Inspirasi
Sertu Heri, Prajurit TNI AD Jadi 'Ayah Asuh' bagi Anak Yatim di Lokasi TMMD Sumba
Di tengah pelaksanaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) di Sumba Barat Daya, Sertu Heri bertemu dengan Adrian, seorang bocah yatim berusia sepuluh tahun yang kerap mengamati para prajurit dari kejauhan. Pandangan kosong bocah yang tinggal bersama neneknya yang renta itu menggugah naluri kebapakan Sertu Heri, terutama karena Adrian seusia dengan anak kandungnya sendiri yang berada di Jawa.
Setelah mendekati dan mengetahui kondisi Adrian yang serba kekurangan, Sertu Heri memutuskan untuk menjadi "Ayah Asuh" baginya. Di sela-sela waktu istirahat saat seragam lorengnya masih basah oleh keringat, ia menyempatkan diri mengajari Adrian membaca dan membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Tidak hanya itu, dengan uang sakunya sendiri, prajurit TNI AD ini juga membelikan seragam sekolah dan alat tulis baru untuk menunjang pendidikan Adrian.
Bagi Sertu Heri, sosok Adrian adalah cerminan kecil dari anaknya yang ia rindukan. Tindakan mulianya ini menjadi bukti bahwa di balik ketegaran seragam loreng, tersimpan hati seorang ayah yang rela membagi kasih sayang, menjadikan misi kemanusiaan TNI begitu hangat dan menyentuh di tengah masyarakat.
Di bawah langit Sumba Barat Daya yang cerah, seorang prajurit berseragam loreng duduk di samping anak sepuluh tahun yang memeluk buku tulis baru. Sertu Heri, anggota TNI AD yang bertugas di program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD), tak menyangka bahwa di tanah yang jauh dari keluarganya, ia akan menemukan kembali makna menjadi seorang ayah. Bocah itu, Adrian, adalah anak yatim yang tinggal bersama neneknya yang renta. Pertemuan mereka bukan sekadar kebetulan—ini tentang bagaimana rasa peduli seorang prajurit menjelma menjadi pelukan hangat bagi hati kecil yang merindukan kasih sayang.
Ketika Seragam Loreng Menjadi Peluk Hangat
Adrian sering terlihat berdiri di kejauhan, memandangi para prajurit yang bekerja membangun jalan desa. Pandangannya kosong namun penuh tanya, seolah menyimpan kerinduan yang enggan diucapkan. Sertu Heri yang peka menangkap kegelisahan itu. “Saya punya anak seusia dia di Jawa. Melihat Adrian, hati saya terenyuh,” ujarnya lirih. Di sela kesibukan dan keringat, naluri kebapakan Sertu Heri terusik. Ia memberanikan diri mendekat, mengajak Adrian berbicara, dan akhirnya mendengar kisah pilu di balik senyum malu-malu anak itu: kehilangan ayah dan harus bertahan hidup bersama nenek yang tak lagi kuat bekerja. Tanpa pikir panjang, Sertu Heri memutuskan untuk menjadi anak asuh bagi Adrian—bukan sekadar formalitas, melainkan ikatan hati yang tulus.
Mengasuh Jarak Jauh, Merawat Luka di Dada
Menjadi ayah asuh bagi Adrian adalah cara Sertu Heri menyalurkan rindu yang menggunung pada anak kandungnya sendiri. Setiap kali mengajari Adrian membaca atau membantunya mengerjakan PR, ia membayangkan putranya di Jawa yang mungkin saat itu juga tengah menunggu kabar dari sang ayah. Dengan uang saku pribadinya, Sertu Heri membelikan seragam dan alat tulis baru untuk Adrian. Bagi seorang prajurit yang jauh dari rumah, pengorbanan semacam ini adalah wujud peduli yang lahir dari luka yang sama: menjadi orang tua yang terpisah jarak oleh tugas negara. Ia tahu, pelukan yang tidak bisa ia berikan pada anak kandungnya, sedikit terobati ketika melihat Adrian tertawa riang di depan rumah neneknya, menantikan ‘pak tentara’ kesayangannya pulang kerja bakti.
Tidak hanya Adrian yang berubah, masyarakat Sumba pun ikut menyaksikan haru ini. Cerita tentang seorang prajurit yang membangun jembatan dan sekaligus membangun masa depan seorang yatim menyebar di media sosial setempat. Ternyata, tugas TNI bukan sekadar infrastruktur fisik; mereka juga membangun ketahanan hati anak-anak yang rentan. Di mata Sertu Heri, Adrian adalah cermin kecil dari anaknya—dan di mata Adrian, seragam loreng itu kini menjelma menjadi simbol harapan dan kehangatan yang sempat hilang. Namun di balik senyum sang prajurit, ada perasaan bersalah yang diam-diam menghantui: rasa bersalah karena tak bisa mendampingi anak kandungnya sendiri di momen-momen penting. Luka itu mungkin tak terlihat, tetapi menjadi bagian dari perjalanan batin yang dijalani dengan tabah oleh para istri dan anak di rumah.
Sebagai istri prajurit atau ibu yang membaca kisah ini, mungkin kita bisa merasakan getir sekaligus bangga. Di Sumba yang jauh, seorang suami dan ayah menemukan jalan untuk tetap menyembuhkan rindunya—dengan menjadi ayah bagi anak yang membutuhkan. Kisah Sertu Heri dan Adrian mengajarkan bahwa pengabdian sejati tidak hanya diukur dari berapa lama kita bersama keluarga, tetapi juga dari seberapa besar hati kita merengkuh sesama sebagai bagian dari panggilan jiwa. Di tengah letih dan rindu, selalu ada celah bagi cinta untuk tumbuh—meski harus melintasi pulau dan seragam loreng.
", "ringkasan_html": "Sertu Heri, prajurit TNI AD yang bertugas di TMMD Sumba Barat Daya, menjadi ayah asuh bagi Adrian, seorang anak yatim yang tinggal bersama neneknya. Di balik tugas membangun desa, ia menyalurkan rindunya pada anak kandung di Jawa dengan merawat dan mendidik Adrian, mengajarkan arti keluarga yang melampaui jarak dan seragam.
" }Entitas yang disebut
Orang: Sertu Heri, Adrian
Organisasi: TNI AD, TMMD
Lokasi: Sumba Barat Daya, Jawa