Inspirasi

Purnawirawan TNI AD Berkaki Satu Ajari Anak-anak di Lereng Merapi Tanpa Pamrih

11 Juli 2026 Lereng Merapi, Yogyakarta 6 views

Koptu (Purn) Slamet Riyadi, seorang purnawirawan penyandang disabilitas yang kehilangan kaki kirinya, mendedikasikan waktunya mengajar anak-anak di lereng Merapi tanpa pamrih. Dengan kaki palsu rakitan sendiri, ia menjadi simbol pengabdian yang melampaui batas fisik, menyulut harapan dan cita-cita melalui keceriaan belajar. Didukung oleh kehangatan para ibu dan komunitas, kisahnya adalah bukti nyata bahwa semangat seorang prajurit adalah pelita yang tak pernah padam bagi keluarga dan lingkungannya.

Purnawirawan TNI AD Berkaki Satu Ajari Anak-anak di Lereng Merapi Tanpa Pamrih

Di sebuah balai dusun yang teduh di lereng Gunung Merapi, sore hari selalu berubah menjadi ruang penuh tawa dan harapan. Di sana, Koptu (Purn) Slamet Riyadi—seorang purnawirawan TNI AD yang kehilangan kaki kirinya saat bertugas—duduk dengan sabar mengajari anak-anak petani membaca, menulis, dan berhitung. Ia bukan guru biasa: kaki palsu yang ia kenakan dibuatnya sendiri dari rongsokan logam, membuat anak-anak menjulukinya ‘Pak Guru Besi’. Bagi para ibu yang mengantar buah hati mereka setiap sore, sosok Slamet bukan sekadar pengajar, melainkan bukti bahwa semangat seorang prajurit tak pernah benar-benar pensiun, meski raga telah menjadi penyandang disabilitas. Kehadirannya adalah pelita yang terus menyala, menegaskan bahwa mengajar adalah wujud bakti yang melampaui batasan fisik.

Getaran Semangat dari Hati ke Hati

Peristiwa puluhan tahun silam di Aceh memang merenggut kaki kirinya, namun tak sedikit pun memadamkan nyala pengabdian. “Biar cuma satu kaki, saya masih bisa berbagi ilmu,” ucapnya dengan senyum yang meneduhkan, seakan meyakinkan setiap ibu yang menatapnya haru. Setiap hari, ia menapaki jalan setapak dengan kaki palsu buatannya sendiri—sebuah perjuangan senyap yang mengubah keterbatasan menjadi kekuatan yang menginspirasi. Melihat ketulusan Slamet, para ibu yang biasa menunggui anaknya belajar bergerak dengan cara mereka sendiri: mereka menyediakan susu hangat dan singkong rebus, menjadikan suasana belajar lebih ringan dan akrab. Dukungan juga datang dari Paguyuban Purnawirawan TNI setempat yang rutin mengirim buku bacaan dan alat tulis, seolah mengamini bahwa ikatan persaudaraan sesama prajurit tak pernah putus. Seorang warga mengungkapkan, “Beliau bukti bahwa semangat prajurit tidak berhenti meski seragam sudah dilepas.” Di balai dusun itu, seorang purnawirawan penyandang disabilitas yang mengajar tanpa pamrih dirawat oleh cinta orang-orang di sekitarnya, menciptakan rumah kedua yang hangat bagi anak-anak dan para ibu. Bagi keluarga-keluarga sederhana di lereng gunung, Slamet bukan hanya guru; ia adalah simbol bahwa pengorbanan yang tulus akan selalu menemukan jalan untuk memberi arti.

Hadiah Bendera: Warisan Cita-cita dari Lereng Merapi

Setiap kali ada anak yang berhasil lulus ujian, Slamet selalu menyelipkan hadiah kecil: bendera merah putih. Dengan mata berbinar, ia berpesan, “Kejarlah cita-citamu setinggi langit.” Bagi para ibu, momen itu bagai doa yang diikatkan langsung pada masa depan anak-anak mereka. Mereka tak hanya melihat seorang guru, melainkan seorang teladan yang menanamkan makna perjuangan, harapan, dan cinta negeri melalui kepingan bendera yang dipegang erat oleh tangan-tangan mungil. Kehadiran Slamet mengajari lebih dari sekadar abjad; ia mengajarkan tentang arti bertahan dan berbagi, tentang bagaimana seorang penyandang disabilitas bisa menjadi pelita bagi keluarga-keluarga di lereng gunung. Setiap bendera yang diserahkan seolah mewakili janji bahwa keterbatasan fisik tak akan mengecilkan mimpi.

Di sela-sela tawa anak-anak, para ibu seringkali merefleksikan arti pengorbanan. Mereka membayangkan bagaimana istri dan keluarga Slamet di rumah mendukung sang pejuang ini setiap kali ia harus berjalan dengan susah payah menuju balai dusun. Ada rasa haru dan bangga yang bersemayam, menyadarkan bahwa di balik sosok tangguh seorang prajurit, selalu ada keluarga yang menjadi sumber kekuatan. Kehangatan yang tercipta di balai dusun itu bukan hanya milik anak-anak yang belajar, tetapi juga milik para ibu yang turut serta menjaga nyala semangat seorang purnawirawan. Sebuah potret utuh tentang bagaimana ketahanan sebuah keluarga dan dukungan komunitas mampu mengubah luka dan kehilangan menjadi sebuah taman bermain penuh arti, tempat baktinya yang tanpa pamrih menjadi fondasi mimpi generasi penerus.

Entitas yang disebut

Orang: Slamet Riyadi

Organisasi: TNI AD, Paguyuban Purnawirawan TNI

Lokasi: Merapi, Yogyakarta, Aceh

Bacaan terkait

Artikel serupa