Keluarga
Kegigihan Istri Prajurit TNI AD Bangun Usaha UMKM di Tengah Kesibukan Mendidik Anak
Dari dapur sederhana di rumahnya, Nurlela merintis usaha UMKM dengan telaten memproduksi minuman herbal seperti jahe merah dan kunyit asam, serta aneka keripik singkong. Rasa lelah ia lawan dengan tekad kuat agar anak-anaknya melihat sosok ibu yang berdaya. Awalnya hanya menitipkan produk di warung sekitar, berkat kolaborasi dengan Dinas Koperasi yang memberikan pelatihan pemasaran digital, usaha rumahan itu kini mulai merambah marketplace. Di sela-sela mengurus anak dan rumah tangga, ia belajar mengelola penjualan daring secara mandiri, menjadi kisah inspiratif tentang ketangguhan dan pemberdayaan perempuan di lingkungan TNI AD.
Di sudut Lorong Wisata Kota Makassar, tangan Ibu Nurlela (36) lincah meracik minuman herbal sembari mengemas keripik singkong pesanan pelanggan. Dari luar rumah, riuh tawa dua anaknya menghidupkan sore—mengingatkan bahwa di sela kesibukan, hati kecilnya tak pernah lepas dari peran ibu. Suaminya, Serda Basri, adalah prajurit TNI AD dari satuan infanteri yang sehari-harinya berada di medan tugas dengan mobilitas tinggi. Bagi Nurlela, menjadi istri prajurit berarti merelakan banyak hal: kehangatan suami saat anak demam, pelukan di hari biasa, hingga kata-kata penyemangat saat lelah mendera. Namun dari ruang rindu itu, ia menumbuhkan keteguhan yang kini mengubah dapur kecilnya menjadi ruang pemberdayaan dan harapan.
Dari Dapur Kecil, Merajut Mimpi Kemandirian UMKM
Awalnya Nurlela hanya ingin hidup lebih berarti, tak sepenuhnya bergantung pada gaji suami. Titik balik itu datang saat ia mengikuti pelatihan kewirausahaan Persit Kartika Chandra Kirana, wadah pemberdayaan istri prajurit di lingkungan TNI AD. Sejak saat itu, dapur mungilnya disulap menjadi laboratorium kecil racikan jahe merah, kunyit asam, dan aneka keripik singkong. “Saya ingin anak-anak melihat ibunya juga bisa berdaya, tidak cuma ayahnya yang berjuang,” kenangnya lirih, menahan rindu yang selalu datang tanpa aba-aba. Di sela mengurus anak yang menanti perhatiannya, ia menata toples-toples dan belajar berjualan dari rumah. Peluh setelah mengasuh anak ia lawan dengan tekad—karena menjadi ibu sekaligus ‘ayah’ menuntut kelapangan hati yang tak terhingga.
Seiring waktu, UMKM rumahan ini tak lagi sekadar titipan di warung-warung sekitar. Dukungan Dinas Koperasi lewat pelatihan pemasaran digital membawanya merambah marketplace. Di tengah malam, saat anak-anak terlelap, Nurlela belajar mengunggah foto produk, membalas chat pelanggan, hingga mengemas paket pengiriman. Usahanya perlahan membuahkan hasil: pendapatan meningkat, cukup untuk biaya les bahasa Inggris kedua buah hati, bahkan merenovasi atap rumah yang dulu bocor tiap hujan. Bagi seorang istri prajurit, capaian ini bukan sekadar tentang uang, melainkan bukti bahwa keterbatasan waktu dan tenaga tak menyurutkan semangat tumbuh dan mandiri.
Bersama Komunitas, Kuat dalam Keterbatasan
Perjalanan Nurlela tak ia tempuh sendiri. Di Makassar, dukungan dari komandan Kodim dan para istri prajurit lainnya menjadi penyangga yang menguatkan. Ia rajin berbagi ilmu melalui “arisan bisnis”—pertemuan hangat di mana mereka bertukar resep, trik pemasaran, hingga saling menguatkan saat rasa lelah dan rindu pada suami yang bertugas jauh datang menghampiri. “Kami ini seperti saudara. Suami bertugas, kami tetap berdaya bersama,” tuturnya dengan mata berbinar. Komunitas ini menjadi bukti bahwa pemberdayaan perempuan di lingkungan TNI AD bukan sekadar program, melainkan napas solidaritas yang hidup.
Kisah Nurlela adalah cermin bagi banyak keluarga prajurit: di balik seragam loreng yang dibanggakan, ada tangan-tangan tangguh istri yang merawat harapan di rumah. Dengan pengorbanan yang tak terucap, mereka membuktikan bahwa cinta dan dukungan keluarga adalah fondasi pengabdian. Dan dari dapur kecil di sudut Makassar, semangat itu terus menyala—mengajarkan arti kemandirian dan kekuatan sejati dari ketulusan seorang ibu.
", "ringkasan_html": "Di tengah kesibukan mendidik anak dan rindu pada suami yang kerap bertugas, Nurlela—istri prajurit TNI AD di Makassar—berhasil membangun UMKM rumahan dari dapur kecilnya. Dukungan pelatihan dan komunitas membuatnya mandiri secara ekonomi, sekaligus menjadi bukti nyata pemberdayaan istri prajurit yang inspiratif.
" }Entitas yang disebut
Orang: Nurlela, Serda Basri
Organisasi: Persit Kartika Chandra Kirana, Dinas Koperasi, Kodim, TNI
Lokasi: Lorong Wisata Kota Makassar, Makassar