasa dengan kepergian ayahnya. Ibunya harus bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan rumah, sehingga Kakek Mulyono mengambil peran penting: sebagai pengantar dan penjemput andal. “Saya hanya ingin memastikan cucu saya selamat sampai rumah, sekaligus membantu anak saya yang sedang bertugas di laut. Ini kebahagiaan saya,” ujar Mulyono dengan senyum yang tak pernah pudar. Kata-katanya sederhana, tetapi mengandung makna dalam tentang pengabdian berlapis–bukan hanya sang ayah yang mengabdi untuk negeri, tetapi juga kakek yang mengabdi untuk keluarga kecil yang ditinggalkan.

Perjalanan sejauh 15 kilometer bukan tanpa tantangan. Fisik yang menua kerap membuat langkahnya lebih lambat, namun semangatnya tak pernah kendur. Ardi, yang sangat sayang pada sang kakek, sering membanggakan ayahnya yang bertugas di kapal TNI AL, dan di sisi lain, ia pun merasa tenang karena ada sosok pelindung yang setia menemaninya. Hubungan hangat antara kakek dan cucu ini menjadi pengingat bahwa di balik tegapnya prajurit, ada keluarga yang ikut berjuang dengan cara mereka sendiri, memastikan tidak ada yang merasa sendirian.

Dukungan Tak Terduga dan Pilihan Sehat Sang Kakek

Kisah dedikasi Mulyono akhirnya terdengar hingga ke telinga komandan satuan anaknya. Tergerak oleh ketulusan sang kakek, komandan tersebut menginisiasi bantuan transportasi berupa sepeda motor agar perjalanan menjemput Ardi lebih ringan. Namun, Mulyono dengan rendah hati memilih tetap bersepeda. “Ini sudah menjadi kebiasaan sehat saya. Badan terasa segar, dan hati saya bahagia bisa terus bergerak,” tuturnya. Keputusan ini bukan sekadar menolak kemudahan, melainkan bukti ketahanan dan kemandirian keluarga prajurit yang sesungguhnya. Rantai dukungan di dalam keluarga ini begitu kuat: istri yang bekerja, kakek yang mengayuh, dan cucu yang tetap ceria di tengah jarak dengan sang ayah.

Pemandangan Kakek Mulyono dan Ardi di atas sepeda ontel tua adalah simbol cinta tanpa pamrih. Di saat prajurit TNI AL menjaga kedaulatan di lautan, di daratan, seorang kakek menjaga cucunya dari dinginnya rasa rindu. Transportasi sederhana seperti sepeda ontel pun bisa menjadi saksi bisu ikatan keluarga yang tak ternilai. Bagi para ibu dan keluarga yang membaca, kisah ini mungkin akan membawa haru sekaligus kebanggaan: bahwa pengorbanan seorang prajurit tidak hanya ia pikul sendiri, tetapi ditopang oleh bahu-bahu renta yang tetap rela berkorban. Pada akhirnya, yang paling mahal dari sebuah pengabdian adalah cinta yang terus mengalir di setiap generasi, mengayuh tanpa lelah, menempuh jarak demi sebuah kepulangan yang aman bagi yang dikasihi.

Entitas yang disebut

Orang: Mulyono, Ardi

Organisasi: TNI AL

Bacaan terkait

Artikel serupa