Keluarga
Usaha Batik Ecoprint Istri Prajurit TNI AL Mampu Hidupi Keluarga Saat Suami Bertugas di Laut
Nurul, istri seorang prajurit TNI AL di Surabaya, berhasil mengubah rasa sepi dan rindu saat suaminya berlayar bersama KRI menjadi sebuah usaha kreatif yang produktif. Memanfaatkan dedaunan seperti jati dan mangga dari halaman rumah dinas, ia mengembangkan kerajinan batik ecoprint, teknik mencetak motif alami dari daun langsung ke kain. Usaha ini awalnya hanya untuk mengisi waktu, namun kini menjadi tumpuan ekonomi keluarga.
Berkat kreativitasnya, pesanan dari tetangga dan sesama istri prajurit terus berdatangan, membantu meringankan beban finansial selama suami bertugas di laut. Di balik kesuksesannya, Nurul menjalani peran ganda yang melelahkan, harus pandai membagi waktu antara mengurus tiga anak, memproduksi kain, hingga menyelesaikan pesanan hingga larut malam, sambil terus mengkhawatirkan keselamatan suaminya di tengah samudra. Ketekunannya menjadi bukti kemandirian dan ketangguhan seorang istri prajurit.
Di sebuah rumah dinas sederhana di Surabaya, Nurul, istri seorang prajurit TNI AL, tengah duduk di teras sambil menatap tumpukan daun jati, mangga, dan kenikir yang baru dipetiknya. Jemarinya lincah menata dedaunan itu di atas selembar kain putih, lalu memukul-mukulnya pelan dengan palu kayu. Warna alami dari daun-daun itu perlahan berpindah, meninggalkan jejak cantik yang kelak menjadi batik ecoprint. Bagi Nurul, pekerjaan ini bukan sekadar hobi—ini adalah jawaban atas rasa sepi dan cemas yang kerap menghampirinya saat suami bertugas berbulan-bulan di atas KRI. “Saat suami di laut, rumah terasa hampa. Anak-anak sering bertanya, ‘Kapan ayah pulang?’” kenangnya. Dari pertanyaan-pertanyaan itulah, ia memutuskan untuk tidak larut dalam rindu, melainkan merangkainya menjadi sebuah usaha yang kini menghidupi keluarga.
Dari Rindu yang Bertransformasi Menjadi Kreativitas
Semula, Nurul hanya ingin mengisi hari-hari panjang tanpa suami. Tinggal di lingkungan asri yang dipenuhi pepohonan, ia mulai bereksperimen dengan teknik ecoprint—mencetak motif daun langsung ke kain. Tak butuh waktu lama, hasil karyanya menarik perhatian para tetangga dan sesama istri prajurit TNI AL. Pesanan mulai mengalir, dari kain lembaran hingga pakaian jadi. Kini, usaha batik ecoprint itu bukan lagi sekadar pengisi waktu, melainkan tumpuan ekonomi keluarga saat sang suami berlayar menjaga kedaulatan. “Awalnya cuma coba-coba, lama-lama banjir pesanan. Saya bersyukur bisa membantu suami, beban jadi lebih ringan,” ucapnya lirih, mata berbinar penuh syukur.
Di balik cerita sukses itu, ada lelah yang hanya ia dan ketiga anaknya yang tahu. Nurul harus pandai membelah waktu: pagi menyiapkan sarapan dan mengantar sekolah, siang berkutat dengan daun dan kain sambil menemani anak belajar, malam menyelesaikan jahitan hingga larut. Tak jarang, ia terjaga sendiri di keheningan dini hari, sementara pikiran melayang pada suami yang sedang berjaga di tengah samudra. “Lelah pasti, tapi saya ingin anak-anak melihat bahwa seorang ibu bisa mandiri dan kuat, meski ayah tidak di rumah,” katanya. Setiap pukulan palu ke daun baginya adalah doa yang dihantarkan untuk keselamatan sang suami, sebuah cara untuk tetap terhubung meski terpisah jarak ribuan mil.
Dukungan yang Menguatkan, Kemandirian yang Menginspirasi
Usaha Nurul tidak berjalan sendiri. Ia mendapat dukungan penuh dari Persit Kartika Chandra Kirana, organisasi istri prajurit yang memberinya pelatihan keterampilan dan akses pemasaran. Lewat komunitas itu, ia belajar mengelola bisnis kecil, mulai dari pembukuan hingga strategi menjual daring. “Kami saling menguatkan, berbagi cerita tentang suami yang bertugas, dan bersama-sama membangun usaha,” tuturnya. Kemandirian yang ia tunjukkan kini menjadi contoh nyata bahwa pengorbanan seorang ibu dan istri tidak harus berarti mengorbankan mimpi. Justru di tengah keterpisahan, tersimpan peluang untuk tumbuh dan menemukan versi terbaik diri sendiri.
Nurul berharap, semakin banyak istri prajurit TNI AL yang berani melangkah memulai usaha sendiri, sekecil apa pun itu. Menurutnya, ketika seorang istri mampu mandiri secara ekonomi, ia tidak hanya meringankan beban suami, tetapi juga membangun ketahanan emosional bagi anak-anak. “Anak-anak melihat ibunya sibuk berkarya, mereka jadi lebih tenang dan bangga. Rindu pada ayah tetap ada, tapi kami bisa saling mengisi,” pungkasnya. Di balik setiap helai batik ecoprint yang ia hasilkan, tersimpan kisah tentang cinta, kesetiaan, dan kekuatan yang tumbuh justru saat jarak memisahkan. Inilah potret keluarga prajurit yang sebenarnya: bukan hanya tentang gagahnya seragam, melainkan tentang pelukan jarak jauh yang dirajut menjadi karya.
", "ringkasan_html": "Nurul, istri seorang prajurit TNI AL, mengubah rasa rindu dan kesepian saat suami bertugas di laut menjadi usaha batik ecoprint yang kini menghidupi keluarga. Dengan dukungan dari komunitas Persit, ia membuktikan bahwa kemandirian ekonomi istri prajurit bukan hanya membantu meringankan beban, tetapi juga memperkuat ketahanan emosional anak-anak.
" }Entitas yang disebut
Orang: Nurul
Organisasi: TNI AL, Persit Kartika Chandra Kirana
Lokasi: Surabaya