Inspirasi
Program 'Sekolah Orang Tua' oleh Persit Koorcab Rem 073 bagi Ibu Muda Prajurit
Program 'Sekolah Orang Tua' dari Persit Koorcab Rem 073 di Yogyakarta hadir sebagai ruang aman bagi istri prajurit muda untuk belajar parenting, berbagi beban emosional, dan membangun dukungan keluarga yang kokoh. Melalui komunitas ini, para ibu menemukan kekuatan bersama, sementara prajurit di medan tugas bisa lebih tenang karena keluarga mereka tidak berjuang sendiri.
Di balik senyum para istri prajurit yang tampak tegar, sering kali tersimpan kisah sunyi tentang perjuangan membesarkan anak seorang diri. Saat suami bertugas di medan yang jauh—entah di perbatasan, daerah operasi, atau pelosok terpencil—beban rumah tangga sepenuhnya jatuh ke pundak para ibu muda. Malam-malam panjang menenangkan si kecil yang rewel tanpa ada tangan pasangan yang ikut menggendong, cemas yang menetap setiap kali membaca berita dari daerah tugas, hingga jerih mengelola keuangan keluarga seorang diri menjadi keseharian yang jarang terdengar. Realitas itulah yang mendorong Persit Kartika Chandra Kirana Koorcab Rem 073 DIY di Yogyakarta menghadirkan program 'Sekolah Orang Tua'—sebuah inisiatif yang tak hanya mengajarkan ilmu parenting, tetapi juga menawarkan dekapan hangat bagi hati yang lelah.
Ruang Aman Berbagi: Dari Rasa Sepi Menjadi Kekuatan Bersama
Program ini jauh melampaui pelatihan biasa. Di dalamnya, para ibu muda prajurit tak hanya dibekali keterampilan penting seperti psikologi anak, pertolongan pertama di rumah, manajemen keuangan keluarga, dan cara merawat komunikasi yang sehat dengan suami yang terpisah jarak. Lebih dari itu, 'Sekolah Orang Tua' menjelma menjadi sebuah komunitas yang saling merangkul. Di sinilah Nia, istri seorang prajurit yang baru saja dikirim ke perbatasan, menemukan napas lega. Berbulan-bulan ia merasa kewalahan mengurus balita tanpa kehadiran suami, hingga rasa capai itu nyaris mematahkan semangatnya. “Di sini saya tidak merasa sendiri. Banyak ibu-ibu lain yang mengalami hal serupa. Kita saling berbagi tips dan saling menyemangati,” tuturnya dengan mata berbinar haru. Kalimat itu menjadi cermin betapa berartinya dukungan keluarga yang bersumber dari ikatan senasib, bukan hanya dari darah. Di ruang pertemuan di Yogyakarta itu, para istri perlahan menenun kehangatan yang selama ini mereka rindukan.
Ibu Tangguh, Prajurit pun Tenang Bertugas
Dari interaksi yang awalnya hanya cerita pengasuhan, tumbuh jaringan dukungan sosial yang kokoh. Para ibu bergantian menjaga anak saat salah satu harus ke dokter, berbagi resep murah bergizi, atau sekadar menjadi pendengar setia di ujung telepon saat malam terasa terlalu panjang. Solidaritas semacam ini menjadi benteng psikologis yang membuat mereka lebih tangguh. Ketika seorang ibu merasa didengarkan dan tidak sendiri dalam menghadapi tantangan parenting, anak-anak pun tumbuh dalam lingkungan yang lebih tenang dan penuh cinta. Ketenangan ini memantul hingga ke medan tugas sang suami. Seorang prajurit yang tahu bahwa keluarganya mendapat dukungan keluarga yang kuat—baik secara emosional maupun praktis—dapat mengabdi dengan fokus dan hati yang lebih ringan. Inisiatif Persit ini membuktikan bahwa ketahanan keluarga militer harus ditopang secara sistemik, bukan hanya berpulang pada kekuatan pribadi istri.
Di balik seragam loreng yang gagah, ada tangan-tangan lembut yang terus berjuang menggenggam damba: agar rumah tetap hangat, anak-anak tumbuh baik, dan cinta tak pernah lekang oleh jarak. Program 'Sekolah Orang Tua' di Yogyakarta ini menjadi pengingat bahwa di tengah pengabdian yang menuntut pengorbanan, komunitas dan dukungan keluarga adalah jangkar yang membuat prajurit dan keluarganya mampu melewati hari-hari berat dengan senyum yang lebih ringan.
Entitas yang disebut
Orang: Nia
Organisasi: Persit Kartika Chandra Kirana Koorcab Rem 073 DIY
Lokasi: Yogyakarta