Kisah TNI

Perpisahan Mengharukan di Dermaga: Prajurit TNI AL Dilepas Istri dan Anak Balita Sebelum Berlayar 6 Bulan

17 Juni 2026 Surabaya, Jawa Timur 3 views

Di Dermaga Koarmada II Surabaya, perpisahan mengharukan terjadi saat prajurit TNI AL dan kru KRI Bung Tomo dilepas keluarga untuk berlayar selama enam bulan. Tangis anak balita dan pelukan terakhir menjadi simbol beratnya pengorbanan yang harus dijalani, sementara di baliknya tersimpan kekuatan emosi para istri dan dukungan pangkalan bagi keluarga yang ditinggal bertugas.

Perpisahan Mengharukan di Dermaga: Prajurit TNI AL Dilepas Istri dan Anak Balita Sebelum Berlayar 6 Bulan

Saat fajar belum sepenuhnya terang di Dermaga Koarmada II Surabaya, puluhan pasang mata sudah basah oleh air mata yang tertahan. Itulah pagi ketika para prajurit TNI AL bersiap melepas tambatan hati mereka—bukan sekadar tali kapal, melainkan juga pelukan hangat istri dan tawa kecil anak-anak. Di antara kerumunan keluarga, seorang anak balita tiba-tiba memecah hening dengan tangis keras yang meminta ayahnya tak usah pergi. Sang ibu, dengan mata berkaca-kaca, berusaha menenangkan buah hatinya sambil tetap memeluk erat suami yang akan segera naik ke KRI Bung Tomo. Pelukan terakhir itu begitu singkat, namun ciuman hangat di pipi anak dan dahi istri menjadi penanda perpisahan yang begitu berat: sebuah perpisahan yang harus dijalani demi tugas negara mengamankan lautan Indonesia selama enam bulan ke depan.

Di Balik Tangis, Ada Kekuatan yang Tak Terlihat

Bagi sebagian istri, momen di dermaga ini bukanlah kali pertama. Seorang istri yang enggan menyebutkan namanya mengaku bahwa inilah pelayaran panjang keempat yang dijalani suaminya. “Setiap kali terasa semakin berat, terutama karena anak-anak sudah semakin besar dan semakin mengerti,” ujarnya lirih, menyimpan getar cemas yang bercampur bangga. Di saat para kru kapal harus fokus menjaga perairan Indonesia, keluarga di darat justru belajar menata emosi yang kerap naik-turun. Perasaan bangga menyelimuti hati, namun cemas juga setia menemani, terutama saat membayangkan jarak yang begitu jauh dan waktu berlayar yang tak sebentar. Inilah ujian ketahanan emosi yang dijalani dengan senyum yang kadang harus dipaksakan, sekaligus pelajaran awal bagi anak-anak tentang arti sebuah pengorbanan dan tugas mulia seorang ayah.

Di tengah beratnya beban psikologis, TNI AL melalui pangkalan turut hadir memeluk keluarga yang ditinggal bertugas. Layanan konseling disediakan bagi para istri dan anak yang membutuhkan tempat berbagi, serta posko komunikasi darurat disiapkan agar jika terjadi masalah di rumah, kabar bisa segera sampai ke kru yang sedang berlayar. Langkah ini memberi sedikit ketenangan: bahwa meski suami sedang menjaga laut, keluarga tidak sendirian. Dukungan dari sesama istri prajurit pun menjadi kekuatan tersendiri. Di antara kelompok-kelompok kecil yang saling menguatkan di tepi dermaga, mereka tahu persis bagaimana rasanya harus menyembunyikan air mata di balik lambaian tangan, dan bagaimana doa yang tak pernah putus menjadi tali batin yang menghubungkan darat dan lautan.

Enam Bulan, Tabungan Rindu yang Akan Terbayar

Ketika KRI Bung Tomo akhirnya meninggalkan dermaga, lambaian tangan dari atas kapal dan dari tepi daratan menjadi pemandangan yang menyatukan asa. Enam bulan bukan waktu yang singkat untuk menyimpan rindu, namun dukungan dari sesama istri prajurit dan perhatian dari TNI AL membuat mereka mampu bertahan. Di balik setiap perpisahan, ada keyakinan yang diam-diam tumbuh: bahwa kelak, saat kapal kembali merapat, pelukan yang tertunda akan menjadi hadiah paling berharga bagi keluarga. Pengorbanan ini mungkin tak selalu terlihat oleh banyak orang, namun ia nyata dan layak dihargai. Karena di balik setiap prajurit yang siap menjaga laut, ada keluarga yang siap menjaga hati—belajar ikhlas, belajar kuat, dan belajar merajut rindu menjadi doa yang tak pernah putus.

Entitas yang disebut

Organisasi: TNI AL, Koarmada II, KRI Bung Tomo

Lokasi: Dermaga Koarmada II Surabaya, Surabaya

Bacaan terkait

Artikel serupa