Keluarga

Orang Tua Prajurit TNI AL di Surabaya: Bangga dan Pasrah Anaknya Bertugas di Kapal Selam

21 Mei 2026 Surabaya, Jawa Timur 4 views

Pasangan Suyatno dan Sumarni di Surabaya merasakan kebanggaan sekaligus kecemasan yang mendalam karena putranya bertugas sebagai prajurit kapal selam TNI AL. Komunikasi yang terbatas saat operasi membuat doa menjadi satu-satunya penghubung mereka dengan sang anak. Pengorbanan dan ketabahan keluarga menjadi cermin dari kehidupan yang penuh cemas namun tetap sarat makna di balik pengabdian.

Orang Tua Prajurit TNI AL di Surabaya: Bangga dan Pasrah Anaknya Bertugas di Kapal Selam

Di sebuah rumah sederhana di Surabaya, Suyatno (67) dan Sumarni (63) menjalani hari-hari dengan perasaan yang sulit diungkapkan. Sebagai orang tua, mereka adalah saksi bisu dari pengorbanan yang tak kasatmata. Putra mereka, Sertu Andika, adalah seorang prajurit kapal selam TNI AL yang bertugas di KRI Alugoro. Setiap kali sang putra menjalankan misi di kedalaman laut, kedua orang tua ini hanya bisa menautkan hati pada doa. Tak ada kabar, tak ada suara, hanya keheningan yang memaksa mereka merelakan sepenuh jiwa.

Komunikasi yang Terputus, Doa yang Tak Pernah Padam

Berbeda dengan prajurit di daratan, seorang prajurit kapal selam nyaris tak bisa dijangkau saat sedang beroperasi. Komunikasi benar-benar terbatas. Sumarni menceritakan bagaimana ia hanya bisa menitipkan doa, berharap semesta menjaga anaknya di bawah sana. “Kami hanya titip doa. Kalau ada berita kecelakaan kapal selam di mana pun, hati kami langsung cenat-cenat,” ujar Sumarni dengan mata berkaca-kaca. Kalimat itu bukan sekadar ungkapan cemas, melainkan potret bagaimana perasaan seorang ibu menggantung rapuh di antara bangga dan pasrah. Baginya, setiap detik adalah ruang sunyi yang dipenuhi harap dan cemas.

Bangga di Balik Kecemasan

Suyatno mengenang masa kecil Andika yang bercita-cita menjadi pelaut. Sejak lulus SMK, jalan hidup putranya mengarah ke laut, menuju salah satu alutsista strategis TNI AL: kapal selam. Bagi Suyatno dan Sumarni, pilihan itu adalah kebanggaan yang terbalut kesadaran akan risiko. “Setiap kali kapal selamnya menyelam, hati kami ikut tenggelam dalam doa,” tambah Suyatno lirih. Mereka paham bahwa profesi ini adalah panggilan jiwa, bukan sekadar pekerjaan. Pihak TNI AL sendiri rutin menggelar pertemuan keluarga untuk memberi pemahaman tentang dunia bawah laut dan dukungan psikologis. Upaya itu meringankan, tetapi kecemasan sebagai orang tua tetaplah nyata, seperti detak jantung yang setia berdebar di dada.

Pengorbanan ini bukan hanya milik sang prajurit, melainkan juga milik mereka yang menanti di tepian dermaga kehidupan: para istri, anak, dan terutama orang tua yang mulai menua. Sumarni dan Suyatno mewakili ribuan keluarga yang setiap hari belajar merelakan, belajar tabah saat komunikasi hanya terhubung lewat keyakinan. Kisah mereka mengajarkan bahwa di balik gagahnya seragam prajurit, ada doa-doa yang tak pernah lelah dipanjatkan dari rumah-rumah sederhana, dari kursi tua tempat orang tua menanti kepulangan anaknya dengan cinta yang tak bertepi.

Entitas yang disebut

Orang: Suyatno, Sumarni, Andika

Organisasi: TNI AL

Lokasi: Surabaya

Bacaan terkait

Artikel serupa