Keluarga

Panggilan Terakhir ke Ibu: Kisah Pratu Farkhan yang Meninggal Didianiaya Senior di Papua

12 Juli 2026 Asahan, Sumatera Utara 6 views

Ibu Pratu Farkhan Syauqi Marpaung harus menelan duka mendalam setelah putranya meninggal di perbatasan Papua bukan karena peluru musuh, melainkan diduga akibat penganiayaan senior. Panggilan telepon terakhir Farkhan yang menenangkan sang ibu kini menjadi kenangan yang merobek hati. Kisah ini menyoroti pengorbanan emosional keluarga prajurit yang setia menanti kabar dari tanah seberang, menyimpan harapan yang berubah menjadi duka abadi.

Panggilan Terakhir ke Ibu: Kisah Pratu Farkhan yang Meninggal Didianiaya Senior di Papua

Tangis Marsinah Wati Silalahi tak terbendung saat memeluk erat foto putranya, Pratu Farkhan Syauqi Marpaung. Di rumah duka di Desa Hessa Air Genting, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, suasana haru menyelimuti setiap sudut ruangan. Sebagai seorang ibu, melepas anak untuk mengabdi pada negara di wilayah perbatasan Indonesia-Papua Nugini sudah cukup berat. Namun, menerima kepulangan dalam kondisi tak bernyawa yang diduga akibat penganiayaan oleh senior sesama TNI, meninggalkan luka yang tak terperi. Duka orangtua ini terasa berlapis: bukan hanya kehilangan seorang anak, tapi juga menyimpan tanda tanya besar tentang keadilan di lingkungan yang seharusnya menjadi rumah kedua bagi putranya.

Telepon Terakhir yang Kini Hanya Tinggal Gema

Beberapa waktu sebelum kabar duka itu tiba, Pratu Farkhan sempat menghubungi ibunya melalui sambungan telepon terakhir. Dalam percakapan yang kini dikenang dengan air mata, ia mencoba menenangkan hati sang ibu meski sedang tidak sehat. “Dia bilang, ‘Tuah sakit mak, kayanya tipes atau malaria. Tapi tuah baik-baik aja disini Mak,’” kenang Marsinah, menirukan kalimat putranya dengan suara bergetar. Sebagai orangtua, Marsinah langsung dicekam cemas. Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa panggilan itu akan menjadi perpisahan abadi. Suara hangat anaknya yang berusaha terdengar tegar itu kini hanyalah gema yang merobek rindu setiap harinya.

Di sisi lain, sang ayah, Zakaria Marpaung, juga terguncang. Ia mendapat informasi dari keponakannya yang bertugas di satuan yang sama bahwa Farkhan tidak gugur dalam pertempuran melawan kelompok separatis, melainkan diduga menjadi korban kekerasan di lingkungan sendiri. “Kami titipkan anak untuk menjaga negeri, tapi kenapa harus pulang seperti ini?” begitu kira-kira guncangan batin yang dirasakan ayah yang kehilangan putra kebanggaannya. Bagi keluarga, kenyataan ini membawa duka ganda: kehilangan seorang anak sekaligus menyimpan kepedihan mendalam tentang apa yang sesungguhnya terjadi di tanah seberang, jauh dari jangkauan mereka.

Di Balik Seragam Loreng, Ada Keluarga yang Selalu Setia Menanti

Kisah Pratu Farkhan menyoroti sisi lain kehidupan prajurit yang jarang tersorot: bahwa di balik ketegaran seragam loreng, ada keluarga yang setiap hari dihantui kecemasan. Para ibu dan ayah di kampung halaman terus berdoa sambil menunggu telepon singkat dari anak-anak mereka di perbatasan. Setiap kali ada kabar sakit atau kejadian di medan tugas, jantung mereka berdegup lebih kencang. Pengabdian seorang prajurit bukan hanya menguras tenaga fisik di medan berat, tetapi juga menuntut ketahanan emosional luar biasa dari orangtua dan seluruh anggota keluarga yang ditinggalkan.

Ketika seorang prajurit muda seperti Farkhan harus menghadapi risiko yang bukan hanya dari musuh di luar, tetapi juga dari dalam barisan sendiri, beban yang ditanggung keluarga menjadi semakin rumit. Rasa bangga memiliki anak yang menjaga kedaulatan negara bercampur dengan rasa cemas yang tak pernah usai. Dan ketika telepon terakhir itu tiba, yang tersisa hanyalah kenangan dan kesedihan yang membekas sepanjang hayat. Duka orangtua ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap seragam, ada hati kecil yang selalu merindu dan berharap sang pahlawan pulang dengan selamat—bukan menjadi korban dari kelalaian atau penganiayaan di tempat yang seharusnya melindunginya.

Bagi keluarga Pratu Farkhan, perjalanan menerima kenyataan ini masih panjang. Luka yang ditinggalkan tidak hanya soal kehilangan, tapi juga tentang kepercayaan dan harapan yang patah. Sebagai sesama manusia, kita diingatkan bahwa di perbatasan maupun di rumah, dukungan dan perlindungan bagi para prajurit dan keluarganya adalah hal yang tak boleh diabaikan. Dan bagi Marsinah, setiap dering telepon akan selalu membawanya kembali pada panggilan terakhir sang anak—sebuah suara yang kini abadi dalam kenangan, namun tak akan pernah bisa membangunkannya dari rindu.

Entitas yang disebut

Orang: Marsinah Wati Silalahi, Farkhan Syauqi Marpaung, Zakaria Marpaung

Organisasi: TNI

Lokasi: Desa Hessa Air Genting, Asahan, Sumatera Utara, Papua, Indonesia, Papua Nugini

Bacaan terkait

Artikel serupa