Keluarga
Tangis Histeris Istri dan Pelukan Erat Ibu: Kepulangan Terakhir Sang Prajurit di Kulon Progo
Kepulangan jenazah Praka Farizal Rhomadhon ke Kulon Progo menjadi momen duka mendalam bagi istri dan anaknya yang baru berusia 1,5 tahun. Pelukan erat sang ibu mertua seakan menjadi bahasa paling jujur di tengah kehilangan, sementara Persit dan TNI hadir mendampingi agar keluarga prajurit tidak berjalan sendiri dalam duka.
Rumah orang tua almarhum Praka Farizal Rhomadhon di Kulon Progo, Yogyakarta, pagi itu tak lagi sama. Kamis, 2 April 2026, menjadi saksi sebuah kepulangan yang memilukan—bukan sebagai temu rindu, melainkan perjumpaan terakhir yang penuh duka. Fafa Nur Azila (25), istri tercinta, tiba bersama buah hati mereka yang baru berusia 1,5 tahun setelah perjalanan panjang dari Aceh. Tangis histeris Fafa pecah begitu kakinya menjejak tanah. Kepulangan yang seharusnya menjadi momen hangat, kini hanya menyisakan ruang kosong yang dulu selalu diisi oleh senyum suaminya.
Pelukan yang Menyatukan Dua Hati yang Remuk
Di depan rumah yang berganti menjadi tirai duka, Supeni (54), ibu almarhum, sudah menanti dengan mata yang sembap. Tanpa sepatah kata, ia langsung merengkuh menantunya dalam pelukan erat. Dua perempuan itu, istri dan ibu, seketika larut dalam tangis yang tak terbendung. Pelukan itu adalah bahasa paling jujur dari sebuah kehilangan—tidak butuh kata-kata, hanya getar tubuh yang saling menguatkan. Fafa bahkan nyaris tak sanggup berdiri, harus dipapah masuk. Di sanalah, pelukan menjadi doa yang tak terucap, mengikat dua hati yang merasakan kehilangan yang sama.
Anak Kecil, Pelita di Tengah Duka
Di antara isak tangis, seorang balita mungil berdiri kebingungan. Anak semata wayang Farizal dan Fafa itu memeluk ibunya erat, seolah mengerti ada luka yang tak bisa dijelaskan dengan kata. Mata mungilnya menatap ibunya yang terguncang, lalu ia pun ikut memeluk neneknya. Dalam pelukan kecilnya, tersimpan segenap cinta yang menjadi pengingat: kehidupan harus terus berjalan. Kehadiran si kecil adalah alasan bagi Fafa untuk tetap tegar—cinta yang ditinggalkan suaminya hadir dalam diri anak itu.
Persit dan TNI: Keluarga yang Tak Pernah Lepas
Ketika seorang prajurit gugur, duka bukan hanya milik keluarga inti. Persit (Persatuan Istri Tentara) langsung bergerak mendampingi Fafa dan anaknya. Mereka hadir tak sekadar sebagai rekan, melainkan sebagai keluarga besar yang merangkul. Mulai dari pengurusan hingga dukungan psikologis, berbagai bantuan mengalir untuk memastikan istri dan anak prajurit ini tidak berjalan sendirian. Dukungan itu menjadi nyawa lain yang menguatkan, membuktikan bahwa pengorbanan seorang prajurit tidak pernah dilupakan. Negara pun memberikan Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) menjadi Kopral Dua sebagai penghormatan. Meski tak bisa mengganti kehangatan pelukan suami, setidaknya penghargaan itu menjadi tanda bahwa setiap langkahnya dihargai.
Hari itu, di Kulon Progo, kepulangan seorang prajurit bukan sekadar perjalanan terakhir. Ia menjadi pelajaran tentang setia, tentang cinta yang tak mengenal batas waktu. Bagi keluarga prajurit, duka selalu datang bersama rasa bangga yang diam-diam begitu berat. Namun di balik air mata, ada anak yang akan tumbuh dengan kisah heroik ayahnya, ada istri yang akan dikenang sebagai benteng ketegaran, dan ada keluarga besar yang saling menggenggam. Sebab di dalam setiap kehilangan, pelukan—entah dari ibu, anak, atau sesama istri prajurit—selalu punya cara untuk menyembuhkan luka.
Entitas yang disebut
Orang: Farizal Rhomadhon, Fafa Nur Azila, Supeni
Organisasi: TNI, Persit
Lokasi: Kulon Progo, Yogyakarta, Aceh