Kisah TNI

Prajurit TNI AD di Gresik Beri Perhatian Kesehatan dan Teh Hangat untuk Bu Warni

27 Mei 2026 Gresik, Jawa Timur 4 views

Dalam program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 di Desa Slempit, Gresik, sebuah kisah menyentuh hadir dari rumah Bu Warni (67). Wanita lanjut usia itu mendapat perhatian penuh dari dua prajurit TNI AD yang menunjukkan kepedulian layaknya kepada ibu sendiri. Pratu Gilang dari Yonif 500/Sikatan, yang bertugas di bidang kesehatan, dengan lembut memeriksa kondisi Bu Warni dan memberikan obat tekanan darah tinggi, parasetamol, serta vitamin untuk membantu pemulihannya. Ia pun tak lupa mendoakan agar Bu Warni lekas sembuh.

Di sisi lain, Praka Alenta Saputra Simbolon turut hadir membawa kehangatan lewat secangkir teh hangat yang disiapkan dan disuguhkan langsung kepada Bu Warni. Perhatian tulus ini membuat mata wanita itu berkaca-kaca, terharu karena di usia senjanya ia masih merasakan kasih sayang yang begitu dalam. Para prajurit mengaku tidak lagi melihat Bu Warni sekadar sebagai penerima bantuan, melainkan sudah menganggapnya seperti ibu kandung sendiri. Momen sederhana namun sarat makna ini membuktikan bahwa TMMD tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga membawa cinta dan kepedulian yang menyejukkan hati masyarakat, terutama bagi mereka yang sudah renta dan membutuhkan uluran tangan.

Prajurit TNI AD di Gresik Beri Perhatian Kesehatan dan Teh Hangat untuk Bu Warni
{ "konten_html": "

Di sebuah rumah sederhana di Desa Slempit, Gresik, Bu Warni (67) duduk di kursi kayu kesayangannya. Udara pagi masih dingin ketika dua sosok berseragam loreng tiba—Pratu Gilang dari Yonif 500/Sikatan dan Praka Alenta Saputra Simbolon. Bukan dengan suara lantang atau aba-aba, mereka hadir membawa tas kesehatan dan termos air panas. Bagi Bu Warni, yang sejak lama hanya ditemani kesenyapan usia senja, kunjungan ini terasa seperti kedatangan anak sendiri yang pulang dari rantau. Dalam program TMMD ke-128, prajurit TNI AD menunjukkan bahwa kasih sayang prajurit tak hanya milik negara, tetapi juga untuk setiap warga yang membutuhkan, terutama para warga lansia yang rentan.

Suara Lembut yang Memanggil Kenangan

Saat Pratu Gilang memeriksa tekanan darah Bu Warni, gerakannya begitu hati-hati. Jemari yang biasa memegang senjata itu kini memegang tensimeter dengan kelembutan luar biasa. “Seperti merawat ibu sendiri,” bisiknya dalam hati. Di benaknya melayang wajah ibunya di kampung halaman, yang mungkin saat itu juga sedang berjuang menjaga kesehatan di usia yang tak lagi muda. Ia tahu benar bagaimana rasa was-was itu: takut kehilangan, takut tak sempat memberi perhatian karena tugas di perbatasan. Maka, ketika ia menyodorkan obat tekanan darah tinggi, parasetamol, dan vitamin, doa diam-diam ia panjatkan agar Bu Warni cepat pulih—sekaligus doa untuk ibunya yang jauh di sana.

Sementara itu, Praka Alenta menyeduh teh hangat dengan gula batu secukupnya. Uapnya menari-nari di udara, membawa aroma yang bagi Bu Warni adalah aroma kepedulian yang sudah lama tak ia rasakan. Tatapan perempuan renta itu berkaca-kaca. “Terima kasih, Nak,” ucapnya lirih. Dua prajurit muda itu hanya tersenyum, menganggap Bu Warni bukan sekadar penerima bantuan, melainkan ibu yang harus dijaga. Kita, para istri dan ibu di rumah, barangkali bisa membayangkan: jika suami atau anak kita yang sedang bertugas jauh di pelosok, melakukan hal serupa untuk lansia yang tak dikenal, bukankah hati kita akan membuncah oleh bangga dan haru?

Lebih dari Sekadar Program: Merajut Kemanusiaan dalam TMMD

Kisah Bu Warni hanyalah satu dari ribuan jejak TMMD yang menyentuh relung kemanusiaan. Program yang identik dengan pembangunan fisik ini sejatinya juga membangun jembatan batin antara prajurit dan rakyat. Bagi para prajurit yang telah meninggalkan keluarga demi pengabdian, momen seperti ini adalah pelepas rindu pada rumah. Setiap elusan tangan keriput Bu Warni mengingatkan mereka pada hangatnya tangan ibu atau nenek sendiri. Dan bagi kita, para ibu dan keluarga yang menunggu di rumah, inilah jawaban dari doa-doa yang kita langitkan: agar orang yang kita cintai di medan tugas tetap menjadi manusia yang penuh cinta, bukan sekadar mesin kedisiplinan.

Dalam dunia yang sering kali bising oleh berita konflik dan kekerasan, secangkir teh hangat dari tangan seorang prajurit adalah pengingat lembut bahwa di balik seragam loreng ada hati yang merindu keluarga. Pengabdian mereka bukan hanya menjaga perbatasan, tetapi juga menjaga agar nilai-nilai kekeluargaan tak lapuk dimakan usia. Bu Warni mungkin hanya seorang warga lansia di desa kecil, tetapi lewat kelembutan Pratu Gilang dan Praka Alenta, ia menjelma menjadi cermin bagi kita semua: bahwa kesehatan dan perhatian di usia senja adalah tanggung jawab anak bangsa, dan bahwa kasih sayang prajurit tidak pernah mengenal batas misi—ia mengalir begitu saja, seperti teh hangat yang mengisi cangkir-cangkir kosong di pagi yang dingin.

", "ringkasan_html": "

Di tengah tugas TMMD di Gresik, Pratu Gilang dan Praka Alenta merawat Bu Warni (67) dengan kelembutan seolah ia ibu sendiri. Pemeriksaan kesehatan dan teh hangat yang mereka suguhkan bukan hanya bentuk bakti, tetapi juga cermin kerinduan prajurit pada keluarga di rumah. Kisah ini mengajarkan bahwa pengabdian sejati lahir dari hati yang menghargai ikatan kekeluargaan di setiap langkah tugas.

" }

Entitas yang disebut

Orang: Pratu Gilang, Praka Alenta Saputra Simbolon, Bu Warni

Organisasi: TNI AD, Yonif 500/Sikatan, TMMD

Lokasi: Desa Slempit, Gresik

Bacaan terkait

Artikel serupa