Kisah TNI
Prajurit TNI Dirikan Sekolah Darurat untuk Anak Pengungsi Konflik di Papua
Di tengah konflik Intan Jaya, Sertu Yuda dan istrinya Ny. Arini mendirikan sekolah darurat bagi anak-anak pengungsi. Dengan ketulusan, sang istri mengajar dan memulihkan trauma, sementara sang suami membangun tenda sederhana untuk menjaga asa generasi Papua. Kisah ini menjadi cermin pengorbanan keluarga prajurit TNI yang tak hanya menjaga negeri, tetapi juga merawat harapan.
Di tengah ketegangan dan kabut duka yang menyelimuti Intan Jaya, Papua, sebuah pemandangan mengharukan justru muncul dari balik terpal lusuh yang berdiri di lokasi pengungsian. Di sanalah puluhan anak korban konflik duduk bersila di atas tikar, mata mereka berbinar mendengar suara lembut seorang perempuan berjilbab. Dialah Ny. Arini, istri dari Sertu Yuda, seorang prajurit TNI yang bertugas di daerah rawan. Saat gedung sekolah hancur dan masa depan anak-anak seolah ikut runtuh, pasangan ini memilih untuk membangun sekolah darurat—bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi juga ruang untuk memulihkan tawa dan asa yang nyaris padam.
Dari Kegelisahan Hati ke Tindakan Penuh Kasih
Kegelisahan Sertu Yuda bermula dari diamnya anak-anak. Bukan diam karena tenang, melainkan karena mereka kehilangan dunia kecil yang biasa diisi pelajaran dan permainan. Fasilitas pendidikan yang rusak parah akibat konflik membuat anak-anak hanya terdiam tanpa kegiatan. Sebagai seorang bapak, nalurinya tergerak. “Sebagai abdi negara, kami tak hanya bertugas menjaga keamanan, tetapi juga punya tanggung jawab moral untuk memastikan anak-anak ini tak kehilangan haknya,” begitu tekad Sertu Yuda yang disampaikannya melalui rekannya. Dengan peralatan seadanya—terpal, bilah bambu, dan papan bekas—ia bersama sejawatnya mendirikan sekolah darurat tepat di jantung pengungsian. Bagi prajurit TNI seperti dirinya, menjaga perbatasan dan kedaulatan negeri tidak bisa dipisahkan dari menjaga masa depan generasi yang tumbuh di tanah Papua yang masih bergolak.
Perempuan di Balik Tenda: Air Mata, Tawa, dan Trauma yang Sembuh
Namun, tenda itu akan sunyi tanpa hadirnya sosok guru. Di sinilah peran Ny. Arini menjadi begitu sentral. Seorang pendidik yang sesungguhnya bisa tetap aman di rumah dinas, ia justru memilih turun langsung. Dengan sukarela, tanpa pamrih, ia mengajar membaca, menulis, dan berhitung—seringkali dengan mata berkaca melihat kondisi anak-anak. Setiap hari, ia menyelipkan cerita-cerita penguat jiwa, berusaha menawar trauma yang membekas. “Kami ingin anak-anak ini tetap punya harapan,” ucapnya lirih. Suara tawa anak-anak yang kembali terdengar di tengah darurat itu menjadi bukti bahwa ketulusan mampu mengubah lanskap batin. Bagi para istri prajurit TNI, pengorbanan bukan hanya soal menanti suami pulang dengan selamat, tetapi juga ikut menjadi lentera bagi sesama di tengah keterbatasan.
Kisah tentang pasangan ini akhirnya menyebar. Dari mulut ke mulut, dari unggahan sederhana di media sosial, hingga menyentuh hati para donatur. Bantuan mulai mengalir: buku-buku cerita, alat tulis, dan papan belajar yang sebelumnya hanya mimpi kini perlahan datang. Sekolah darurat itu pun menjadi lebih hidup. Namun, yang paling berharga bukanlah bantuan materi semata, melainkan pesan bahwa di balik seragam loreng dan wajah-wajah lelah prajurit TNI, ada istri-istri yang juga ikut berjuang. Mereka adalah pilar kekuatan yang tak terlihat, yang dengan cinta dan kesabaran membangun kembali jembatan harapan bagi anak-anak yang terpinggirkan oleh situasi.
Bagi keluarga Indonesia yang membaca kisah ini, mungkin ada getaran yang sama: bahwa pengabdian sejati tidak selalu berlangsung di garda depan, namun juga dalam tindakan sederhana yang menyentuh hati. Sekolah darurat itu adalah simbol bahwa di setiap krisis, selalu ada tangan-tangan keluarga prajurit yang siap menopang. Dan harapan itu, meski dibangun di atas terpal rapuh, bisa menjadi fondasi yang lebih kokoh bagi masa depan Papua.
Entitas yang disebut
Orang: Sertu Yuda, Ny. Arini
Organisasi: TNI
Lokasi: Kabupaten Intan Jaya, Papua