Inspirasi

Prajurit TNI AD Adopsi Anak Korban Banjir Bandang, Diberi Nama Penuh Harapan

08 Juli 2026 Sumatra Barat 5 views

Sertu Hendrianto, seorang prajurit TNI AD, mengadopsi balita perempuan korban banjir bandang di Sumatra Barat dan menamainya Nadia Cita sebagai simbol harapan. Didukung penuh oleh istrinya Yuli, anak-anak, dan sesama keluarga prajurit di asrama, proses adopsi ini menjadi bukti bahwa kemanusiaan dapat bersemi bahkan di tengah duka korban bencana.

Prajurit TNI AD Adopsi Anak Korban Banjir Bandang, Diberi Nama Penuh Harapan

Di bawah langit kelabu Sumatra Barat yang masih menyisakan bau tanah basah, Sertu Hendrianto menyusuri puing-puing desa yang luluh lantak oleh banjir bandang. Matanya yang biasa tajam menilai medan, kali ini terhenti pada sesosok kecil yang duduk sendirian di antara reruntuhan. Seorang balita perempuan, mungkin belum genap tiga tahun, mematung dengan tatapan kosong. Tak ada tangis, tak ada suara—hanya diam yang memecahkan hati siapa pun yang memandang. Hendrianto seketika paham, bocah ini baru saja kehilangan segalanya: rumah, keluarga, dan mungkin kenangan tentang hangatnya pelukan. Hari itu, misi kemanusiaan yang ia emban sebagai prajurit bergeser menjadi misi hati yang lebih dalam: menyelamatkan satu jiwa mungil yang tersisa dari bencana.

Panggilan Hati yang Lahir dari Duka

Tanpa ragu, Sertu Hendrianto mendekap tubuh kecil itu dan memutuskan untuk membawanya pulang—bukan hanya ke posko pengungsian, tetapi benar-benar pulang ke rumahnya, sebagai bagian dari keluarga. “Saya merasa ini panggilan hati. Istri saya langsung setuju, kami memberinya nama Nadia Cita, berarti harapan,” tutur Hendrianto, suaranya bergetar mengenang momen penuh emosi itu. Nama tersebut bukan sekadar identitas; ia adalah doa yang dipanjatkan setiap hari, agar dari duka korban bencana ini tumbuh tunas harapan yang kokoh. Keputusan adopsi ini dijalani dengan penuh tanggung jawab. Setelah komunikasi intens dengan istrinya, Yuli, dan melalui dukungan satuan serta dinas sosial, seluruh prosedur hukum diurus hingga tuntas. Mereka ingin memastikan Nadia Cita memiliki masa depan yang sah, terang, dan dikelilingi cinta yang tak bersyarat.

Dari Disiplin Baja ke Pelukan Hangat di Asrama

Kehadiran Nadia mengubah ritme rumah dinas yang semula dipenuhi jadwal ketat dan kedisiplinan militer. Yuli, sang istri, menyambut gadis kecil itu dengan hati terbuka, meski ia harus merelakan kariernya untuk sementara waktu. Trauma mendalam yang membekas membuat Nadia sering terbangun di malam hari dengan jerit ketakutan, membasahi bantal dengan air mata yang tak dimengerti. “Setiap kali Nadia terbangun dan menangis, saya langsung memeluknya. Pelukan itu seperti obat—bukan hanya untuk dia, tapi juga untuk saya,” kisah Yuli, matanya berkaca-kaca. Di balik seragam loreng yang identik dengan ketangguhan, keluarga ini justru menemukan kekuatan sejati dalam kelembutan dan kesabaran. Adopsi yang dipicu kemanusiaan ini perlahan menyembuhkan luka bersama: Nadia yang dulu diam kini mulai melemparkan tawa kecil, sementara rasa lelah Yuli terbayar setiap kali mata bening itu menatapnya dengan rasa aman.

Dukungan dari Keluarga Besar Berbalut Seragam

Kakak-kakak kandung Nadia, putra-putri kandung Hendrianto dan Yuli, menyambut adik barunya dengan cinta yang tulus. Bagi mereka, tak peduli bahwa Nadia berasal dari jalur korban bencana; yang mereka tahu, inilah adik yang harus dilindungi dan dijaga. Pelukan hangat mereka ikut mencairkan sisa trauma dalam benak Nadia. Sementara itu, dukungan tak kalah besar mengalir dari para istri prajurit lain di asrama. Mereka bergantian membantu menjaga, memasak, atau sekadar menemani Yuli saat ia membutuhkan waktu istirahat. Komunitas ini seolah menegaskan bahwa keluarga prajurit adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan—saat satu berduka, semua ikut memeluk. Kisah Hendrianto dan Yuli mengingatkan kita bahwa kemanusiaan tak mengenal seragam. Di tengah puing dan duka, selalu ada ruang bagi harapan untuk tumbuh. Nadia Cita, nama penuh makna yang diberikan dari lubuk hati terdalam, kini bukan hanya simbol bertahan dari bencana, tetapi juga bukti bahwa cinta bisa datang dari arah yang tak terduga, bahkan dari seorang prajurit yang di tengah tugasnya, memilih merawat kehidupan baru.

Entitas yang disebut

Orang: Hendrianto, Nadia Cita, Yuli

Organisasi: TNI AD, dinas sosial

Lokasi: Sumatra Barat

Bacaan terkait

Artikel serupa