Keluarga

Prajurit Muda TNI AD Asal NTT Rela Gajinya untuk Sekolahkan Adik-adik

22 Mei 2026 Atambua, Nusa Tenggara Timur 4 views

Prajurit Dua Yohanes Bria, seorang prajurit muda TNI AD asal Atambua, NTT, menyimpan kisah haru di balik pengabdiannya. Hampir seluruh gaji bulanannya ia relakan untuk membiayai sekolah tiga adiknya yang masih duduk di bangku SMP dan SMA. Pengorbanan ini berakar dari masa kecilnya yang penuh perjuangan setelah sang ayah meninggal, meninggalkan ibunya yang harus bekerja sebagai buruh tani. Yohanes berjanji tidak akan membiarkan adik-adiknya putus sekolah seperti kesulitan yang pernah ia rasakan sendiri.

Demi menepati janjinya, Yohanes menjalani hidup sangat sederhana di kesatrian. Ia hanya menyisakan uang secukupnya untuk kebutuhan pokok, memilih makan di dapur satuan, dan menahan diri dari rekreasi atau pengeluaran yang tidak perlu. Baginya, biaya sekolah adik-adik yang lunas dan senyum lega sang ibu adalah imbalan yang paling berharga.

Prajurit Muda TNI AD Asal NTT Rela Gajinya untuk Sekolahkan Adik-adik
{ "konten_html": "

Di balik ketegasan seragam loreng dan langkah disiplin seorang prajurit, seringkali tersimpan cerita yang begitu hangat dan manusiawi. Prajurit Dua Yohanes Bria, seorang prajurit muda asal Atambua, Nusa Tenggara Timur, adalah satu di antara mereka. Di kesatrian tempatnya mengabdi di Pulau Jawa, ia dikenal sebagai sosok pendiam yang jarang terlihat berbaur dalam waktu santai. Namun, di balik sikapnya yang sederhana itu, tersembunyi sebuah pengorbanan luar biasa: hampir seluruh gajinya setiap bulan dikirimkan ke kampung halaman untuk membiayai sekolah tiga orang adiknya. Bagi Yohanes, menjadi prajurit muda bukan hanya soal memanggul senjata demi negara, tapi juga memikul tanggung jawab besar sebagai seorang kakak yang berjanji akan menjaga masa depan adik-adiknya.

Janji yang Lahir dari Duka Masa Kecil

Kenangan masa kecil Yohanes di NTT diwarnai dengan kerasnya hidup. Sang ayah meninggal saat ia masih sangat kecil, meninggalkan ibunya yang harus berjuang sebagai buruh tani untuk menghidupi empat anak. Setiap hari, ia menempuh perjalanan berkilo-kilometer dengan berjalan kaki menuju sekolah, seringkali dengan perut menahan lapar. “Saya sudah pernah merasakan susahnya tidak punya uang untuk sekolah. Saya tidak ingin adik-adik saya putus sekolah,” ucapnya lirih saat mengenang masa lalu. Kata-kata itu bukanlah keluhan, melainkan sumber kekuatan yang kini mendorongnya untuk berkorban tanpa henti. Kini, setelah resmi menjadi prajurit, Yohanes memegang teguh komitmennya: pendidikan kedua adiknya yang duduk di bangku SMP dan SMA harus terus berjalan. Setiap kali gajian tiba, ia hanya menyisakan uang secukupnya untuk kebutuhan pokok di mess. Ia memilih makan di dapur satuan, menahan keinginan untuk jajan atau sekadar beristirahat bersama rekan. “Kalau ingat adik-adik di rumah, rasanya sayang kalau uang dipakai untuk hal yang tidak perlu,” imbuhnya. Senyum sang ibu dan kepastian biaya sekolah yang lunas adalah ‘gaji’ paling berharga yang tak ternilai.

Dari Kepedulian Diam-diam Hingga Dukungan Satuan

Kisah pengorbanan hening ini mungkin takkan terungkap jika Kapten Inf Heru, komandannya, tidak memperhatikan kebiasaan Yohanes yang nyaris tak pernah ikut rekreasi atau sekadar bersantai. Rasa penasaran sang komandan membawanya pada percakapan dari hati ke hati, dan di situlah terkuak kenyataan yang mengejutkan. “Saya bangga punya anak buah seperti dia. Dedikasinya bukan hanya untuk negara, tapi juga untuk keluarga,” kata Kapten Heru dengan mata berbinar. Kekaguman itu dengan cepat berubah menjadi aksi nyata. Seluruh satuan secara sukarela mengumpulkan bantuan untuk meringankan beban prajurit muda ini. Momen itu menjadi bukti nyata bahwa di lingkungan militer, semangat gotong royong dan kepedulian terhadap sesama begitu hidup. Kisah Yohanes pun menyebar di kalangan internal TNI AD, menjadi teladan tentang bagaimana di balik setiap sikap tegas dan tugas berat, selalu ada hati yang merindu dan pundak yang siap memikul beban keluarga.

Perjuangan Yohanes dari NTT bukan sekadar cerita tentang uang atau biaya pendidikan. Ia adalah kisah tentang ketahanan seorang kakak, tentang cinta yang melampaui jarak dan keterbatasan. Di tengah tugas negara yang memanggil, ia tetap menjadi tulang punggung harapan bagi adik-adiknya. Bagi para ibu dan keluarga yang membaca, mungkin kisah ini mengingatkan kita bahwa cinta sejati seringkali tumbuh dari luka, dan pengorbanan tak selalu berteriak keras—kadang ia hadir dalam pilihan-pilihan sunyi demi melihat orang tercinta tersenyum. Di balik sosok prajurit yang tegar itu, ada hati yang terus menghangatkan rumah meski dari kejauhan.

", "ringkasan_html": "

Prajurit Dua Yohanes Bria, seorang prajurit muda asal NTT, merelakan hampir seluruh gajinya untuk membiayai sekolah tiga adiknya. Pengorbanan hening ini terkuak dari kepedulian komandannya dan menggugah seluruh satuan untuk ikut membantu. Kisahnya menjadi cermin hangat tentang cinta seorang kakak yang lahir dari kerasnya masa lalu, serta arti sejati pengabdian di balik seragam militer.

" }

Entitas yang disebut

Orang: Yohanes Bria, Heru

Organisasi: TNI AD

Lokasi: Atambua, Nusa Tenggara Timur

Bacaan terkait

Artikel serupa