Inspirasi

Kebun Hidroponik Keluarga: Anak 12 Tahun Prajurit TNI AU di Makassar Raih Juara 1 Lomba Karya Ilmiah Remaja Berkat Inspirasi Ayahnya

06 Juli 2026 Makassar, Sulawesi Selatan 4 views

Terinspirasi dari kebun hidroponik ayahnya yang seorang prajurit TNI AU di Makassar, Dinda Ayu Lestari (12) berhasil menciptakan sistem akuaponik bertingkat dari limbah drum dan meraih juara pertama lomba karya ilmiah remaja. Kisah ini menyoroti bagaimana momen kebersamaan sederhana dan teladan ketangguhan seorang ayah mampu menumbuhkan prestasi gemilang, sekaligus menjadi refleksi hangat tentang cinta, pengorbanan, dan ketahanan keluarga prajurit.

Kebun Hidroponik Keluarga: Anak 12 Tahun Prajurit TNI AU di Makassar Raih Juara 1 Lomba Karya Ilmiah Remaja Berkat Inspirasi Ayahnya

Senja di kompleks perumahan TNI AU Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar, sering menghadirkan pemandangan yang menghangatkan hati. Di antara deretan rumah dinas yang sederhana, seorang prajurit dengan seragam yang masih melekat selepas dinas, langsung menuju kebun hidroponik mungil di samping rumah. Dialah Pelda Tek. Budi Santoso, yang dengan telaten menyirami tanaman sambil bercerita kepada putri semata wayangnya, Dinda Ayu Lestari. Gadis 12 tahun itu duduk di bangku kecil, matanya berbinar mendengar kisah-kisah ayahnya tentang kemandirian dan arti menjaga kehidupan. Siapa sangka, dari kebun hidroponik yang hanya bermodalkan pipa bekas dan nutrisi sederhana itu, tumbuh benih-benih harapan yang kelak membawa Dinda meraih juara pertama dalam sebuah lomba karya ilmiah bergengsi.

Dari Tangan Kasar Ayah, Lahir Ide Cemerlang

Bagi keluarga prajurit TNI AU di Makassar, keterbatasan lahan bukanlah halangan untuk berkarya. Pelda Budi ingin mengajarkan kepada anaknya bahwa bertahan dan berinovasi adalah bagian dari jiwa seorang prajurit—dan itu bisa dimulai dari kebun sendiri. Setiap sore, tangan kasar yang biasa memegang peralatan teknis pesawat itu dengan lembut menunjukkan cara mencampur nutrisi, mengecek pH air, hingga memanen sayuran segar. “Ayah selalu bilang, kalau kita bisa menanam harapan di lahan sempit, kita juga bisa menumbuhkan mimpi di hati yang mau berusaha,” kenang Dinda, menirukan pesan ayahnya. Inspirasi itu kemudian melebur dengan rasa ingin tahunya yang besar. Melihat tumpukan limbah drum bekas di area bengkel dekat landasan, Dinda berpikir: mengapa tidak membuat sistem hidroponik bertingkat yang juga bisa menjadi tempat budidaya lele? Dengan begitu, selain panen sayur, keluarga prajurit bisa mendapatkan sumber protein murah tanpa perlu lahan tambahan.

Proses pembuatan prototipe itu menjadi momen kebersamaan yang langka. Di tengah kesibukan ayahnya sebagai anggota TNI AU, Dinda dan Pelda Budi rela menghabiskan akhir pekan untuk memotong, menyambung, dan mengecat drum-drum bekas. Dinda bertugas mencatat setiap percobaan, sambil sesekali bertanya, “Ayah, kenapa kita pakai lele? Kenapa tidak ikan lain?” Sang ayah pun menjawab dengan sabar, menjelaskan bahwa lele tahan banting, sama seperti semangat yang harus dimiliki seorang anak prajurit. Dari sinilah karya ilmiah bertajuk ‘Sistem Akuaponik Bertingkat dari Limbah Drum untuk Ketahanan Pangan Keluarga’ itu perlahan terwujud. Setiap tetes keringat yang jatuh di antara pipa-pipa hidroponik itu bukan hanya menyiram tanaman, tetapi juga menyuburkan keyakinan Dinda bahwa ia bisa membanggakan keluarganya.

Kemenangan yang Mengharukan: Pelukan di Balik Seragam

Saat lomba karya ilmiah remaja tingkat Sulawesi Selatan tiba, Dinda harus tampil sendiri mempresentasikan inovasinya. Ayahnya tak bisa mendampingi karena sedang menjalani tugas penting di hanggar. “Waktu itu rasanya deg-degan sekali. Tapi aku ingat pesan ayah, kalau prajurit itu harus tenang meski di bawah tekanan,” ujarnya. Presentasi yang lugas dan penuh keyakinan itu memukau dewan juri. Ketika namanya diumumkan sebagai juara pertama, air mata haru menetes di pipi Dinda. Ia tak menyangka, ide sederhana yang lahir dari kebun hidroponik di samping rumah bisa mengantarkannya pada pencapaian tertinggi. Saat akhirnya sang ayah bisa menghubunginya lewat panggilan video, Dinda hanya bisa memeluk layar ponselnya erat-erat. “Ayah, ini untuk Ayah. Makasih sudah ajarkan aku bercocok tanam dan pantang menyerah,” bisiknya lirih. Di ujung sambungan, Pelda Budi menyeka sudut matanya dengan ujung seragam.

Kisah Dinda dan Pelda Budi adalah potret indah tentang bagaimana cinta dan dedikasi seorang ayah prajurit mampu menumbuhkan prestasi dari hal-hal yang tampak remeh. Di balik kesibukan menjaga kedaulatan udara, para prajurit TNI AU di Makassar dan di mana pun juga menyimpan kisah-kisah menyentuh bersama keluarga mereka. Dari kebun hidroponik sederhana itu, Dinda belajar bahwa pengabdian tak hanya tentang siap siaga di landasan, tetapi juga tentang terus menanam kebaikan, sabar merawat mimpi, dan percaya bahwa panen akan tiba tepat pada waktunya. Bagi istri dan anak-anak prajurit, cerita ini adalah pengingat bahwa kehadiran, keteladanan, dan waktu bermutu bersama keluarga adalah pupuk ajaib bagi masa depan generasi penerus negeri.

Entitas yang disebut

Orang: Dinda Ayu Lestari, Budi Santoso, Yeni

Organisasi: SMPN 5 Makassar, Lanud Sultan Hasanuddin, TNI AU

Lokasi: Makassar, Sulawesi Selatan

Bacaan terkait

Artikel serupa