Inspirasi
Prajurit TNI AD Jadi Relawan Guru Ngaji di Kampung Kumuh, Istri Ikut Bantu
Sertu Budi, seorang prajurit TNI AD, bersama istrinya memilih menjadi relawan guru ngaji di tengah permukiman kumuh Jakarta. Tanpa memungut biaya, pasangan ini mengorbankan waktu istirahat mereka demi mendidik anak-anak membaca Al-Qur'an. Kisah mereka menjadi potret humanis keluarga prajurit yang membuktikan bahwa pengabdian tak hanya dilakukan di medan tugas, tetapi juga lewat ketulusan menyentuh hati generasi penerus bangsa.
Di tengah denyut kota yang keras dan gang-gang sempit permukiman padat, lantunan ayat suci dari sebuah mushala kecil menjelma menjadi oase yang menyejukkan. Di sinilah, setiap sore, Sertu Budi menanggalkan sejenak atribut kemiliterannya dan menjadi 'Ustadz' bagi anak-anak yang haus ilmu. Sosoknya yang gagah dalam balutan seragam loreng, duduk bersila tanpa jarak di antara murid-murid ciliknya, menjadi pemandangan yang mengharukan. Bukan sekadar menjalankan tugas sosial, apa yang ia lakukan bersama sang istri adalah cerminan utuh dari wajah seorang prajurit—pengabdian yang tak hanya terukir di medan tugas, tetapi juga di setiap sudut hati masyarakat yang membutuhkan. Bagi warga di kampung kumuh itu, kehadiran keluarga kecil ini membuktikan bahwa ketulusan dan kebaikan tak mengenal hierarki, seragam, maupun batas sosial yang membentang.
Menyalakan Pelita di Tengah Padatnya Ibu Kota
Jalan hidup menjadi seorang relawan ngaji dipilih Sertu Budi bukan karena banyaknya waktu luang, melainkan karena panggilan hati yang sulit diabaikan. Baginya, membela negara bukan melulu soal menjaga perbatasan, tetapi juga turut membentengi akhlak generasi muda melalui ilmu agama. “Saya ingin berbagi ilmu agama, sekaligus mendekatkan TNI dengan masyarakat,” ungkapnya penuh kesederhanaan. Selepas jam dinas yang panjang, ketika raga mungkin menjerit meminta rehat, kakinya justru melangkah menuju mushala. Di sana, puluhan mata polos telah setia menunggu. Panggilan ini semakin kuat karena ia tak berjuang sendiri. Istrinya menjadi kekuatan di balik layar yang mengajarkan anak-anak perempuan membaca Iqra dan Al-Qur'an. Ada rasa haru dan bangga yang bercampur ketika melihat pasangan ini kompak, mengorbankan waktu pribadi demi satu tujuan: menerangi lingkungan dengan cahaya Al-Qur'an. Tanpa memungut biaya sepeser pun, bahkan dari kantong sendiri mereka kerap menyediakan buku dan alat tulis untuk para murid. “Kami tidak memungut biaya. Justru kami yang ingin memberi,” kata Sertu Budi dengan senyum yang menyiratkan ketulusan tanpa batas.
Ketika Lelah Kalah oleh Senyum Murid
Perjalanan mengajar hampir setiap hari bukanlah tanpa ujian. Ada kalanya cuaca panas menyengat, hujan deras tiba-tiba membasahi gang becek, atau tubuh terasa remuk selepas seharian menjalankan tugas di kesatuan. Di titik inilah ketahanan emosional seorang istri prajurit benar-benar teruji. Namun, bagi pasangan ini, mengajar ngaji adalah sumber energi yang tak tergantikan. Sang istri menuturkan, rasa letih itu seolah lumer seketika begitu melihat wajah ceria anak-anak yang antusias menyambut kehadiran mereka di mushala. “Kadang pulang kerja badan rasanya remuk, tapi begitu melihat wajah-wajah polos yang menunggu, semua letih itu hilang,” kisahnya dengan mata menerawang haru. Dedikasi sebagai relawan ini mengajarkan bahwa sebuah keluarga prajurit punya ketangguhan luar biasa. Merekalah teladan hidup bahwa pengabdian tidak hanya tertuju pada institusi, tetapi juga menyentuh langsung sanubari lewat kepedulian sederhana. Di balik loreng dan kegagahan militer, tersimpan hati yang lembut, siap mengorbankan waktu istirahat demi mengeja satu per satu huruf hijaiyah yang keluar dari bibir mungil para murid.
Kisah Sertu Budi dan sang istri adalah refleksi mendalam tentang makna keluarga dan arti sebuah pengabdian. Di tengah hiruk-pikuk ibu kota dan keterbatasan hidup di kampung kumuh, mereka memilih untuk tidak menyerah pada keadaan. Justru dari sanalah, secercah cahaya itu terpancar, membuktikan bahwa lentera kebaikan bisa dinyalakan dari mana saja, oleh siapa saja. Mereka tak hanya mengajar anak pandai membaca, tetapi juga menanamkan rasa cinta kasih dan kedekatan antara tentara dengan rakyatnya. Sebuah warisan tak ternilai yang akan terus hidup dalam lantunan ayat suci yang bergema di gang sempit itu, menginspirasi lebih banyak keluarga Indonesia untuk terus menebar manfaat tanpa pamrih.
Entitas yang disebut
Orang: Sertu Budi
Organisasi: TNI AD
Lokasi: Jakarta