Keluarga
Kakek Purnawirawan TNI yang Setia Antar Jemput Cucunya ke Sekolah Setiap Hari
Di Bandar Lampung, seorang kakek purnawirawan TNI setia mengantar jemput cucunya setiap hari, mengisi kekosongan saat orang tua mereka bertugas negara. Lewat rutinitas sederhana ini, ia mewariskan disiplin dan kasih sayang, membuktikan bahwa pengabdian keluarga tak pernah pensiun—hanya berganti wujud menjadi keteladanan dan cinta yang tak lekang oleh waktu.
Pagi masih menyisakan embun tipis di Bandar Lampung ketika seorang lelaki berusia 70 tahun berseragam rapi menyalakan mesin mobilnya. Posturnya tegap, gerakannya terukur—jejak latihan militer yang tak sepenuhnya hilang. Dialah Kolonel (Purn) Sutrisno, seorang kakek purnawirawan yang kini menjalani "dinas" baru: mengantar jemput cucu-cucunya ke sekolah setiap hari. Bagi banyak orang, ini mungkin tampak seperti rutinitas biasa. Namun di balik setir mobil yang ia genggam, ada kisah pengabdian keluarga yang tak banyak diceritakan—saat dua prajurit muda, anak-anaknya, harus meninggalkan rumah demi menjalankan tugas negara. Hati para ibu dan keluarga prajurit pasti akrab dengan momen seperti ini: perasaan haru sekaligus bangga saat menitipkan buah hati pada tangan yang dipercaya, karena panggilan negara tak bisa ditunda.
Bahunya yang Dulu Bertugas, Kini Menopang Rindu
Sebagai purnawirawan, Sutrisno mengerti betul apa artinya berpisah dengan keluarga. Dulu, ia pernah berada di posisi yang sama: meninggalkan istri dan anak-anak demi panggilan dinas. Kini roda kehidupan berputar. Kedua orang tua dari cucu-cucunya itu—putra dan menantunya—sedang bertugas di luar kota, menitipkan dua buah hati mereka dalam dekapan kakek-nenek. Bagi keluarga prajurit, perpisahan semacam ini bukanlah hal baru, melainkan irama yang berulang dalam kehidupan. Namun di situlah letak kekuatannya: selalu ada tangan yang siap menyambut, hati yang siap mengasuh. Sutrisno dan istrinya tanpa ragu mengambil alih peran pengasuhan, mengisi kekosongan yang ditinggalkan tugas negara dengan limpahan kasih sayang. “Mendidik generasi penerus adalah tugas semua pihak, termasuk kakek-nenek,” ujarnya suatu kali, menegaskan bahwa pengabdian keluarga tak mengenal kata pensiun. Medan juangnya kini bukan lagi barak atau hutan, melainkan halaman sekolah dan ruang belajar di rumah. Setiap antar jemput adalah bukti nyata bahwa cinta seorang kakek purnawirawan bisa menjadi benteng bagi cucu yang dirundung rindu pada orang tua.
Mewariskan Disiplin dari Bangku Sekolah
Meski tak lagi berseragam dinas, nilai-nilai ketentaraan tetap melekat dalam diri Sutrisno. Tepat waktu, sopan santun, dan menghormati orang lain adalah pelajaran pertama yang ia tanamkan saat mengantar jemput cucu-cucunya. Ia tak perlu berteriak atau memberi aba-aba layaknya komandan batalyon—cukup dengan teladan yang ia jalani setiap hari. Anak-anak melihat, menyerap, dan meniru. Para guru di sekolah pun mengamini hasilnya: kedua cucu itu tumbuh menjadi pribadi yang sangat disiplin dan mudah menghargai sesama. Di mata sang kakek purnawirawan, ini bukan sekadar kebiasaan. Ini adalah warisan karakter yang akan menjaga cucu-cucunya seumur hidup—lebih berharga dari sekadar ijazah atau nilai rapor. Setiap antar jemput adalah kelas kehidupan yang berjalan tanpa buku pelajaran, mengajarkan bahwa pengabdian keluarga tak harus dalam bentuk yang megah, melainkan bisa dimulai dari ketepatan waktu berangkat ke sekolah. Bagi para ibu yang membaca, mungkin terbayang betapa tenangnya hati ketika tahu ada figur sekuat Sutrisno yang menjaga si kecil saat kita tak bisa hadir.
Warga sekitar kerap menyaksikan pemandangan haru ini. Seorang tetangga pernah berujar, “Melihat kakek itu setiap hari, kita jadi paham bahwa semangat pengabdian seorang prajurit tidak pernah pensiun. Ia hanya berubah bentuk menjadi cinta dan kesetiaan dalam keluarga.” Bagi komunitas di sekitarnya, Sutrisno adalah cermin bahwa peran seorang kakek bisa begitu dalam, melampaui sekadar menjemput dan mengantar. Ini tentang menenangkan gelisah anak-anak yang menunggu kabar dari orang tua mereka di perantauan tugas. Tentang menenun kembali rasa aman yang sempat renggang oleh jarak. Dan tentang pengabdian keluarga yang terus mengalir, dari generasi ke generasi, seperti napas yang tak pernah berhenti.
Entitas yang disebut
Orang: Sutrisno
Organisasi: TNI, Tribun Lampung
Lokasi: Bandar Lampung