Kisah TNI
Keluarga Prajurit TNI AD Penjaga Perbatasan RI-Malaysia di Entikong: Anak 4 Tahun Baru Tahu Wajah Ayah dari Foto di Dinding, Saat Akhirnya Bertemu Ia Panggil 'Om'
Bertugas 18 bulan di garda terdepan, seorang prajurit TNI harus menelan pil pahit saat anaknya yang berusia 4 tahun memanggilnya "Om" karena hanya mengenal sosok ayah lewat foto di dinding. Di balik peristiwa itu, terukir ketabahan seorang ibu yang menjadi pilar tunggal keluarga dan penjaga ingatan sang buah hati. Kisah dari perbatasan Entikong, Malaysia ini menjadi cermin pengorbanan tak kasatmata para keluarga prajurit.
Di perbatasan darat Entikong, Kalimantan Barat, garis yang memisahkan Indonesia dan Malaysia bukan sekadar goresan di peta. Ia adalah jurang sunyi yang membentang antara seorang ayah dan tawa kecil anaknya, antara seorang istri dan pelukan suaminya. Selama 18 bulan, seorang prajurit TNI AD menjalani tugas suci menjaga kedaulatan negeri di pos lintas batas itu. Hanya dua kali kesempatan pulang ke rumahnya di Bandung ia dapatkan. Setiap kepulangan selalu menyimpan kisah haru yang tak pernah terduga—terutama bagi anak lelakinya yang baru berusia 4 tahun.
Bagi sang istri, waktu berjalan dalam balutan rindu yang dipeluk erat setiap malam. Sementara bagi sang buah hati, ayah hanyalah wajah dalam bingkai foto di dinding kamar; sosok yang sering diceritakan ibu, tetapi tak pernah benar-benar hadir dalam dekapan nyata. Di sinilah, di balik gagahnya seragam loreng dan kokohnya tapal batas, tersimpan cerita tentang cinta yang diuji oleh jarak. Ini adalah potret getir yang mungkin hanya bisa dimengerti oleh keluarga dengan pengabdian jarak jauh, sebuah pengorbanan yang seringkali tak kasatmata.
Ketika Ayah Pulang dan Dipanggil 'Om'
Hari yang dinanti akhirnya tiba. Sang prajurit melangkah ke dalam rumah dengan dada berdebar—mungkin lebih kencang ketimbang saat berjaga di pos perbatasan Entikong dekat Malaysia. Namun, sambutan yang ia terima bukanlah pelukan kecil yang selama ini ia rindukan. Bocah itu justru mundur perlahan, bersembunyi di balik punggung ibunya, lalu menatap sang ayah dengan mata polos yang tak mengenali. "Om," panggilnya lirih. Sebutan yang jamak disematkan pada orang asing itu menghunjam tepat di relung hati sang ayah. “Hati saya hancur, tapi saya paham. Ini konsekuensi tugas kami,” ungkapnya dengan suara bergetar. Butuh waktu dua minggu penuh bagi anak itu untuk berani mendekat, menyentuh, dan perlahan mengakrabi pria yang sebenarnya adalah ayah kandungnya. Dua minggu yang seolah mengajarkan kembali arti kehadiran: bahwa cinta memerlukan lebih dari sekadar cerita dan lembaran foto di dinding.
Ketabahan Sang Ibu: Menjaga Ingatan di Tengah Rindu
Di balik perjuangan memulihkan ikatan itu, ada sosok ibu yang luar biasa. Ia bukan sekadar istri yang menunggu; setiap hari ia membagi waktu antara bekerja sebagai admin di sebuah klinik swasta dan mengasuh putra kecilnya seorang diri. Setiap malam, dengan kesabaran bak pendongeng, ia bercerita tentang sang ayah sembari menunjuk foto-foto yang tertempel di dinding. “Setiap malam saya ceritakan tentang ayahnya sambil tunjuk foto. Tapi tetap saja butuh waktu nyata untuk bonding,” tuturnya. Ia sadar, gambar hanya bisa menjadi jendela, bukan pelukan. Ia adalah ibu yang merangkap ‘pencerita’, berusaha agar anaknya tak benar-benar kehilangan figur seorang ayah. Namun, ruang kosong yang ditinggalkan sang prajurit tak mungkin diisi hanya dengan kata-kata. Ketabahan para istri seperti dirinya seringkali tak kasatmata, padahal setiap hari mereka menenun harapan di tengah kekosongan, menjaga nyala rindu agar tak padam, dan memastikan bahwa saat sang ayah kembali, cinta masih bisa disambung—meski harus dimulai dari panggilan "Om".
Kisah dari Entikong ini mengingatkan kita bahwa pengabdian seorang prajurit adalah juga pengabdian seluruh keluarganya. Di balik setiap tapal batas yang tegak berdiri, ada doa-doa yang dipanjatkan dalam sunyi, ada air mata yang jatuh di bantal, dan ada pelukan hangat yang tertunda. Harga sebuah kedaulatan bukan hanya nyawa dan keringat, melainkan juga kepingan hati para istri dan anak yang rela membagi cinta dengan tanah air. Kini, tugas sang ayah adalah menenun kembali benang-benang kasih yang sempat renggang, membuktikan bahwa cinta sejati akan selalu menemukan jalan pulang, ke dalam dekapan yang paling dirindukan.
Entitas yang disebut
Organisasi: TNI AD
Lokasi: Entikong, Kalimantan Barat, Indonesia, Malaysia, Bandung