Kisah TNI
Kepulangan Tak Terduga: Sertu Marinir Pulang dari Natuna, Sang Balita Tak Kenali Ayahnya
Kepulangan Sertu Marinir Ridwan dari penjagaan di Natuna menghadirkan momen haru saat balita putranya, Arka, tak mengenalinya dan memanggilnya “Om”. Lewat proses dua hari yang penuh emosi dan dukungan cuti khusus 30 hari, ayah dan anak itu perlahan membangun kembali ikatan yang sempat renggang oleh jarak dan waktu.
Ruang tamu sederhana di sebuah rumah di Surabaya mendadak menjadi saksi bisu perpaduan rasa haru, lucu, dan sesak yang sulit diungkapkan. Sebuah video amatir yang direkam diam-diam oleh adik ipar seorang prajurit marinir telah mencuri perhatian banyak orang. Bukan karena aksi heroik di medan tugas, melainkan karena satu pertanyaan polos dari seorang balita yang langsung menghunjam hati siapa pun yang mendengarnya.
“Itu Om Siapa, Bu?” – Ketika Ayah Disangka Orang Lain
Sertu Marinir Ridwan (29) akhirnya bisa kembali mencium aroma rumah setelah sepuluh bulan berjaga di perairan Natuna. Tubuhnya lebih kurus, kulitnya jauh lebih gelap terbakar matahari laut, dan ada lelah yang tak bisa disembunyikan di matanya. Namun, sambutan yang ia dapat justru mengiris dan menghangatkan hati di saat yang sama. Putra semata wayangnya, Arka (3), malah bersembunyi di balik sang ibu dan bertanya dengan polos, “Itu Om siapa, Bu?” Pertanyaan lugas itu sontak membuat ruangan hening. Bagi Diana (28), sang istri, setiap detik dalam rekaman itu adalah perpaduan antara bangga, haru, dan sesak yang tak tertahankan. Selama berbulan-bulan, Arka hanya mengenal wajah ayahnya lewat layar ponsel saat video call. Kini, saat sang ayah hadir dalam wujud yang berbeda, bocah itu melihatnya sebagai orang asing—seorang “om” yang tiba-tiba ingin memeluknya. Diana menahan isak, menyadari betapa besar pengorbanan tak kasatmata yang harus ditanggung keluarga prajurit. Di balik seragam gagah, ada hati kecil yang harus belajar kembali mengenali sosok paling dekatnya.
Dua Hari Penuh Emosi: Dari “Om” Menjadi Ayah Kembali
Bagi Ridwan, panggilan “Om” dari mulut putranya adalah pukulan terberat yang pernah ia rasakan. “Saya sedih, tapi paham. Ini risiko profesi. Yang penting anak dan istri sehat, saya bisa tugas tenang,” tuturnya lirih, mencoba menegarkan hati. Ia tidak memaksa Arka untuk segera akrab. Dua hari penuh ia habiskan hanya dengan duduk di pojok ruangan, menyodorkan mainan kesukaan Arka, dan sesekali melemparkan senyum hangat. Pelan-pelan, benteng kecil itu runtuh. Arka mulai mendekat sendiri, lalu merangkak ke pangkuan ayahnya—sebuah momen kepulangan yang lebih emosional dari saat pelepasan keberangkatan. Diana menceritakan bagaimana air matanya kembali jatuh saat melihat putranya akhirnya tertidur di dada Ridwan. “Saya hanya menangis lihatnya. Tapi akhirnya bisa lega, karena saya tahu pelan-pelan Arka akan ingat lagi,” katanya, suaranya bergetar membayangkan memori yang kini tersimpan rapi di ponsel keluarga mereka.
Adegan-adegan kecil seperti ini menjadi pengingat bahwa proses pulang bukan sekadar tiba di depan pintu; ia adalah perjalanan emosi yang butuh waktu dan kesabaran. Pihak Korps Marinir TNI AL tampaknya memahami betul bahwa kepulangan seorang prajurit bukan hanya soal fisik, tetapi juga perjalanan psikologis yang perlu didukung. Atasan Ridwan memberinya cuti khusus selama 30 hari—waktu yang dianggap cukup untuk memulihkan ikatan batin antara ayah dan anak. Di tengah hangatnya momen haru, keluarga ini kembali disatukan oleh cinta yang tak luntur oleh jarak dan waktu. Bagi para ibu dan keluarga yang menyaksikan, kisah ini adalah cermin bahwa di balik setiap pengabdian, selalu ada hati-hati yang menanti, belajar merangkul kembali sosok pahlawan mereka yang sesungguhnya.
Entitas yang disebut
Orang: Ridwan, Arka, Diana
Organisasi: Korps Marinir TNI AL, Dinas Psikologi TNI AL
Lokasi: Surabaya, Natuna