Inspirasi
Keluarga Prajurit Gugur di Lebanon Terima Santunan Risiko Kematian Khusus
Keluarga Mayor Inf. Anumerta Zulmi Aditya Iskandar menerima Santunan Risiko Kematian Khusus dari PT Bank Mandiri Taspen dan PT ASABRI, sebagai wujud apresiasi negara dan penghormatan atas pengorbanan almarhum yang gugur dalam misi perdamaian di Lebanon. Dukungan finansial ini diharapkan menjadi penguat bagi istri dan anak-anak yang ditinggalkan, agar mereka tetap tegar melanjutkan hidup meski kehilangan sosok ayah dan suami tercinta.
Di bawah rindang pepohonan Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung, pagi itu terasa begitu syahdu sekaligus berat. Di tengah kabut duka yang masih tebal, keluarga Mayor Inf. Anumerta Zulmi Aditya Iskandar menerima uluran tangan hangat dari negeri ini. Santunan Risiko Kematian Khusus (SRKK) diserahkan secara simbolis—bukan sekadar nominal, melainkan wujud apresiasi negara yang terdalam. Direktur Utama PT Bank Mandiri Taspen, Panji Irawan, yang menyerahkan langsung santunan itu, menegaskan bahwa ini adalah bentuk penghormatan yang diharapkan menjadi penyangga moral dan napas lega bagi keluarga yang ditinggalkan. Hadir pula Direktur Utama PT ASABRI, memperkuat komitmen melindungi para pahlawan dan orang-orang tercinta mereka.
Lebih dari Sekadar Santunan: Pelukan untuk Hati yang Retak
Kepergian Mayor Zulmi bukan hanya kehilangan seorang prajurit. Bagi istri dan anak-anaknya, ia adalah tiang rumah yang tiba-tiba runtuh. Setiap malam menanti kabar dari negeri misi, setiap doa yang dipanjatkan dalam diam, kini berganti ruang hampa yang begitu dalam. Istri sang mayor, dengan mata sembab namun tegar, menerima dukungan finansial itu dengan tangan bergetar. Bukan nominal yang ia pikirkan, melainkan segenap memori perpisahan terakhir di bandara—saat suaminya masih tersenyum, berjanji pulang membawa cerita dari tanah misi. Dukungan seperti ini memang tak akan pernah bisa menggantikan peluk hangat seorang ayah yang biasa mendongeng sebelum tidur, atau suami yang selalu menenangkan hati saat gelisah melanda. Namun bagi keluarga prajurit, santunan ini adalah jembatan agar anak-anak tetap bisa bermimpi tinggi, melanjutkan sekolah, dan menjalani hidup tanpa harus kehilangan lebih banyak lagi.
Air Mata di Bandara: Saat Sang Merah Putih Jadi Saksi Duka
Sehari sebelum penyerahan santunan, Sabtu (4/4/2026), Bandara Soekarno-Hatta berubah menjadi lautan tangis. Tiga peti jenazah prajurit TNI yang gugur di Lebanon tiba, diselimuti bendera merah putih yang khusyuk. Salah satunya membawa pulang Mayor Zulmi. Begitu peti itu mendekat, sang istri tak kuasa menahan diri. Ia memeluk peti kayu yang dingin, seolah ingin menghangatkannya kembali dengan cinta yang tak pernah padam. Anak-anak mereka berdiri terpaku, mungkin masih mencoba memahami mengapa ayah yang dulu menggendong mereka kini pulang tanpa suara. Presiden Prabowo Subianto turut hadir memberikan penghormatan terakhir, menggenggam tangan keluarga yang berduka—sebuah isyarat bahwa pengorbanan ini tak pernah dianggap kecil oleh negara.
Bagi keluarga prajurit, misi perdamaian bukanlah cerita heroik di layar kaca. Ia adalah pisau bermata dua: di satu sisi kebanggaan, di sisi lain kecemasan yang tak pernah usai. Santunan dan penghormatan dari negara adalah bisikan lirih bahwa negeri ini tak akan melupakan. Di balik setiap lembar rupiah yang diserahkan sebagai apresiasi negara, ada doa agar anak-anak tetap bisa tersenyum, agar istri tetap memiliki kekuatan untuk bangkit. Karena sejatinya, pengabdian seorang prajurit bukan hanya milik negara, melainkan juga cinta tanpa batas yang ia titipkan pada keluarga kecilnya. Kini, di rumah yang terasa lebih sepi, semangat Mayor Zulmi harus terus hidup—dalam mimpi anak-anaknya dan dalam kehangatan kenangan yang tak akan pernah lekang oleh waktu.
Entitas yang disebut
Orang: Mayor Inf. Anumerta Zulmi Aditya Iskandar, Panji Irawan, Prabowo Subianto
Organisasi: PT Bank Mandiri Taspen, PT ASABRI, TNI
Lokasi: Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung, Lebanon, Bandara Soekarno-Hatta