Keluarga

Lebaran di Kapal Perang: Istri Prajurit KRI Banda Aceh Rela Berlayar 3 Hari Sambut Suami di Perairan Ambon, Tradisi 'Sahur Bahari'

06 Juli 2026 Ambon, Maluku 5 views

Momen Lebaran tahun ini menjadi sangat istimewa dan mengharukan bagi 25 keluarga prajurit KRI Banda Aceh-593 yang tengah bertugas dalam operasi pengamanan di perairan Ambon. Untuk melepas rindu, para istri rela menempuh perjalanan laut selama tiga hari dua malam dari Surabaya. Mereka nekat mengarungi lautan demi sebuah keyakinan bahwa perayaan Idulfitri terasa hampa tanpa kehadiran sang suami tercinta di sisi mereka.

Di antara rombongan, terdapat kisah istri seperti Ny. Putri Mardiana yang membawa rendang buatan sendiri. Meski terguncang mabuk laut sepanjang pelayaran, seluruh rasa sakitnya langsung sirna begitu melihat kapal suaminya, Kapten Haris Fadillah, dari kejauhan. Tak hanya itu, tiga orang istri yang tengah hamil besar juga turut serta dalam pelayaran penuh tantangan ini. Didukung penuh pengawalan TNI AL, mereka memberanikan diri melaut agar dapat mendengar lantunan azan merdu suami pada malam takbiran.

Puncak kebersamaan terjalin dalam tradisi hangat 'Sahur Bahari' di geladak kapal. Di bawah langit Ambon yang sunyi, keluarga-keluarga itu berkumpul menikmati hidangan sahur dan berdoa bersama. Gelak tawa dan takbir riang dari anak-anak yang berlarian di antara lampu warna-warni kapal perang berhasil mengubah suasana baja yang dingin menjadi ruang keluarga yang penuh cinta dan kehangatan.

Lebaran di Kapal Perang: Istri Prajurit KRI Banda Aceh Rela Berlayar 3 Hari Sambut Suami di Perairan Ambon, Tradisi 'Sahur Bahari'
{ "konten_html": "

Lebaran selalu menjadi waktu yang membuncahkan rindu, terutama bagi keluarga yang terbiasa terpisah oleh lautan luas. Tahun ini, 25 keluarga prajurit KRI Banda Aceh-593 merasakan langsung betapa mahalnya kebersamaan di tengah tugas operasi di perairan Indonesia Timur. Mereka rela menempuh perjalanan tiga hari dua malam dari Surabaya menuju Ambon, mengarungi laut dengan satu tekad: Lebaran tanpa pelukan suami terasa hampa. Di bawah langit Ambon yang masih bertabur bintang, pertemuan itu bukan sekadar reuni, melainkan perjamuan cinta yang menyatukan hati yang renggang oleh jarak.

Bertaruh Mabuk Laut Demi Satu Pelukan di Geladak Kapal

Di antara para istri yang berlayar, ada Ny. Putri Mardiana (31), istri dari Kapten Laut (P) Haris Fadillah. Dengan rendang buatan sendiri yang ia bawa sebagai buah cinta, Putri harus berjuang melawan mabuk laut yang tak henti menderanya sepanjang perjalanan. “Saya mabuk laut sepanjang perjalanan, begitu lihat kapal perang suami dari kejauhan, semua rasa sakit hilang,” tuturnya lirih. Kalimat sederhana itu menyimpan sejuta rasa: lelah, harap, dan cinta yang membuncah. Bukan hanya Putri, tiga istri lain yang tengah hamil besar turut serta. Dengan perut yang membuncit, mereka nekat melaut karena keyakinan bahwa suara azan yang didaraskan suami dari anjungan kapal akan membuat malam takbiran terasa utuh. Pihak TNI AL memastikan keamanan, namun gelora hati para istri jauh lebih besar dari deburan ombak.

Sahur Bahari: Hangat Keluarga di Atas Geladak Baja

Puncak haru terjadi saat tradisi Sahur Bahari digelar di geladak KRI Banda Aceh. Di bawah langit Ambon yang sunyi, para keluarga berkumpul, berdoa bersama, menikmati hidangan sahur yang disiapkan penuh kehangatan. Dua anak prajurit berlarian riang sambil mengumandangkan takbir, mengelilingi kapal perang yang dihias lampu warna-warni. Tawa mereka mengubah suasana baja yang dingin menjadi hangat penuh cinta. Komandan KRI Banda Aceh, Kolonel Laut (P) Adi Prasetyo, menyebut momen ini sebagai “dukungan moril tertinggi bagi prajurit kami.” Benar adanya, di tengah tugas berat menjaga kedaulatan negeri, kehadiran keluarga adalah pengingat mengapa mereka berjuang. Tradisi tahunan yang hanya bisa dilakukan saat kondisi operasional memungkinkan ini bukan sekadar santap sahur, melainkan oase yang mengisi ulang semangat para prajurit yang sehari-hari berlayar menjalankan misi.

Ketika fajar merekah, para istri kembali menyadari bahwa perpisahan akan datang lagi. Namun, di geladak kapal perang itu, mereka pernah merasakan Lebaran yang utuh. Suara takbir anak-anak bercampur debur ombak seolah menjadi doa bagi seluruh prajurit yang menjaga kedaulatan negeri. Bagi para istri, perjalanan tiga hari yang melelahkan itu terbayar lunas oleh satu malam yang menguatkan ketangguhan hati. Momen Sahur Bahari ini mengingatkan kita bahwa di balik seragam militer, ada cinta yang tak kenal lelah, dan di setiap pengorbanan, selalu ada harapan yang terus menyala.

", "ringkasan_html": "

25 keluarga prajurit KRI Banda Aceh-593 menempuh perjalanan laut tiga hari dari Surabaya ke Ambon demi merayakan Lebaran bersama. Di geladak kapal perang, tradisi Sahur Bahari menjadi oase cinta yang mengobati rindu, menguatkan jiwa, dan menegaskan bahwa di balik tugas negara, ada kebersamaan yang tak ternilai.

" }

Entitas yang disebut

Orang: Putri Mardiana, Haris Fadillah, Adi Prasetyo

Organisasi: TNI AL

Lokasi: Surabaya, Ambon, Perairan Indonesia Timur

Bacaan terkait

Artikel serupa