Kisah TNI
Letda Laut Riyantori Bangun Sekolah Impian di Pulau Terpencil untuk Anak Nelayan
Di Pulau Sapuka, Letda Laut (E) Riyantori dari TNI AL membangun Sekolah Bahari Nusantara untuk menyelamatkan masa depan anak nelayan yang nyaris putus sekolah. Dukungan penuh istri dan keluarga di Surabaya menjadi kekuatan di balik misinya, membuktikan bahwa pengabdian sejati lahir dari perpaduan cinta tanah air dan cinta keluarga.
Di Pulau Sapuka, Sulawesi Selatan, dulu pagi selalu diiringi degup cemas para ibu nelayan. Setiap kali anak-anak mereka harus menyeberangi selat berbahaya demi sampai ke sekolah, doa tak pernah lepas dari bibir. Kini, berkat tangan dingin seorang prajurit TNI AL, wajah-wajah kecil itu tak perlu lagi bertaruh nyawa. Cukup dengan langkah kaki menuju Sekolah Bahari Nusantara—bangunan sederhana yang berdiri sebagai mercusuar harapan di tengah keterbatasan. Di baliknya ada Letda Laut (E) Riyantori, yang hati nuraninya tergerak melihat anak-anak nelayan di pulau terpencil perlahan meninggalkan bangku sekolah karena jarak dan biaya.
Dari Keprihatinan ke Sekolah Impian
Semua berawal saat Riyantori bertugas di perairan sekitar Pulau Sapuka. Ia menyaksikan sendiri bagaimana pendidikan seolah menjadi barang mewah bagi anak nelayan. Banyak yang putus sekolah, bukan karena tak mau, melainkan karena tak mampu. “Saya ingin anak-anak ini punya masa depan yang lebih baik,” ujarnya lirih, dengan suara yang menyimpan ribuan tekad. Dengan mengumpulkan dana pribadi dan donasi, Riyantori membangun Sekolah Bahari Nusantara. Bukan sekadar gedung, sekolah ini adalah wujud nyata bahwa hak belajar adalah milik setiap anak Indonesia, termasuk mereka yang lahir di atas air. Kini, 45 murid merasakan ruang kelas yang layak. Para ibu di pulau itu tak kuasa menahan air mata haru; tak ada lagi was-was berlebihan setiap pagi. Anak-anak mereka kini bisa membaca dan menulis tanpa harus berjibaku dengan ganasnya laut.
Istri dan Keluarga: Kekuatan di Balik Misi
Di balik seragam putih kebanggaannya, ada sosok dr. Ratna, sang istri, yang menjadi penopang misi kemanusiaan ini. Sambil memberikan layanan kesehatan gratis bagi warga pulau, Ratna harus merelakan suami dan dua anak mereka tinggal terpisah di Surabaya. Rindu adalah teman setia, namun pelukan hangat melalui telepon dan video call selalu menjadi penguat di kala lelah menghadang. “Misi ini bukan sekadar tugas, melainkan panggilan jiwa. Kami sebagai keluarga hanya bisa mendukung sepenuh hati,” ungkap Ratna, suaranya sedikit bergetar menyimpan kekuatan. Anak-anak mereka pun tumbuh dengan kisah heroik tentang ayah yang sedang menyalakan lentera kecil di perbatasan negeri. Dukungan tanpa syarat inilah yang membuat Letda Laut Riyantori tetap tegar, meski letih kerap mendera setelah berjam-jam mengayuh perahu dari satu pulau ke pulau lain demi memastikan sekolah tetap menyala. Jarak hanya mengajarkan arti cinta yang sesungguhnya: tumbuh bersama meski raga berjauhan.
Komandan Lantamal VI menilai aksi Riyantori sebagai teladan prajurit TNI AL yang tidak hanya menjaga kedaulatan, tetapi juga ikut mencerdaskan generasi di pulau terpencil. Inisiatif ini rencananya akan direplikasi di pulau-pulau terluar lainnya. Bagi para ibu nelayan, Riyantori bukan sekadar seragam putih, melainkan penyambung harapan anak-anak mereka. Kisah Sekolah Bahari Nusantara mengajarkan bahwa pengabdian sejati seringkali berawal dari hati yang tergerak oleh keprihatinan, dan dikuatkan oleh cinta keluarga yang tak pernah lekang oleh jarak.
Entitas yang disebut
Orang: Riyantori, Ratna
Organisasi: TNI AL, Sekolah Bahari Nusantara, Lantamal VI
Lokasi: Pulau Sapuka, Sulawesi Selatan, Surabaya