Kisah TNI
Pensiunan Jenderal TNI Jadi Relawan Trauma Healing untuk Anak-Anak Pasca Bencana
Mayor Jenderal (Purn) Dr. Bambang Susanto, mantan dokter militer, kini menjalani peran baru sebagai relawan trauma healing bagi anak-anak korban bencana alam. Di tengah dinginnya tenda pengungsian erupsi Gunung Semeru, ia tampil bukan lagi sebagai perwira tinggi, melainkan sebagai kakek yang hangat menemani anak-anak mewarnai dan bercerita. Baginya, mengabdi tak berhenti meski seragam telah disimpan, karena jiwa melindungi tetap melekat sepanjang hayat.
Keikhlasan Bambang berakar dari luka pribadinya saat kehilangan cucu tercinta dalam bencana tsunami. Duka itu justru mendorongnya untuk memberikan pelukan dan ketulusan kepada anak-anak yang trauma, seolah menebus kehilangannya sendiri. Didukung Yayasan TNI Peduli, ia rutin mendirikan "tenda ceria" di lokasi bencana, membawa alat gambar, boneka, dan cerita pengusir ketakutan. Melalui aktivitas sederhana seperti menggambar gunung yang bersahabat atau bernyanyi kecil, ia berhasil mengembalikan tawa dan cahaya di mata anak-anak yang semula kosong, mengubah luka menjadi kekuatan untuk sesama.
Di tengah hamparan tenda pengungsian yang masih diselimuti debu erupsi, pemandangan tak biasa selalu hadir menghangatkan hati. Seorang pria berambut putih, dengan sabar duduk bersila di atas tikar sederhana, dikelilingi anak-anak yang asyik mewarnai gambar. Tangannya yang dulu menggenggam amanah sebagai seorang jenderal, kini dengan telaten mengajari cara memegang pensil warna dengan benar. Ia adalah Mayor Jenderal (Purn) Dr. Bambang Susanto. Namun, bagi puluhan anak korban bencana di lokasi pengungsian, ia bukanlah seorang purnawirawan dengan seragam kebesaran. Ia adalah Opa Bambang, sang pendongeng ulung yang selalu punya cara untuk menghapus air mata dan menghadirkan tawa di tengah duka yang memilukan.
Ketika Luka Lama Menjadi Pelita Bagi yang Lain
Bagi banyak orang, terjun langsung ke lokasi bencana mungkin dianggap sebagai bentuk pengabdian yang luar biasa. Namun bagi Opa Bambang, aktivitas trauma healing ini adalah perjalanan spiritual yang lahir dari luka mendalam yang takkan pernah benar-benar sembuh. Suaranya bergetar hebat saat menceritakan kenangan pahit bertahun-tahun silam, ketika gelombang tsunami merenggut cucu tercintanya. \"Saya sudah kehilangan cucu saya sendiri saat tsunami dulu. Jadi saya paham benar luka anak-anak ini. Tugas saya sekarang adalah memeluk mereka dengan ketulusan,\" kenangnya, menahan butiran air yang nyaris jatuh di sudut matanya. Kehilangan itu tidak membuat purnawirawan jenderal ini larut dalam duka, melainkan menjadi bahan bakar yang menggerakkannya. Ia tahu persis bagaimana rasanya kehilangan separuh jiwa, dan ia juga tahu bahwa pelukan hangat serta kehadiran yang menenangkan adalah obat paling mujarab bagi hati kecil yang sedang syok. Setiap pelukan yang ia berikan di tenda darurat adalah caranya menebus rasa rindu pada sang cucu, menjadikannya seorang kakek bagi ratusan anak yang tiba-tiba kehilangan rasa aman akan dunianya.
Didukung penuh oleh Yayasan TNI Peduli, Opa Bambang rutin mendirikan \"tenda ceria\" di titik-titik pengungsian. Ia tidak datang dengan obat-obatan atau alat medis canggih seperti saat masih bertugas dulu. Senjatanya kini adalah kertas gambar, boneka kecil, dan stok cerita rakyat yang tak ada habisnya. Bersama para relawan, ia mengajak anak-anak menggambar gunung yang tersenyum, menciptakan lagu-lagu jenaka, atau sekadar bermain peran. Pendekatan yang tampak sederhana ini nyatanya ampuh memulihkan jiwa. Mata yang semula kosong dan tatapan yang menerawang jauh perlahan mulai berbinar kembali. Opa Bambang memahami bahwa dalam proses pemulihan pasca bencana, tugas utamanya bukanlah menghapus memori buruk itu, melainkan menanamkan harapan baru. Ia ingin anak-anak itu kembali percaya bahwa tidak semua suara gemuruh adalah ancaman, dan bahwa masih banyak orang baik yang akan terus menjaga mereka.
Gelombang Kebaikan yang Menyentuh Hati Para Istri Prajurit
Semangat pengabdian yang ditunjukkan sang jenderal purnawirawan ini ternyata menular dengan sangat indah ke lingkungan keluarga besar TNI, terutama di kalangan para istri prajurit. Melihat dedikasi Opa Bambang, banyak dari mereka yang ikut tergerak untuk dilatih menjadi pendamping psikososial. Bagi para istri yang kesehariannya harus tabah menjalani peran sebagai orang tua tunggal saat suami bertugas, pelatihan ini menjelma menjadi saluran emosi yang positif. Rasa lelah, rindu, dan cemas yang biasanya mereka adukan pada bantal, kini diubah menjadi energi untuk menguatkan sesama. “Kami jadi merasa lebih kuat, karena tidak hanya menunggu di rumah, tapi bisa bermanfaat langsung bagi ibu-ibu lain yang sedang terpuruk akibat bencana,” ujar salah satu peserta, yang suaminya berdinas di satuan tempur. Melalui kegiatan trauma healing ini, para istri tidak hanya menemukan pelipur lara dari kesepian menanti suami pulang, tetapi juga menyadari bahwa ketangguhan seorang ibu adalah fondasi utama bagi ketahanan keluarga dan bangsa.
Langkah kaki Opa Bambang di pengungsian menjadi bukti nyata bahwa pangkat bukanlah segala-galanya. Seragam boleh rapi terlipat di dalam lemari, tetapi jiwa untuk melindungi dan mengabdi tidak akan pernah purnatugas. Ia mengajarkan kepada kita bahwa di balik tegasnya sosok seorang purnawirawan TNI, tersimpan kelembutan hati yang begitu dalam—sebuah pengingat bahwa cinta dan kasih sayang sejatinya adalah kekuatan terhebat yang bisa dimiliki oleh seorang manusia, terutama bagi para anak yang sedang berusaha tegar melawan trauma.
", "ringkasan_html": "Mayor Jenderal (Purn) Dr. Bambang Susanto memilih jalan mulia sebagai relawan trauma healing untuk anak-anak korban bencana, mengubah duka kehilangan cucunya sendiri menjadi kekuatan untuk memulihkan ribuan hati kecil yang terluka. Kiprahnya turut menginspirasi para istri prajurit untuk terlibat sebagai pendamping, membuktikan bahwa jiwa mengabdi tidak pernah purnatugas dan pengorbanan keluarga prajurit adalah kekuatan yang nyata.
" }Entitas yang disebut
Orang: Bambang Susanto
Organisasi: TNI, Yayasan TNI Peduli
Lokasi: Gunung Semeru