Kisah TNI
Program 'Keluarga Kita' TNI AD: Trauma Healing untuk Anak-Anak Korban Bencana oleh Psikolog Prajurit
Melalui program 'Keluarga Kita', prajurit TNI AD yang juga berperan sebagai psikolog memberikan trauma healing kepada anak-anak korban banjir bandang di Garut. Tidak hanya menyembuhkan luka batin anak, program ini juga membimbing orang tua agar mampu menjadi pelukan pertama bagi buah hati mereka. Kehadiran prajurit yang hangat dan empatik membuktikan bahwa bakti sosial sejati adalah hadir sebagai keluarga, merangkul ketakutan, dan menenun kembali harapan.
Di antara reruntuhan dan lumpur yang masih menyisakan jejak banjir bandang di Garut, Jawa Barat, ada pemandangan yang menghangatkan hati. Sejumlah prajurit TNI AD duduk melingkar bersama anak-anak di tenda pengungsian. Bukan dengan seragam tempur lengkap, mereka justru akrab dengan krayon, buku cerita, dan papan permainan. Inilah wajah lain dari bakti sosial yang jarang terlihat: sebuah misi kemanusiaan yang menyasar luka paling dalam, yaitu batin anak-anak korban bencana. Program ‘Keluarga Kita’ hadir membuktikan bahwa pemulihan tak hanya tentang perut kenyang dan atap darurat, tetapi juga tentang memeluk ketakutan yang tak bersuara.
Saat Pelukan Ibu di Balik Seragam Loreng Menjadi Obat
Tim yang diterjunkan bukanlah pasukan biasa. Mereka adalah prajurit dengan latar belakang psikologi dan kesehatan jiwa yang dibekali kemampuan trauma healing khusus. Di tengah keterbatasan posko, mereka mendekati anak-anak yang masih sering terbangun karena mimpi buruk atau mendadak menangis saat hujan kembali turun. Letda Cinthia, salah satu psikolog prajurit, dengan sabar duduk di tikar plastik, mengajak anak-anak menggambar rumah impian mereka. “Sebagai seorang ibu di kesatuan, saya merasakan panggilan yang sama kuatnya untuk membantu anak-anak ini sebagaimana saya membantu keluarga prajurit lainnya,” ungkapnya lirih. Di matanya, setiap anak adalah titipan yang harus dijaga, persis seperti ia menjaga anak-anak rekan sejawat yang ditinggal bertugas. Namun, di balik senyum tenangnya, Letda Cinthia juga menyimpan rindu yang menggelayut pada keluarganya sendiri. Pengorbanan sebagai ibu yang harus meninggalkan buah hati demi memeluk anak-anak yang ketakutan adalah perjuangan batin yang tak selalu terucap. Justru dari situlah empatinya mengalir begitu kuat—karena ia tahu benar rasanya berpisah, ia pun paham bagaimana menambatkan hati yang oleng.
Merangkul Orang Tua, Menyulam Kembali Kehangatan Keluarga
Program ini menyadari bahwa trauma healing pada anak-anak tidak akan utuh tanpa pelukan orang tua. Karena itu, sesi khusus juga digelar bagi para ibu dan ayah di pengungsian. Dengan pendekatan hangat, para psikolog prajurit membantu orang tua memahami bahwa diamnya si kecil bukan berarti baik-baik saja. Ledakan amarah tiba-tiba bisa jadi bahasa lain dari kepanikan yang belum reda. Mereka diajari cara membaca tanda-tanda stres pascatrauma dan diberi panduan sederhana menenangkan anak tanpa paksaan. Seorang ibu dengan mata sembab berbisik, “Saya kira mereka hanya butuh susu dan biskuit, ternyata mereka butuh didengarkan.” Di sinilah makna bakti sosial bergeser: bukan lagi sekadar memberi, tetapi hadir sebagai saudara yang ikut merasakan. Perlahan, citra prajurit berubah. Dari yang biasanya datang membawa alat berat untuk membersihkan puing, kini mereka dikenang sebagai sosok yang menggendong anak menangis dan mendongengkan kisah pahlawan yang tak pernah menyerah. Kehadiran mereka menjadi jangkar harapan, mengajarkan bahwa pulih bisa dimulai dari tawa kecil yang kembali terdengar di antara tenda-tenda darurat.
Bagi para prajurit yang juga orang tua, tugas kemanusiaan ini adalah cermin yang memantulkan makna keluarga. Di setiap gambar rumah yang diwarnai anak-anak pengungsian, mereka melihat bayangan rumah sendiri yang mungkin sedang dirindukan. Namun, justru di sanalah letak kekuatan mereka: menyalurkan rasa rindu menjadi energi untuk menyembuhkan. Program ‘Keluarga Kita’ menjadi pengingat bahwa di balik seragam loreng, ada hati yang berdetak untuk sesama, terutama untuk generasi kecil yang akan meneruskan kehidupan. Sebab, sejatinya, setiap anak yang pulih dari trauma adalah kemenangan bagi kemanusiaan, dan keluarga adalah benteng pertama yang harus dikuatkan.
Entitas yang disebut
Orang: Letda Cinthia
Organisasi: TNI AD
Lokasi: Garut, Jawa Barat