Kisah TNI
Prajurit Penjaga Perbatasan RI-Malaysia Peluk Erat Dua Anaknya Setelah 8 Bulan Tak Pulang: 'Ayah Gak Akan Pergi Lagi Lama-lama'
Setelah delapan bulan bertugas di perbatasan RI-Malaysia, Sertu Dedi Hermawan akhirnya reuni dengan kedua anaknya, Raka dan Alya, dalam pelukan haru. Istrinya, Fitri, mengaku berat menjalani peran ganda, namun dukungan Persit KCK dan ketegaran anak-anak menguatkan. Kini, Dedi berjanji tak akan lama meninggalkan keluarga, merayakan kebersamaan yang sempat tertunda.
Di halaman sederhana sebuah rumah dinas, tangis haru pecah saat Sertu Dedi Hermawan akhirnya turun dari kendaraan. Delapan bulan lamanya ia bertugas menjaga perbatasan, jauh dari pelukan dua buah hatinya. Raka, bocah tujuh tahun, dan Alya yang baru berusia empat tahun, seolah tak percaya ayah mereka benar-benar pulang. Tanpa ragu, keduanya berlari dan memeluk erat kaki sang ayah, menangis tersedu-sedu. Dedi, prajurit TNI AD dari Yonif Raider 600/Modang yang sehari-hari tegas di medan penugasan, tak kuasa membendung air mata. Momen reuni ini begitu menyentuh, menjadi bukti bahwa di balik seragam loreng, ada hati yang merindu hangatnya keluarga.
Lika-liku di Balik Penantian Panjang
Selama delapan bulan, Fitri, istri Dedi, harus menjalani peran ganda. Ia mengurus Raka dan Alya seorang diri sambil bekerja paruh waktu demi mencukupi kebutuhan rumah tangga. Masa-masa itu, katanya, sangat berat, terutama saat Alya jatuh sakit demam berdarah. 'Rasanya ingin menyerah, tapi saya ingat pesan suami untuk tetap kuat,' ujar Fitri lirih. Di tengah keterbatasan, kehadiran organisasi istri prajurit, Persit KCK, menjadi sandaran. Mereka bergantian menemani, membawa makanan, dan memberikan dukungan moral yang membuat Fitri merasa tak sendirian. Anak-anak pun ikut merasakan dampak positif dari solidaritas ini. Setiap malam, Raka selalu bertanya lewat panggilan video, 'Ayah kapan pulang?' Dedi hanya bisa menjawab dengan suara bergetar, 'Sabar ya, Nak, ayah jaga bendera kita.'
Janji Manis Pengganti Rindu
Kini, setelah reuni yang dinanti tiba, keluarga kecil itu menikmati setiap detik kebersamaan. Dedi bertekad menebus waktu yang hilang. 'Ayah gak akan pergi lagi lama-lama,' bisiknya kepada Raka dan Alya sambil memangku mereka berdua. Janji itu bukan sekadar kata, karena satuan memberikan cuti khusus sebagai apresiasi atas pengorbanan prajurit dan keluarganya selama penugasan di perbatasan RI-Malaysia. Di pos lintas batas Kalimantan Utara, Dedi memang bertugas menjaga kedaulatan negeri, namun di rumah mungilnya, ia adalah pahlawan yang dinanti dua pasang mata kecil. Hari-hari ke depan akan diisi dengan cerita, tawa, dan mungkin sedikit rengekan manja yang dulu hanya bisa disampaikan lewat layar ponsel.
Pengalaman Dedi dan Fitri mengingatkan kita bahwa di balik setiap prajurit TNI AD, ada keluarga yang turut berjuang dalam diam. Mereka belajar bahwa cinta tak mengenal jarak, dan ketabahan hati seorang ibu adalah benteng terkuat bagi anak-anak. Kisah ini bukan hanya tentang tugas negara, melainkan tentang bagaimana sebuah keluarga mampu bertahan, saling menguatkan, dan merajut kembali kehangatan yang sempat tertunda. Bagi para istri prajurit lainnya, cerita Fitri mungkin menjadi cermin: bahwa air mata penantian akan berganti pelukan hangat, dan setiap pengorbanan selalu berbuah manis. Sertu Dedi telah pulang, membawa serta pelajaran berharga bahwa rumah adalah perbatasan terakhir yang selalu dirindukan.
Entitas yang disebut
Orang: Dedi Hermawan, Raka, Alya, Fitri
Organisasi: Yonif Raider 600/Modang, Persit KCK, Pos Lintas Batas Negara
Lokasi: Kalimantan Utara, Indonesia, Malaysia