Inspirasi

Prajurit Wanita TNI AD Berbagi Cerita: Menyeimbangkan Tugas Operasi dan Peran Sebagai Ibu Menyusui

25 Mei 2026 Sulawesi Barat (bertugas), Makassar (rumah) 4 views

Kisah Letda Cku Rani, prajurit wanita TNI AD yang harus menyeimbangkan antara tugas operasi bencana di Sulawesi Barat dan tanggung jawabnya sebagai ibu menyusui. Demi memenuhi amanah negara, ia rela memerah ASI di tenda darurat dan mengirimkannya melalui jalur logistik untuk buah hatinya. Cerita ini menjadi cermin keteguhan hati dan dukungan keluarga yang tak ternilai.

Prajurit Wanita TNI AD Berbagi Cerita: Menyeimbangkan Tugas Operasi dan Peran Sebagai Ibu Menyusui

Menjadi seorang ibu adalah panggilan hati yang penuh cinta. Namun ketika di saat bersamaan harus mengemban tugas sebagai prajurit, panggilan negara seringkali menuntut pengorbanan yang tak sederhana. Itulah yang dialami Letda Cku Rani, seorang prajurit wanita TNI AD yang harus meninggalkan putri kecilnya demi sebuah operasi kemanusiaan.

Saat mendapat perintah untuk bertugas dalam operasi penanggulangan bencana selama dua minggu di Sulawesi Barat, hati Rani bergejolak. Putrinya, yang baru berusia 8 bulan, masih sangat bergantung pada ASI eksklusif yang ia produksi. Dilema sebagai ibu menyusui dan seorang prajurit terasa begitu nyata. Namun, kesadarannya akan janji pengabdian membuatnya memilih berangkat. Dengan membawa pompa ASI dan cooler box, ia melangkah ke medan tugas, meninggalkan rumah dan keluarga di Makassar.

Perjuangan di Balik Tenda Darurat

Di lokasi bencana, kesibukan mendistribusikan logistik dan membantu warga tidak menyisakan waktu longgar. Meski begitu, Rani menyelipkan momen-momen sunyi di antara tenda darurat untuk memompa ASI. Setiap tetes yang terkumpul ia simpan penuh harap: ASI itu harus sampai ke putrinya. Tak ingin produksinya menurun, ia memompa secara rutin, meski hanya ditemani lampu penerangan seadanya. Kemudian, dengan bantuan jalur logistik TNI, ASI perah itu dikirimkan ke Makassar—sebuah pengorbanan yang mungkin jarang terbayangkan oleh banyak orang.

Rani mengaku kerap menangis diam-diam. Rindu pada si kecil, cemas jika ASI tak mencukupi, dan lelah fisik bercampur menjadi satu. “Ini bukan hanya soal tugas, tapi juga soal hati seorang ibu,” begitu yang sering ia bisikkan pada diri sendiri. Namun, ia tahu bahwa pilihannya adalah bentuk cinta lain: mengajarkan pada anaknya arti pengabdian.

Dukungan yang Menguatkan di Tengah Keterbatasan

Di tengah beratnya perjuangan, Rani sangat terbantu oleh suara lembut suaminya di ujung telepon. Sang suami tak henti menguatkan, memastikan putri mereka baik-baik saja, dan meyakinkan bahwa ASI kiriman selalu diterima dengan penuh kasih. Tak kalah berarti, dukungan dari sesama prajurit wanita di lapangan menjadi energi tambahan. Mereka saling memahami, saling mengingatkan untuk memompa, bahkan bergantian menjaga agar Rani tetap bisa menyelesaikan tanggung jawab pribadinya itu. Solidaritas prajurit perempuan menjadi ruang aman yang menghapus sepi.

Cerita Rani diangkat oleh Puspen TNI bukan tanpa alasan. Ini adalah potret nyata bahwa di balik seragam loreng, ada hati yang terus berdetak untuk keluarga. Pengorbanan ganda—menyusui dan bertugas—menjadi cermin betapa besarnya cinta seorang ibu yang juga seorang prajurit. Ia tak hanya menjaga kedaulatan negara, tetapi juga merawat kehidupan yang paling berharga baginya.

Di akhir penugasannya, Rani pulang dengan perasaan lega bercampur bangga. Putrinya menyambut dengan tawa yang menghapus lelah. Dari kisah ini, kita belajar bahwa ketahanan seorang keluarga prajurit bukan hanya tentang kuat fisik, melainkan tentang jejaring kasih sayang yang tak terputus oleh jarak dan waktu. Bagi para ibu di mana pun, semoga kisah Rani menjadi pengingat bahwa setiap tetes pengorbanan, sekecil apa pun, adalah bekal berharga bagi buah hati.

Entitas yang disebut

Orang: Letda Cku Rani

Organisasi: TNI AD, TNI, Puspen TNI

Lokasi: Sulawesi Barat, Makassar, Indonesia

Bacaan terkait

Artikel serupa