Inspirasi

Prajurit TNI AL dan Istri Buka Hati Adopsi Anak Korban Banjir Bandang: 'Kami Ingin Jadi Pelangi di Keluarganya'

22 Mei 2026 Padang, Sumatera Barat 4 views

Serda Bahari, prajurit TNI AL di Lanal Padang, dan istrinya Anisa memutuskan mengadopsi Sinta, bocah enam tahun yang kehilangan orang tua akibat banjir bandang di Pesisir Selatan. Pertemuan pertama terjadi saat proses evakuasi, di mana Serda Bahari melihat langsung kepiluan di mata Sinta yang kosong menatap reruntuhan rumahnya. Batinnya terusik, merasa ada tanggung jawab kemanusiaan yang lebih dalam dari sekadar mengevakuasi korban.

Pasangan yang belum dikaruniai anak ini awalnya dihantui keraguan. Anisa mengaku khawatir dengan tanggung jawab besar yang tiba-tiba harus mereka pikul. Namun, dinding keraguan itu runtuh saat mereka rutin mengunjungi Sinta di penampungan. Momen mengharukan terjadi ketika Sinta memanggil Anisa dengan sebutan “Mama”, membuat hati Anisa luluh dan merasa ini adalah cara Tuhan mempersatukan mereka sebagai keluarga. Proses adopsi pun resmi dimulai dengan dukungan penuh dari satuan TNI AL.

Prajurit TNI AL dan Istri Buka Hati Adopsi Anak Korban Banjir Bandang: 'Kami Ingin Jadi Pelangi di Keluarganya'
{ "konten_html": "

Bencana alam seringkali datang tanpa aba-aba, menyisakan luka yang tak mudah terobati. Banjir bandang yang menerjang sebuah desa di Pesisir Selatan bukan hanya merenggut rumah dan harta benda, tetapi juga memisahkan seorang anak dari pelukan orang tuanya. Di tengah duka itulah, Serda Bahari, seorang prajurit TNI AL yang bertugas di Lanal Padang, menemukan Sinta—bocah perempuan enam tahun yang matanya kosong menatap reruntuhan. Saat proses evakuasi kemanusiaan berlangsung, hati Serda Bahari terusik oleh ketidakberdayaan yang terpancar dari tubuh kecil itu. Ia tahu, tugasnya sebagai prajurit tak berhenti di pengungsian; ada panggilan batin yang lebih dalam yang harus dijawab bersama sang istri, Anisa.

Panggilan Hati di Tengah Bencana

Sepulang dari lokasi bencana, bayangan Sinta tak henti menghantui Serda Bahari. Dengan hati-hati, ia membuka percakapan dengan Anisa tentang keinginannya mengadopsi anak yang baru saja kehilangan segalanya itu. “Awalnya aku khawatir. Bukan karena tak ingin, tapi karena ini tanggung jawab besar. Aku dan suami belum dikaruniai anak, dan tiba-tiba harus menjadi orang tua bagi Sinta,” kenang Anisa, mewakili suara banyak perempuan yang bergulat antara keinginan mengasihi dan rasa takut tak mampu. Sebagai pasangan yang belum memiliki momongan, keduanya sempat dihinggapi keraguan: mampukah mereka menjadi tempat berpulang bagi hati yang hancur?

Namun, ketika mereka mulai mengunjungi Sinta di tempat penampungan sementara, dinding keraguan itu perlahan runtuh. Anisa melihat sendiri bagaimana Sinta diam-diam mengamatinya, lalu suatu hari, dengan suara nyaris berbisik, memanggilnya “Mama”. “Hati saya luluh seketika. Saya merasa Tuhan memberi kami kesempatan menjadi keluarga dengan cara yang tak terduga,” tutur Anisa lirih. Momen sederhana itu menjadi titik balik. Keputusan adopsi pun diambil, dan pasangan ini memulai proses legal dengan dukungan penuh dari satuan. Di sinilah terlihat bahwa semangat kemanusiaan seorang prajurit TNI AL tak hanya diwujudkan lewat seragam, tetapi juga lewat hati yang terbuka untuk mengasihi tanpa pamrih.

Merangkai Kepingan Keluarga dengan Kasih

Proses adopsi bukan sekadar formalitas hukum. Bagi Serda Bahari dan Anisa, ini adalah ikrar untuk menyembuhkan trauma seorang anak yang menjadi korban bencana alam. Mereka harus belajar memahami bahasa diam Sinta, mengusap air matanya di malam hari saat rindu pada orang tua kandung, dan perlahan menumbuhkan rasa aman. Sebagai prajurit TNI AL, Serda Bahari terbiasa dengan tugas-tugas berat, namun mendampingi Sinta beradaptasi memberinya pelajaran tentang arti ketangguhan yang berbeda. Di sisi lain, Anisa harus berbagi waktu dan perhatian, meyakinkan Sinta bahwa ia kini memiliki tempat berpulang yang baru—tempat di mana luka boleh menetes, dan pelukan selalu tersedia.

“Kami ingin jadi pelangi di keluarganya—bukan menggantikan, tapi memberi warna harapan baru,” ujar Serda Bahari penuh haru. Kalimat ini bukan retorika, melainkan cerminan perjalanan panjang yang kini mereka jalani bersama. Hari-hari mereka kini diisi dengan tawa kecil Sinta yang mulai muncul, meski masih sering diselingi kesunyian. Bagi pasangan ini, menjadi keluarga adalah tentang memeluk utuh setiap bagian dari diri anak, termasuk duka yang ia bawa. Dukungan dari lingkungan TNI AL dan sesama keluarga prajurit turut menguatkan langkah mereka, membuktikan bahwa panggilan kemanusiaan tak pernah berhenti pada aksi di lapangan, tetapi berlanjut dalam ketulusan membangun rumah bagi hati yang terluka.

Kisah Serda Bahari dan Anisa mengingatkan kita bahwa di balik seragam prajurit, ada hati yang bisa luluh oleh panggilan menjadi ayah dan ibu. Dalam diamnya pengorbanan, mereka menegaskan bahwa menjadi pelangi bagi sesama adalah bentuk pengabdian tertinggi—sebuah warisan ketahanan emosional yang akan terus hidup dalam keluarga kecil yang baru saja mereka rangkai.

", "ringkasan_html": "

Seorang prajurit TNI AL dan istrinya memutuskan mengadopsi anak perempuan korban banjir bandang, meski awalnya dihantui keraguan karena belum pernah memiliki anak. Panggilan hati yang kuat mendorong mereka untuk menjadi keluarga baru bagi Sinta, dengan harapan bisa menjadi pelangi yang memberi warna dalam hidupnya. Kisah ini menjadi cermin bahwa kemanusiaan dan cinta sejati bisa tumbuh dari luka bencana alam.

" }

Entitas yang disebut

Orang: Serda Bahari, Anisa, Sinta

Organisasi: TNI AL, Lanal Padang, yayasan TNI AL

Lokasi: Padang, Pesisir Selatan

Bacaan terkait

Artikel serupa