Keluarga
Kekhawatiran Ayah Prajurit: 'Saya Lebih Waswas Saat Anak Bertugas di Papua'
Di balik setiap langkah gagah seorang prajurit, ada hati orang tua yang berdetak dalam keprihatinan yang tak pernah usai. Iskandarudin, seorang ayah sekaligus mantan prajurit TNI, merasakan sendiri gelombang paradoks yang mengiris batin. Ketika putranya, Mayor Inf. Anumerta Zulmi Aditya Iskandar, menerima perintah untuk bergabung dengan kontingen Garuda UNIFIL di Lebanon, banyak kerabat mengira kecemasan terbesarnya tertuju pada misi perdamaian di negeri yang jauh itu. Namun kenyataan berkata lain: justru saat sang anak bertugas di Papua, perasaan was-was itu memuncak. Bagi seorang orang tua, perbandingan risiko antar medan penugasan bukanlah angka statistik, melainkan gelora hati yang tak bisa diukur dengan logika semata.
Dua Medan, Satu Keprihatinan Seorang Ayah
\"Saya justru khawatir waktu dia ditugaskan ke Papua. Kalau di Lebanon ini kan misi perdamaian,\" tutur Iskandarudin, menyiratkan perbandingan risiko yang jarang terungkap di ruang publik. Baginya, misi PBB di Lebanon memiliki kerangka aturan yang jelas dan payung hukum internasional yang kokoh. Sementara itu, kabar yang berembus dari Papua justru melahirkan keprihatinan yang lebih personal dan menggerogoti ketenangan. Dinamika konflik asimetris, ancaman yang tak kasatmata, dan medan yang sulit diprediksi membuat naluri seorang ayah menjerit setiap kali membayangkan putranya di sana. Meski ia sendiri pernah merasakan kerasnya tugas militer, tetap saja baju seragam yang dikenakan anaknya adalah perjanjian diam-diam dengan pengorbanan yang tak ingin ia bayangkan.
Ironi takdir kemudian membuktikan bahwa peta kecemasan manusia sering kali meleset. Zulmi, yang awalnya dianggap berada di medan yang “lebih aman”, justru menemui pengorbanan tertinggi di Lebanon. Kepergiannya sebagai Mayor Inf. Anumerta menjadi tamparan bagi keluarga bahwa tidak ada tempat bertugas yang benar-benar steril dari bahaya. Bagi orang tua, perbandingan risiko hanyalah topeng dari ketidakberdayaan: mereka ingin anaknya tetap hidup, di mana pun bumi tempat ia mengabdi. Sementara itu, perbandingan semacam ini terasa bagai pedang bermata dua bagi para istri dan ibu di rumah. Membayangkan suami atau putra di Papua mendatangkan kewaspadaan yang menyesaki malam-malam, namun membayangkan mereka di Lebanon di bawah bendera PBB terkadang memberi sedikit ruang untuk bernapas—meskipun hanya ilusi.
Hati yang Tak Pernah Sepi dari Doa dan Tangis
Menjadi seorang ibu atau istri prajurit adalah belajar menata hati dalam sunyi. Telepon yang berdering tengah malam, berita gejolak di tanah Papua, atau justru laporan dari misi perdamaian di Lebanon—semuanya memicu getaran yang sama: cemas. Mereka tersenyum di depan anak-anak, menenangkan keluarga besar, namun di dapur yang temaram atau di sela doa sebelum tidur, air mata sering mengalir tanpa suara. Keluarga Iskandarudin bukanlah pengecualian. Dengan dua generasi yang mengabdi, rumah ini adalah benteng ketahanan emosional yang nyaris tak pernah mendapat sorotan. Dukungan memang bahan bakar utama, namun keprihatinan adalah bayangan yang setia membuntuti setiap langkah. Dari sudut pandang orang tua, setiap surat perintah adalah lompatan iman yang mengguncang fondasi hati.
Kini, ketika nama Zulmi dikenang sebagai pahlawan, kenangan akan perbandingan risiko yang dulu diutarakan ayahnya menjadi cermin yang memantulkan luka dan kearifan. Keluarga prajurit memahami bahwa tidak ada rumus pasti untuk mengukur bahaya. Yang tersisa hanyalah kasih yang merajut doa-doa, harapan yang digenggam erat, dan ketabahan untuk melanjutkan hari meski hati sering kali remuk. Bagi para ibu dan istri yang menanti di rumah, setiap detik adalah perang batin: antara bangga yang membuncah dan rindu yang memar. Dalam diam, mereka mengajarkan bahwa pengabdian sejati tak hanya milik yang berseragam, tetapi juga milik mereka yang mengasihi tanpa pamrih di balik layar.
", "ringkasan_html": "Seorang ayah mantan prajurit mengungkapkan keprihatinan terdalamnya justru saat sang anak bertugas di Papua, bukan di Lebanon—sebuah perbandingan risiko yang menyayat hati. Ironisnya, putranya gugur justru dalam misi perdamaian PBB yang dianggap lebih aman. Kisah ini mengingatkan bahwa bagi keluarga prajurit, kecemasan dan pengorbanan adalah sahabat setia tanpa mengenal medan.
" }Entitas yang disebut
Orang: Iskandarudin, Zulmi Aditya Iskandar
Organisasi: TNI, Kontingen Garuda, UNIFIL
Lokasi: Lebanon, Papua